> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Talam Dua Muka: Pertindihan Kelas Kata
- URL: https://coba.narabahasa.id/talam-dua-muka-pertindihan-kelas-kata/
- Published: 2021-11-19T11:00:11.000Z
- Updated: 2021-11-19T11:00:11.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Linguistik Umum, kelas kata, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Berdasarkan *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia* (2017), bahasa Indonesia memiliki empat kelas kata utama, yakni verba, nomina, adjektiva, dan adverbia. Di luar itu, ada pula kategori kata tugas yang mencakup preposisi, konjungsi, artikula, dan partikel penegas. Bahkan, dalam kategori yang terakhir ini, Harimurti Kridalaksana turut menyertakan subkategori fatis dan interjeksi.

Terkadang, kita menemukan sebuah kata yang dapat menduduki lebih dari satu kategori. Dalam tulisan "'[Mengecewakan': Verba dan Adjektiva](https://narabahasa.id/linguistik-umum/morfologi/mengecewakan-verba-dan-adjektiva?ref=coba.narabahasa.id)", misalnya, saya menemukan bahwa kata *mengecewakan* bisa berdiri sebagai kata kerja dan kata sifat. Perhatikan contoh berikut.

1. Penampilanmu *mengecewakan* saya.
2. Penampilanmu *mengecewakan*.

Pada kalimat pertama, kata *mengecewakan* berdiri sebagai [verba transitif](https://narabahasa.id/linguistik-umum/sintaksis/verba-transitif?ref=coba.narabahasa.id). Kata *saya* adalah objeknya. Sementara itu, pada kalimat kedua, *mengecewakan* berposisi sebagai adjektiva.

Contoh menarik lainnya dipaparkan oleh Kridalaksana (1985) dalam *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis*. Simak contoh di bawah ini.

1. Sapi saya *mati* kemarin.
2. *Mati* itu bukan akhir segalanya.
3. Ini harga *mati*.
4. Banyak *barang* diturunkan di pelabuhan.
5. Berikan aku *barang* sepuluh rupiah.

Contoh nomor satu sampai tiga menunjukkan bahwa kata *mati* dapat menempati tiga kelas kata. Pada contoh satu, *mati* merupakan [verba intransitif](https://narabahasa.id/linguistik-umum/sintaksis/verba-semitransitif-dan-taktransitif?ref=coba.narabahasa.id). Kemudian, pada contoh dua, kata tersebut berposisi sebagai nomina. Lalu, pada contoh terakhir, *mati* berperan sebagai adjektiva. Lebih lanjut, contoh nomor empat dan lima mencerminkan *barang* sebagai nomina dan *barang* sebagai adverbia yang mengartikan ‘sedikit banyak; sekadar; dan kira-kira’.

Fenomena ini wajar terjadi dalam sebuah bahasa. Sebuah kata dapat mengalami perubahan kelas kata tanpa bersulih bentuk melalui proses [transposisi](https://narabahasa.id/linguistik-umum/morfologi/kamu-terlalu-baik-untukku?ref=coba.narabahasa.id). Menurut Kridalaksana, transposisi dapat terjadi sebab belum ada batasan yang sempurna antarkelas kata. Setiap kelas kata memang memiliki fungsi masing-masing. Namun, dalam konteks tertentu, saya kira makna gramatikal sebuah kalimat juga memicu terjadinya transposisi ini.

#kelaskata

**Rujukan:** 

- Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985\. *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis.* Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin