> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Wkwk: Onomatope atau Bukan?
- URL: https://coba.narabahasa.id/wkwk-onomatope-atau-bukan/
- Published: 2021-01-20T11:00:08.000Z
- Updated: 2021-01-20T11:00:08.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Kata, onomatope, wkwk, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Saat mengobrol lewat media sosial, *wkwk* sering kali digunakan untuk menggantikan *haha.* Tentu kita tahu bahwa keduanya menandakan seseorang yang sedang tertawa. Uniknya, dalam bahasa lisan, saya tidak pernah mendengar orang tertawa dengan *wkwk.* Lalu, mengapa *wkwk* bisa dihubungkan dengan tertawa? Bagaimana proses terciptanya *wkwk*? 

Saya lalu menemukan cerita yang menarik dari Dio Wijayanto Nugroho. Di Quora, dia menjawab pertanyaan “[Why do Indonesians use ‘wkwkwk’ for ‘hahaha’?](https://www.quora.com/Why-do-Indonesians-use-wkwkwk-for-hahaha?ref=coba.narabahasa.id)”

Dio merupakan seorang pemain gim daring pada komputer. Ragnarok, Gunbound, dan Dota adalah tiga contoh gim yang dia mainkan. Ketika para pemain gim sedang berbincang-bincang dalam kolom obrolan, pronomina persona pertama yang sering digunakan adalah *gua*. Lama-kelamaan, *gua* beralih menjadi *gw*. Dugaan Dio, hal ini terjadi lantaran *gw* dapat diketik dengan waktu yang lebih cepat serta tenaga yang lebih sedikit daripada *gua*. 

Selain itu, ekspresi tertawa *hahaha* pun mengalami peralihan menjadi *huahuahua* atau *huehuehue*. Dio menuliskan bahwa *hahaha* memiliki kesan yang terlalu formal dalam komunitas gim. Kemudian, *huahuahua* dan *huehuehue* itu berganti lagi menjadi *hwhwhw*. Dengan tangan kanan yang harus siap memijat tetikus, *hwhwhw* yang hanya terdiri atas dua tombol terasa lebih efektif untuk dipencet. Selanjutnya, dengan pertimbangan bahwa huruf *k* memiliki letak yang lebih menjorok ke kanan di papan ketik dan lebih dekat dengan tangan kanan, *hwhwhw* disulap menjadi *kwkwkwk*. 

Pendapat lain datang dari Johannes Sulistyo. Menurutnya, *wkwkwk* merupakan penyederhanaan bentuk *wakakakak* yang diambil dari kata *ngakak*.

Jawaban Dio dan Johannes membuat saya teringat akan maraknya gim daring di komputer pada waktu itu. Pada 2006—2010, saya pun seorang pemain gim daring. Saya rela menyisihkan uang jajan untuk main gim di warnet. Memang, *wkwk* sering sekali digunakan oleh para pemain gim. Saya rasa, *wkwk* memiliki kesan “mengejek” dan cocok dipakai untuk mengolok-olok lawan yang kalah. Lebih dari itu, berdasarkan pengamatan saya, *wkwk* pun tumbuh subur di kalangan Agan dan Aganwati Kaskuser.

Kini, *wkwk* tidak hanya kita temukan di dalam komunitas gim atau forum Kaskus. Selain digunakan pada percakapan di ruang virtual, *wkwk* pun sering kali menyertai takarir-takarir kita. 

Bagi saya, *wkwk* merupakan fenomena kebahasaan yang menarik untuk diteliti. Ada satu gejala bahasa yang disebut onomatope, yakni peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan itu ([Kridalaksana](https://coba.narabahasa.id/harimurti-kridalaksana-tentang-kelahiran-dan-penerimaan-bahasa-indonesia/), 2008: 167). Dalam bahasa Indonesia, contoh onomatope adalah *kukuruyuk* yang berasosiasi dengan bunyi ayam, *gedebuk* dan *gubrak* sebagai tiruan bunyi sesuatu yang jatuh*, om telolet om--*yang sempat viral itu--sebagai mimikri bunyi klakson bus, dan sebagainya. Apakah *wkwk* merupakan onomatope?

Berdasarkan pengertian dan contoh-contoh di atas, tentu ada kebimbangan untuk menggolongkan *wkwk* sebagai bentuk onomatope. ‘Kan, kita tidak pernah mendengar seseorang tertawa dengan *wkwk* secara langsung? Hingga hari ini, pada umumnya kita tertawa dengan natural lewat *haha* atau *hehe*. Oleh karena itu, rasanya tidak seratus persen sahih apabila kita mengatakan bahwa *wkwk* adalah onomatope. Namun, di lain sisi, kita tahu kalau kata tersebut berasosiasi dengan verba *tertawa*.

Nah, menurut Kerabat Nara, bagaimana? Apakah *wkwk* adalah onomatope? 

**Rujukan**: 

- Kridalaksana, Harimurti. 2008\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat.* Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Quora. “[Why do Indonesians use ‘wkwkwk’ for ‘hahaha’](https://www.quora.com/Why-do-Indonesians-use-wkwkwk-for-hahaha?ref=coba.narabahasa.id)?”. Diakses pada 30 Desember 2020.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin