Program rutin Kicauan Narabahasa (Kinara) Episode Ke-73 kembali digelar oleh Narabahasa yang dipandu oleh Muhammad Rauf sebagai moderator pada Sabtu, 24 Juli 2026, pukul 19.00 s.d. 20.00 WIB di Spaces X. Pada episode ini, Narabahasa mengajak Arie Saptaji, penulis novel Alok, untuk berdiskusi tentang proses kreatifnya ketika melahirkan novel tersebut. Karya yang dibahas dalam episode kali ini dirilis pada 2025 oleh penerbit Post dan masuk dalam daftar pendek penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.
Diskusi dibuka dengan pertanyaan pemantik dari Rauf yang menyoroti latar belakang ide yang mendorong Arie menulis Alok. Dalam diskusi ini, Arie mengungkap bahwa gagasan utama Alok didasari oleh imajinasinya yang memusatkan makna kehilangan seorang kakak akibat tragedi di Laut Selatan. “Saya memadukan ide kehilangan tersebut dengan unsur duka personal dan sosial, budaya Jawa, juga dunia supranatural sehingga alurnya sedikit terbalut dengan horor psikologis,” jelas Arie.
Selanjutnya, Rauf tertarik dengan proses di balik gaya penceritaan novel ini yang menggunakan kalimat-kalimat pendek, tetapi mampu membangun imaji yang kuat bagi pembaca. Menariknya, Arie menuturkan bahwa ketika menulis Alok ia mencoba gaya penulisan baru dengan menyusun variasi kalimat yang ringkas, tetapi berusaha mempertahankan simbol yang diulang-ulang pada setiap bab hingga akhir. Arie juga menambahkan bahwa ia menerapkan teknik show, don’t tell sehingga pembaca akan sibuk berimajinasi dibandingkan mengeluarkan banyak energi ketika membaca narasi yang panjang.
Arie yang juga seorang penulis lepas membagikan strategi menjaga konsistensi alur cerita dengan membuat peta cerita dari awal hingga akhir, lalu menuliskannya secara mengalir hingga utuh, setelah itu baru memetakannya ke dalam urutan bab. Selain itu, Arie juga bercerita bahwa Alok ditulis hanya dalam waktu dua bulan. Namun, naskahnya sempat terkubur selama tiga tahun dan baru terbit pada Juli tahun lalu melalui sejumlah masukan dari berbagai pihak untuk mempertajam cerita, mulai dari simbol warna hingga muatan budaya Jawa.
Selama proses editorial, Arie juga mengungkap bahwa kesulitan terbesar dalam menulis novel ini terletak pada penggambaran pertemuan tokoh dengan dunia gaib. “Kesulitannya adalah ketika menulis sesuatu yang belum pernah kita alami. Untuk itu, saat menulis Alok saya hanya memanfaatkan imajinasi dan memperkaya referensi saja,” pungkasnya.
Menutup sesi diskusi, Arie juga memberikan pesan kepada peserta yang ingin mulai menulis. Menurutnya, afirmasi sederhana berbentuk pujian atas karya kita dari siapa pun akan membawa kita pada diri kita yang sekarang. Untuk itu, Arie percaya bahwa motivasi terbesar untuk menulis sering kali lahir dari hal-hal yang paling sederhana, terlepas dari kebiasaan membaca buku.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra