Merabu Episode Ke-4 digelar oleh Narabahasa dengan mengangkat topik “Belajar Bercanda dengan Serius” yang mengajak Ulwan Fakhri, peneliti di Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) sebagai narasumber. Merabu dilaksanakan pada Rabu, 29 Juli 2026, pukul 19.00 s.d. 20.00 WIB di Omah Martimbang, Jakarta Selatan. Program ini dihadiri oleh 15 peserta yang berdomisili di wilayah Jabodetabek.
Merabu kali ini dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai pembawa acara yang menyambut Ulwan Fakhri dengan meriah. Ulwan memulai kegiatan dengan sesi diskusi yang menggunakan satu pertanyaan pemantik, yaitu “Humor dengan komedi, sama atau beda, sih?” Berangkat dari pertanyaan itu, Ulwan menjelaskan bahwa manusia secara alamiah memiliki hasrat untuk mencari kesenangan. Untuk itu, konsep humor dan komedi hadir pada dimensi yang dibedakan melalui sifat dan bentuk penyajiannya.
Selanjutnya, Ulwan mengajak peserta untuk memahami tiga teknik paling sederhana untuk menciptakan naskah komedi. Tiga teknik tersebut diberi nama “3 Teknik yang Ga Bikin Puyeng” dan meliputi semantik unik, salah fokus, dan P.P.T. mashup. Kemudian, tanpa berbasa-basi, Ulwan langsung mengajak peserta untuk mempraktikkan tiga teknik tersebut melalui tiga sesi.
Pada sesi pertama, peserta diminta untuk membuat medan makna berbentuk peta pikiran dari satu kata unik yang terpikirkan. Dari medan makna yang sudah terhimpun lalu diambil beberapa kata yang bisa dinegasikan dengan tujuan untuk memunculkan unsur humor dari lawan maknanya. Pada sesi kedua, Ulwan meminta peserta untuk menuliskan momen penting dan momen remeh. Kemudian, peserta menceritakan relevansi dari kedua momen yang berlawanan tersebut sehingga menghasilkan naskah komedi. Pada sesi ketiga, Ulwan membocorkan rumus tiga kata untuk membuat naskah komedi secara cepat.
Bertemakan “Kisah Komedi”, Merabu kali ini berlangsung menyenangkan. “Kelas kali ini seru banget. Aku jadi tahu ternyata ada teknik cepat lewat rumus yang kedua, yaitu dengan menghubungkan momen penting dan remeh dalam membuat naskah komedi,” ujar Abi, salah satu peserta yang berasal dari Media Tempo. Abi juga memberikan masukan agar kelas ini bisa diadakan kembali dengan format baru yang lebih panjang durasinya.
Terakhir, Ulwan mengatakan bahwa mencari unsur humor tidak harus dengan menjadi seorang komedian profesional, sebab genre hidup setiap orang adalah komedi. Merabu pekan ini ditutup dengan satu kalimat pamungkas dari Ulwan bahwa menurutnya semua orang bisa menjadi humoris, bahkan menjadi komedian dadakan, asal mau mikir karena humor muncul dari ketidaklogisan.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra