> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Tentang Prakategorial
- URL: https://coba.narabahasa.id/tentang-prakategorial/
- Published: 2021-03-22T11:00:33.000Z
- Updated: 2021-03-22T11:00:33.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Morfologi, imbuhan, Klitik, morfem, prakategorial, proleksem, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Ketika mencari arti kata *juang* dalam KBBI V, kita akan disarankan untuk mencari *berjuang*, *dijuang*, *keberjuangan*, *kepejuangan*, *memperjuangkan*, *pejuang*, dan *perjuangan*. Tujuh kata tersebut tergolong ke dalam kata turunan atau merupakan hasil afiksasi dari bentuk dasar *juang*. Mengapa demikian? Untuk dapat menjawabnya, kita perlu membuka buku-buku morfologi dan mendalami perkara morfem.

Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna. Ada morfem bebas, yakni morfem yang dapat berdiri sendiri dan dapat digunakan dalam ujaran tanpa harus berdampingan dengan bentuk lain. Contohnya adalah *pulang* dan *pergi*. Sementara itu, ada pula morfem terikat, yakni morfem yang harus bergabung dengan bentuk lain untuk dapat digunakan dalam pertuturan. Contoh paling mudah untuk menggambarkan morfem terikat adalah afiks. *Ber-*, *me-*, dan *pe--an*, misalnya. Ketiga afiks tersebut harus menempel pada bentuk dasar untuk membentuk makna tertentu. 

Di luar itu, ternyata, morfem terikat juga berwujud dalam morfem dasar, seperti *juang*. Jika diingat-ingat, saya sendiri tidak pernah menggunakan bentuk dasar *juang* dalam ujaran. Morfem tersebut harus mengalami afiksasi sehingga membuahkan *perjuangan* atau *berjuang*. *Juang* juga dapat digunakan ketika ia berdampingan dengan morfem lain, seperti *daya*, sehingga membentuk *daya juang*. Oleh karena itu, dengan mengetahui bahwa bentuk dasar ini baru memiliki kelas kata dan arti jika ia mendapatkan imbuhan atau berdampingan dengan bentuk lain, *juang* tergolong ke dalam morfem dasar terikat atau prakategorial. 

Afiksasi pada morfem terikat pun kita temui pula pada kata *baur* dan *henti*. Kita cenderung menggunakan *membaur*, *berhenti*, *terhenti*, atau *menghentikan*. Di dalam kamus, *baur* dan *henti* memang tidak memiliki ciri prakategorial. Namun, saya rasa keduanya tetap tergolong ke dalam prakategorial karena ketika ingin menggunakan mereka, saya harus membubuhkan imbuhan.

Selain itu, bentuk seperti *pra-*, *pasca-*, dan *catur-* juga tergolong ke dalam morfem terikat. Bentuk-bentuk yang oleh Kridalaksana (2010) disebut dengan *proleksem* itu tidak dapat digolongkan sebagai afiks. Proleksem memiliki makna leksikal, sedangkan afiks memiliki makna gramatikal.

Berarti sekarang kita telah mengetahui bahwa imbuhan, proleksem, dan beberapa bentuk dasar tergolong ke dalam morfem terikat. Lalu, bagaimana dengan klitik? Apakah klitik, seperti *ku-*, *\-ku*, atau *\-mu*, termasuk ke dalam morfem terikat?

Dalam *Linguistik Umum* (2007) dan *Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses)* (2008), Chaer mengemukakan bahwa klitik adalah morfem dengan status yang sukar untuk ditentukan. Pada satu sisi, klitik memang bentuk terikat. Namun, secara makna, klitik juga dapat dipisahkan. Contohnya adalah *perjuangan*mu** dan *perjuangan *kamu**. Agaknya, klitik memiliki status ganda, bergantung pada pemakaiannya.

**Rujukan**:

- Chaer, Abdul. 2007\. *Linguistik Umum.* Jakarta: Rineka Cipta
- \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_. 2008\. *Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses)*. Jakarta: Rineka Cipta.
- Kridalaksana, Harimurti. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Juang. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil pada 18 Maret 2021, dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/juang](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/juang?ref=coba.narabahasa.id).

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin