Koherensi
Sebelumnya, kita sudah membedah kohesi sebagai alat pemadu wacana. Kohesi terbagi menjadi dua kategori, yaitu kohesi leksikal (reiterasi dan kolokasi) serta kohesi gramatikal (referensi, substitusi, elipsis,
Baca SelengkapnyaSebelumnya, kita sudah membedah kohesi sebagai alat pemadu wacana. Kohesi terbagi menjadi dua kategori, yaitu kohesi leksikal (reiterasi dan kolokasi) serta kohesi gramatikal (referensi, substitusi, elipsis,
Baca SelengkapnyaKita telah mengenal salah satu alat kohesi dalam wacana, yakni kohesi gramatikal. Kohesi gramatikal dapat berwujud referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. Pada tulisan ini, saya akan
Baca SelengkapnyaTanggal 1 Februari 2020 menandai lembaran baru dalam prakarsa pemartabatan bahasa. Narabahasa lahir pada hari tersebut. Sebagai penyedia layanan dan produk kebahasaan, Narabahasa hadir dengan visi
Baca SelengkapnyaTabik, Kerabat Nara! Tadi pagi saya membaca twit yang berbunyi, “Rayakan momen Valentinemu dengan memasak pasangan.” Imajinasi liar saya langsung membayangkan Hannibal Lecter sedang memasak Clarice
Baca SelengkapnyaSetiap hari kita bergumul dengan wacana. Menurut Yuwono (2005: 92) wacana adalah bangun yang terbentuk dari hubungan semantis antarsatuan bahasa secara padu dan terikat pada konteks.
Baca SelengkapnyaWacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa yang terbesar dan terikat pada konteks. Mudahnya, setiap tulisan, karangan, atau dokumen utuh yang kita
Baca SelengkapnyaPada tulisan “Analisis Kata ‘Terserah’”, Dessy Irawan sudah mengundang kita untuk mengenal tindak tutur (speech act) dan peristiwa tutur (speech event). Dapat disimpulkan secara ringkas bahwa
Baca SelengkapnyaDalam Kamus Linguistik Edisi Keempat (2009: 198), praanggapan diartikan sebagai ‘syarat yang diperlukan bagi benar-tidaknya suatu kalimat’. Dalam bahasa Inggris, praanggapan disebut presupposition. Menurut Yule
Baca SelengkapnyaBilangnya Begini, Maksudnya Begitu (2016) adalah sebuah buku yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini membuka senarai peranti kebahasaan yang sering digunakan oleh para penyair
Baca SelengkapnyaEko Endarmoko pernah mengulas makna kata menghidu dalam tulisan berjudul “Belantara Makna”. Menghidu memiliki bentuk dasar hidu yang berarti ‘mencium’. Namun, menghidu lebih spesifik merujuk pada
Baca SelengkapnyaKita bisa lihat, lembab dan lembap adalah dua kata dengan akhiran fonem yang berbeda, [b] dan [p]. Dalam ragam tulisan, tentu kita sebaiknya merujuk pada kata
Baca SelengkapnyaSaya rasa sedikit banyak kita menguasai satu atau dua kata bahasa daerah. Meskipun bukan orang Bali, misalnya, saya tahu arti matur suksma. Kendati tidak tumbuh dan
Baca SelengkapnyaTidak ada tulisan dengan kata itu di halaman ini.