> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Tiga Macam Artikula
- URL: https://coba.narabahasa.id/tiga-macam-artikula/
- Published: 2021-06-01T11:00:00.000Z
- Updated: 2021-06-01T11:00:00.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, artikula, sang, si, #katatugas, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Barangkali kita sudah sering menggunakan atau mendengar kata *si* dan *sang*. “Si kancil anak nakal/ Suka mencuri timun/ Ayo lekas dikurung/ Jangan diberi ampun” adalah salah satu lirik lagu yang menggunakan kata *si*. Ada juga lagu yang menggunakan *sang* di dalam lirik lagu, seperti “Sang Bango” gubahan Benyamin Sueb.

*Si* dan *sang* tergolong ke dalam kata tugas artikula. Sebagai pembatas nomina, artikula berdasarkan sifatnya digolongkan lagi menjadi tiga macam, yaitu artikula yang bersifat gelar, yang mengacu pada makna kelompok, dan yang menominalkan.

**Artikula yang Bersifat Gelar**

Artikula ini menandakan seseorang atau hal yang memiliki martabat. Empat contoh artikula yang dapat mencirikan gelar adalah *sang*, *sri*, *hang*, dan *dang*. 

Kata *sang* umum digunakan untuk meninggikan martabat manusia atau benda unik. Lebih dari itu, seperti dalam lirik “Sang Bango”, *sang* juga dapat dimanfaatkan untuk bergurau dan menyindir. Terlebih, Kridalaksana dkk. mengutarakan bahwa *sang* dapat menandakan personifikasi, seperti *sang merah putih* dan *sang saka*. 

Sementara itu, kata *sri* menunjukkan gelar orang yang bermartabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan. Contohnya adalah *Sri Baginda* dan *Sri Ratu*. Kemudian dalam sastra lama, kata *hang* dan *dang* sering digunakan untuk menandakan laki-laki serta perempuan yang terhormat.

**Artikula yang Memaknai Kelompok**

Artikula yang mencerminkan makna kelompok adalah *para*. Oleh karena kata itu sudah menegaskan makna kolektif, nomina yang mengiringinya tidak perlu mengalami pengulangan. Contohnya adalah *para guru*, bukan *para guru-guru*.

Perlu diingat, berdasarkan pemaparan Moeliono dkk. dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat* (2017), *umat* dan *kaum* bukanlah artikula, melainkan nomina. Namun, pendapat lain dikemukakan oleh Kridalaksana dkk. dalam *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis* (1985). Menurut mereka, *umat* dan *kaum* termasuk ke dalam artikula. 

**Artikula yang Menominalkan**

Artikula *si*, selain berfungsi sebagai penanda gelar, dapat pula berdiri sebagai pembentuk nomina, seperti *si miskin* atau *si terdakwa*. Lebih dari itu, *yang* pun dapat berposisi sebagai artikula yang menominalkan suatu unsur. Contohnya adalah *yang terhormat*, *yang ini*, dan *yang berkepentingan*.

Rujukan:

- Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985\. *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis.* Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin