Kelas dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai moderator. Sebelum pemaparan materi dimulai, Nazwa memantik peserta dengan bertanya tentang alasan dan harapan mengikuti kelas ini. Sari, salah satu peserta, mengaku bahwa selain ingin mendalami pengetahuannya dalam menyusun produk kehumasan, ia juga ingin bertemu kembali dengan Ivan Lanin setelah empat tahun yang lalu. Menanggapi hal tersebut, Ivan menjelaskan bahwa penyelenggaraan kelas ini berangkat dari kegelisahan atas banyaknya tugas yang ditangani oleh pegawai humas. Oleh sebab itu, Narabahasa ingin memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai beragam bentuk produk kehumasan lengkap dengan teknik penyusunannya.
Selanjutnya, kelas beralih pada agenda utama, yaitu pemaparan materi oleh Ivan. Sesi pemaparan pertama berfokus pada pengenalan berbagai jenis produk kehumasan, mulai dari produk yang bersifat lentur hingga produk yang formal. Pada sesi ini, Ivan mengajak peserta untuk memahami karakteristik dan tujuan komunikasi yang berbeda-beda dari setiap produk sehingga diperlukan penyesuaian terhadap kebutuhan organisasi dan sasaran pembacanya.
Sebelum berlanjut ke sesi pembahasan bahasa kehumasan, moderator memberikan jeda sejenak yang diisi dengan tanya jawab peserta. Salah satu peserta, Fitri Pancawardani yang bekerja sebagai humas di Damkar DKI Jakarta, bertanya tentang strategi agar konten formal yang ia buat tidak terlalu kaku untuk dipublikasikan di media sosial.
“Menyepakati [gaya] dulu dengan pimpinan—bisa membuat proposal terlebih dahulu dengan menjelaskan bahwa narasi yang tertuang dalam situs web dan media sosial berbeda gaya bahasanya. Untuk itu, saya menyarankan untuk membagi rubrik dalam media sosial agar tetap seimbang antara nuansa formal dan santai,” jelas Ivan.
Pembahasan kemudian berlanjut ke sesi pemaparan bahasa kehumasan. Dalam sesi ini, Ivan menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang jelas, efektif, dan sesuai tujuan komunikasi. Pembahasan diawali dengan keterkaitan bahasa dalam satuan bahasa, mulai dari penggunaan ejaan, pemilihan kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Ivan juga menambahkan bahwa di dunia kehumasan, bahasa adalah pilar utama dalam membangun hubungan. “Bahasa dalam kehumasan tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi organisasi untuk menyampaikan citranya kepada publik,” tutur Ivan.
Setelah memahami jenis, karakteristik produk, dan bahasa kehumasan, peserta juga mendapatkan materi teknik penulisan produk kehumasan. Pada sesi terakhir ini, Ivan menjelaskan tahapan menulis dari beberapa produk kehumasan lengkap dengan gaya bahasa yang menjadi ciri-cirinya. Ivan juga menjelaskan cara penceritaan agar produk yang dihasilkan terlihat natural meskipun telah bekerja bersama akal imitasi (AI).
Kelas ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan pengajar yang dipandu oleh moderator. Melalui kelas ini, Narabahasa tidak hanya memperkenalkan beragam produk kehumasan, tetapi juga membekali peserta yang berminat menjadi pegawai humas maupun sudah bekerja sebagai pegawai humas agar terasah dalam memilih, menyusun, dan mengemas informasi secara tepat agar pesan organisasi atau perusahaan dapat tersampaikan secara efektif kepada publik.
Penulis : Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting : Rifka Az-zahra