> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Vaksin dan Vaksinasi
- URL: https://coba.narabahasa.id/vaksin-dan-vaksinasi/
- Published: 2021-01-19T11:00:52.000Z
- Updated: 2021-01-19T11:00:52.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Morfologi, afiksasi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Dalam bahasa Indonesia, afiksasi memiliki peran yang dominan untuk membentuk kata. Seorang penerjemah, Bambang Sugeng, menuliskan pada artikel yang berjudul “[Penggunaan Kata Benda sebagai Kata Kerja](https://majalah.tempo.co/read/bahasa/159262/penggunaan-kata-benda-sebagai-kata-kerja?ref=coba.narabahasa.id)” bahwa pembentukan verba melalui kata benda (nomina) sangat elastis untuk diterapkan dalam bahasa Indonesia. Sebutlah *bersepatu*, *menyapu*, dan *terdakwa*. Akar dari tiga kata tersebut adalah *sepatu, sapu,* dan *dakwa* yang merupakan nomina. Namun, ketika kita menambahkan imbuhan, ketiganya menjadi verba.

Pembentukan verba melalui kata nomina juga bisa kita temui akhir-akhir ini. Kita tahu bahwa Presiden Joko Widodo baru saja menerima vaksinasi Covid-19\. Di Twitter, saya lihat netizen tengah ramai membicarakannya. Sudah pasti, media massa juga mengangkat hal ini sebagai berita hangat. Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana kata *vaksin* bisa diturunkan menjadi *memvaksin, memvaksinasi; divaksin, divaksinasi;* dan *tervaksin,* *tervaksinasi*?

Sebelum masuk ke dalam proses pembentukan kata, ada baiknya kita mengenal makna leksikal *vaksin* dan *vaksinasi*. Dalam KBBI V, lema *vaksin* diartikan sebagai bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi. Sementara itu, *vaksinasi* adalah penanaman bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Keduanya berdiri sebagai nomina.

**Memvaksin, Divaksin**

Nomina *vaksin* yang mengalami prefiksasi *me-* akan membentuk verba, yakni *memvaksin*. Pembentukan kata kerja dengan mengandalkan akar nomina ini disebut pembentukan derivatif atau denominalisasi verba yang menghasilkan verba derivatif atau verba denominal. Lebih dari itu, Kridalaksana dalam *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia* (1989) menuliskan bahwa pembentukan verba derivatif melalui *me-* \+ nomina dapat mengartikan ‘memberi’. Berarti, *memvaksin* memiliki makna ‘memberi vaksin’ atau ‘memberikan vaksin’.

Lalu, bagaimana *memvaksin* berubah menjadi *divaksin*? Ingat, tidak semua bentuk aktif dapat dibuat menjadi pasif. Hanya verba transitif yang memiliki bentuk pasif. Dengan mengingat *memvaksin* adalah verba transitif aktif, ia dapat diubah menjadi bentuk *divaksin* yang memiliki makna ‘diberi’ atau ‘diberikan vaksin’. 

Contoh verba aktif yang tidak dapat diubah ke dalam bentuk pasif adalah kata kerja intransitif, seperti *melaut*, *membatu*, dan *meraja*. Ketiganya juga merupakan verba derivatif yang berasal dari nomina (*laut*, *batu*, dan *raja*) dan bisa mengalami prefiksasi *me-*. Namun, kata-kata tersebut tidak bisa berubah pasif menjadi *dilaut*, *dibatu*, dan *diraja*.

**Memvaksinasi, Divaksinasi**

Seperti yang telah saya tuliskan di atas, *vaksin* dan *vaksinasi* memiliki makna yang berbeda. *Vaksinasi* berfokus pada proses penanaman vaksin. Maka, prefiksasi *me-* dan *di-* terhadap *vaksinasi* akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Salah satu makna lainnya yang dapat dihasilkan dari *me-* \+ nomina adalah makna ‘melakukan’. Perhatikan perbedaan pada dua contoh berikut. Contoh 

pertama 

menggunakan bentuk dasar *vaksin*, sedangkan contoh 

kedua 

menggunakan bentuk dasar *vaksinasi*.

1. 1. a. Dokter sudah *memvaksin* saya.

b. Saya sudah *divaksin* oleh dokter.

 2\. a. Dokter sudah *memvaksinasi* saya.

b. Saya sudah *divaksinasi* oleh dokter.

Kalimat 1a memiliki makna bahwa dokter sudah memberikan vaksin (bibit penyakit yang sudah dilemahkan) kepada sang saya dan kalimat 1b memiliki makna bahwa sang saya sudah diberikan vaksin oleh dokter. Sementara itu, kalimat 2a bermakna bahwa dokter sudah melakukan vaksinasi atau penanaman bibit penyakit yang sudah dilemahkan kepada saya dan kalimat 2b bermakna bahwa sang saya sudah ditanamkan bibit penyakit oleh dokter.

**Tervaksin, Tervaksinasi**

[Moeliono](https://coba.narabahasa.id/anton-moeliono-dan-semangat-dalam-berbahasa-indonesia/) dkk. dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia* (2017) menuliskan bahwa prefiks *ter-* memiliki hubungan yang erat dengan prefiks *di-*. Prefiks *ter-* dapat menambahkan makna aspektualitas perfektif terhadap kata yang sudah mengalami prefiksasi *di-*. Dapat dikatakan, salah satu fungsi awalan *ter-* adalah penambahan ‘makna yang sudah *di-*’*.* 

1. Saya *tervaksin*.
2. Saya *tervaksinasi*.

Kalimat pertama mengartikan bahwa sang saya sudah diberikan vaksin, sedangkan kalimat kedua mengartikan bahwa sang saya sudah divaksinasi.

**Rujukan**:

- Kridalaksana, Harimurti. 1989\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.* Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- Sugeng, Bambang. 2019\. “[Penggunaan Kata Benda sebagai Kata Kerja](https://majalah.tempo.co/read/bahasa/159262/penggunaan-kata-benda-sebagai-kata-kerja?ref=coba.narabahasa.id)”. *Majalah Tempo*, Desember, Jakarta.
- Vaksin. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil 14 Januari 2021, dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/vaksin](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/vaksin?ref=coba.narabahasa.id).
- Vaksinasi. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil 14 Januari 2021, dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/vaksinasi](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/vaksinasi?ref=coba.narabahasa.id).

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin