Berita

Kinara Episode Ke-70: Menulis untuk Membersamai dan Memulihkan

ditulis oleh Narabahasa

Narabahasa kembali mengadakan Kinara (Kicauan Narabahasa) pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Spaces X. Pada episode ke-70 ini, Narabahasa berkesempatan untuk menghadirkan Agnes Sirait sebagai narasumber untuk membahas karya pertamanya, yaitu novel Makan Malam Penunda Tragedi. Kegiatan tersebut dipandu oleh Tuah Ananda Setiawan sebagai moderator.

Diskusi diawali dengan penjelasan Agnes tentang alasan dari awaldimulainya penulisan buku tersebut. Ia menceritakan bahwa ide untuk Makan Malam Penunda Tragedi berasal dari pengalamannya ketika menonton siaran televisi yang membahas perihal kebiasaan seseorang untuk makan ketika sedang bersedih. “Pengalaman serupa dari masa kecil membuat saya mautertarik untuk menulis dan menceritakan isu itu,” ujarnya.

Buku yang menjadi karya pertama dari penulis yang berfokus pada isu perempuan ituini diselesaikan dalam waktu 2,5 tahun darisejak awal idenya terpikirkan. “Musuh utamanya adalah ingatan pribadi. Ketika menulis berdasarkan pengalaman maka, rentan beberapa bagian yang sudahrentan terlupakan. Di sisi lain, upaya untuk menggali kembali ingatan yang tidak menyenangkan bukanlah hal yang mudah,” jelasnya.

Ketika menulis karya pertamanya, Agnes tidak jarang meminta bantuan kepada teman-teman dekatnya untuk mengulas dan memberinya masukan untuk memastikan bahwa tulisannya sudah memiliki nilai emosional yang baik. “Sebelum saya kirimkan ke penerbit, saya mengirim cerita itu kepada teman-teman dekat terlebih dulu. Karena, terkadang saya sudah merasa cukup, tetapi untuk memastikan, saya  meminta mereka untuk mengulas tulisan tersebut,” ungkapnya.

Selain pada isu-isu perempuan, Agnes juga menitikberatkan tulisannya pada isu-isu dekat lainnyalain yang dekat dengan keseharian, seperti pemulihan diri dan pengalaman merantau. “Saya ingin membersamai perempuan yang berada di keadaan yang sama., Kketika mereka merasa dibenci dan membenci diri sendiri karena keadaan fisiknya. LaluJuga, tTeman-tTeman perantau yang berada dimengalami dilema yang sama antara harus pulang atau tidak. Jadi, fokusnya adalah untuk bisa membersamai sehingga saya jadi berani untuk menerbitkan ceritanya" ini,” tuturnya.

Agnes memilih mengangkat isu tersebut melalui tulisan bukan tanpa sebab. Menurutnya, menulis dapat menjadi pelepas stres. “Efeknya seperti curhat. Kita dapat menyampaikan sesuatu tentang perasaan kita, bisa bikin hati lebih tenang. Perlahan tapi pasti, menulis dapat ‘menyelamatkan’ diri kita’ ketika kita mulai melihat peristiwa dari sudut pandang yang lain,” ucapnya.

Terakhir, Agnes juga tidak lupa untuk menyarankan Kerabat Nara untuk mulai berani menuliskan pengalamannya. Menurutnya, keraguan dan ketakutan yang dirasakan adalah wajar, —Agnes pun merasakannya. “Buat tTeman-tTeman yang masih ragu untuk menulis dan menceritakan pengalamannya, percayalah, aku juga merasakan itu. Terkadang, ada rasa takut ketika pengalaman kita diketahui orang lain,. tetapiWalau begitu, mari menjadi berani dan lebih memikirkan kalau kita mau hidup untuk diri sendiri.," tutupnya.

Narabahasa berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan Kerabat Nara mengenai proses kreatif dalam menulis karya sastra yang dekat dengan pengalaman personal. Diskusi ini juga diharapkan mampu menjadi motivasi bagi peserta untuk lebih berani menuangkan cerita dan keresahannya melalui tulisan. 

Penulis: Tuah Ananda Setiawan

Penyunting: Rifka Az-zahra