> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# SJW itu Diperlukan!
- URL: https://coba.narabahasa.id/sjw-itu-diperlukan/
- Published: 2021-08-21T11:00:55.000Z
- Updated: 2021-08-21T11:00:55.000Z
- Author: Harrits Rizqi Budiman
- Tags: keterampilan bahasa, kiat, Menulis, menyunting, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Pada ranah media sosial, terutama di Twitter, kita akrab dengan SJW atau *social justice warrior* (pejuang keadilan sosial), sebuah istilah yang disematkan bagi seorang pembela hak atau penyuara isu tertentu, seperti kesetaraan gender dan keberagaman masyarakat. Akan tetapi, sebutan itu perlahan mengalami perubahan makna ke arah negatif. Sebabnya adalah para SJW sering dianggap melewati batas. Mereka kerap memperdebatkan hal yang telah menjadi kebiasaan umum. Perdebatan itu tampaknya membuat sebagian orang merasa tidak nyaman sehingga, alih-alih turut terjun untuk berargumentasi, mereka mengecap para SJW sebagai “polisi moral”.

Kita dapat setuju atau tidak, baik dengan tindakan SJW maupun pengecapan oleh penentangnya itu. Namun, untuk yang satu ini, saya pikir kita boleh bersepakat: Kita berseia sekata bahwa SJW itu diperlukan dalam penulisan atau penyuntingan. Catatannya, SJW yang ini bukan berwujud orang, melainkan sikap. Apa saja atau bagaimanakah itu? Mari kita mulai.

1. **Singkirkan yang Tidak Perlu**

*S* dari singkatan SJW memiliki kepanjangan *singkirkan yang tidak perlu*. Ketika menulis atau menyunting, kita harus peka dan selektif terhadap kelewahan. Jangan biarkan dosa besar itu membuat pembaca terkena tulahnya. 

Kita dapat memulainya dengan hal-hal sederhana, misalnya menyatukan kata *melakukan* dengan nomina (kata benda) yang mengikutinya. Contohnya adalah mengubah frasa *melakukan pengiriman* menjadi *mengirim* dan *melakukan penindakan* menjadi *menindak*. Perubahan itu menghemat ruang. Selain itu, toh, kata ubahannya tidak menghilangkan makna frasa asal.

Contoh lainnya adalah membuang kata *proses* yang diikuti nomina berimbuhan *pe-an*. Kita bisa menulis *penyusunan* tanpa ada *proses* di depannya karena kata itu sudah bermakna ‘proses, cara, perbuatan menyusun (seperti penyusunan kamus, ensiklopedia)’. Untuk mengetahui makna kata lain yang serupa, silakan cek di [KBBI Daring](http://kbbi.kemdikbud.go.id/?ref=coba.narabahasa.id).

1. **Jelaskan yang Ambigu**

Lagi-lagi kita perlu peka. Untuk kiat yang kedua ini, kita bisa mulai melatih kepekaan itu terhadap bagian tulisan yang diikuti kata *yang*, misalnya pada kalimat *Mobil pejabat yang baru itu berwarna abu-abu*. Apa yang baru? Mobil atau si pejabat?

Agar tidak ambigu, kita dapat menjelaskannya dengan cara membubuhkan tanda hubung (-) pada bagian yang dimaksud. Misalnya, jika yang baru adalah mobil, tanda hubung diletakkan antara *mobil* dan *pejabat* sehingga menjadi **Mobil-pejabat* yang baru itu berwarna abu-abu*. Jika yang baru adalah si pejabat, tanda hubung diletakkan antara kata *pejabat* dan *yang* serta *yang* dan *baru* sehingga menjadi *Mobil *pejabat-yang-baru* itu berwarna abu-abu*.

Cara lainnya adalah menghapus kata *yang* terlebih dahulu. Ubah kalimat di atas menjadi *Mobil pejabat baru itu berwarna abu-abu*. Selanjutnya, tentukan yang dimaksud. Jika yang baru adalah mobil, letakkan tanda hubung di antara kata *mobil* dan *pejabat*. Jika yang baru adalah si pejabat, letakkan tanda hubung di antara kata *pejabat* dan *baru*.

Apakah memberikan tanda hubung adalah satu-satunya cara menjelaskan yang ambigu? Tidak. Ada cara lain, yaitu memindahkan *yang* beserta kata pengikutnya. Contohnya, beberapa hari lalu, rekan saya menulis berita dengan judul “Menyajikan Data yang Menarik dengan Infografik”. Setelah memperhatikan konteks bahwa itu adalah berita tentang kelas bertopik penyusunan infografik, saya mengubahnya menjadi ["Menyajikan Data dengan Infografik yang Menarik"](https://narabahasa.id/berita/menyajikan-data-dengan-infografik-yang-menarik?ref=coba.narabahasa.id). Alasannya, (1) kelas itu berfokus mengajari peserta untuk membuat infografik yang menarik dan (2) data yang kurang atau tidak menarik pun dapat disajikan—tidak terbatas pada data yang menarik. Bukankah tujuan infografik itu lebih sering untuk menyajikan data yang terlihat ruwet? Jadi, *infografik yang menarik* di situ lebih tepat digunakan. 

1. **Wicarakan tanpa Ragu**

Setelah menyingkirkan kelewahan dan menjelaskan keambiguan pada sebuah tulisan, kita perlu mewicarakannya tanpa ragu. Baca secara lirih, tingkatkan kepekaan, dan perhatikan panjang pendek kalimat, tepat samar kata, serta tertib acak ejaan. Posisikan diri kita sebagai pembaca. Jika masih ada yang mengganjal, berhenti dan perbaikilah.

Ketiga sikap yang dapat disingkat menjadi SJW itu perlu kita asah. Jangan khawatir, seiring waktu, kepekaan dan kecermatan kita akan bertumbuh. Akal tak sekali tiba. Tidak ada yang sekali jadi lantas sempurna. Lakukan semuanya dengan hati yang gembira.

#kiat #menulis #menyunting 

**Penulis** : Harrits Rizqi

**Penyunting** : Ivan Lanin