Berita

Mengasah Keterampilan Penerjemahan melalui Kelas Penerjemahan Dasar Narabahasa

ditulis oleh Narabahasa

Mengasah Keterampilan Penerjemahan melalui Kelas Penerjemahan Dasar Narabahasa
Narabahasa kembali melaksanakan Kelas Daring Publik (KDP) pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 09.00 s.d. 10.00 WIB melalui Zoom yang diikuti oleh 23 peserta. Kegiatan ini merupakan gelaran KDP ketujuh dari Narabahasa yang menggandeng Haru Deliana Dewi sebagai widyaiswara dengan topik “Penerjemahan Dasar”. Peserta yang mengikuti kelas ini tidak hanya mendapatkan pelatihan bagaimana menerjemahkan naskah, tetapi juga memperoleh akses rekaman kelas, salinan bahan ajar, dan tentunya sertifikat digital. Kelas dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai moderator dengan memantik narasumber melalui pertanyaan mengenai pentingnya keterampilan penerjemahan. Haru menjelaskan bahwa proses penerjemahan justru akan memperluas perspektif, mendorong pola pikir kreatif, dan meningkatkan keterbukaan diri terhadap informasi baru. Haru juga menekankan bahwa keterampilan penerjemahan juga perlu dimiliki bagi mereka yang tidak berencana menjadi penerjemah profesional. Kelas ini berjalan cukup santai dengan menyajikan diskusi mendalam mengenai peran penting keterampilan penerjemahan pada era digital saat ini. Diskusi antara peserta dan narasumber berlangsung interaktif. Hal ini terlihat dari cara pemaparan materi narasumber yang tidak satu arah, tetapi mengajak keterlibatan aktif peserta. Beberapa peserta secara bergiliran diberi kesempatan untuk membacakan contoh materi penerjemahan sekaligus diminta menyampaikan tanggapannya sehingga tercipta komunikasi dua arah yang menarik. Dalam muatan materi, Haru tidak hanya membekali para peserta dengan peran penting penerjemah, tetapi juga memberikan pemahaman seputar alur penerjemahan yang dibagi menjadi tiga tahap. Alur penerjemahan tersebut dimulai dari tahapan analisis teks sumber ( analyzing ), pengalihan makna ( transferring ), dan restrukturisasi bentuk ke dalam bahasa sasaran ( restructuring ). Selain itu, Haru juga menekankan bahwa konteks budaya akan memengaruhi kesepadanan makna dalam proses penerjemahan. Kelas lebih ramai ketika memasuki sesi diskusi karena banyak peserta yang berbagi pengalamannya selama menerjemahkan. Hal ini menyebabkan durasi kelas sempat melampaui jadwal sekitar 15 menit dari yang direncanakan karena tingginya antusiasme tanya jawab. Seluruh rangkaian kelas berlangsung lancar dan ditutup oleh moderator melalui sesi dokumentasi dan foto bersama. Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti Penyunting: Rifka Az-zahra