> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Telah dan Sudah
- URL: https://coba.narabahasa.id/telah-dan-sudah/
- Published: 2022-01-09T11:00:35.000Z
- Updated: 2022-01-09T11:00:35.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Linguistik Umum, sudah, telah, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Dalam kamus, *telah* berarti ‘sudah’. Sebaliknya, salah satu makna dalam lema *sudah* adalah ‘telah’. Betulkah *telah* dan *sudah* memiliki relasi sinonimi?

Mari kita cari tahu jawabannya dengan sebuah contoh. Suatu hari, saya melembur di kantor. Sekitar pukul sebelas malam, saya baru sampai di rumah. Kakak saya membukakan pintu dan saya langsung mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, kakak saya bertanya, “Mau makan?” Saya menjawab, “*Enggak*, tadi sudah.” Sepertinya terdengar aneh jika kata *sudah* dalam kalimat tersebut saya ubah menjadi *telah*.

Dalam *Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2* (2007), dijelaskan bahwa *telah* lebih berfokus pada sebuah peristiwa yang baru saja terjadi. Sementara itu, *sudah* merujuk pada peristiwa yang terjadi pada masa yang lebih lampau. Contohnya begini, Kerabat Nara mungkin pernah mendengar pemberitaan mengenai meninggalnya seseorang. Yang lazim digunakan adalah **Telah* meninggal Bapak A pada pukul …*, bukan **Sudah* meninggal Bapak A pada pukul* …. Namun, jika seseorang bertanya pada kemudian hari *Bapak A sehat?*, kita akan menjawab *Beliau* **sudah* meninggal*.

Selain itu, kata *telah* tidak dapat mendapatkan imbuhan. Kita tidak pernah mendengar bentuk *telahkah* dan *telahi*. Sebaliknya, bentuk *sudahkah* dan *sudahi* cukup sering kita temui.

Kemudian, perlu kita ingat juga bahwa kata *sudah* dapat digunakan dalam konteks berikut.

1. *Sudah*! Cukup. Jangan banyak bicara!
2. Satu gol saja *sudah* bagus!
3. Ya *sudah*, mau bagaimana lagi?

Tiga contoh tersebut akan terasa janggal apabila kata *sudah* diganti dengan *telah*.

#telah #sudah

**Rujukan:**

- Grangé, Philippe. 2010\. “Aspect and modality in Indonesian”. Dalam Jurnal *Wacana*, Volume 12, Nomor 2, Oktober, hlm. 243—268\. Depok: Universitas Indonesia.
- Sugono, Dendy. (ed). 2007\. *Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2*. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin