> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Sebelum Modern: Bahasa Melayu Klasik
- URL: https://coba.narabahasa.id/sebelum-modern-bahasa-melayu-klasik/
- Published: 2021-09-14T14:15:05.000Z
- Updated: 2021-09-14T14:15:05.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Interdisipliner, bahasa Melayu, melayu, melayu klasik, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Sebagaimana telah saya tuliskan [sebelumnya](https://narabahasa.id/linguistik-interdisipliner/sekilas-tentang-bahasa-melayu-kuno?ref=coba.narabahasa.id), bahasa Melayu memiliki periodisasi. Bahasa Melayu Kuno dianggap berkembang dan digunakan pada abad tujuh dan empat belas. Setelah itu, hingga abad ke-18, meningkatnya serapan kosakata asing, terutama Arab-Parsi, menandai perjalanan bahasa Melayu Klasik.

Perbedaan antara bahasa Melayu Kuno dan Melayu Klasik, berdasarkan pengamatan Teeuw, dapat dilihat melalui penyerapan kosakata asing. Beliau menilai bahwa frekuensi penggunaan kata-kata Sanskerta dan Arab dalam naskah berbahasa Melayu Klasik cukup tinggi. Beberapa kata Arab yang didaftarkan oleh K. Alexander Adelaar (2000) adalah *sebab*, *hakim*, *dunia*, *ilmu*, *badan*, *waktu*, dan *kabar*. Bahkan, Henri Chambert-Loir (2018) dalam penelitiannya menegaskan bahwa naskah Melayu Klasik ditulis dengan huruf Arab atau huruf Jawi.

Ciri lain mengenai bahasa Melayu Klasik ditemukan oleh Chambert-Loir, yaitu menyangkut dominannya penggunaan *pun*. Dalam *Hikayat Raja Pasai*, terdapat lima ratus *pun*. *Hikayat Pandawa Lima* dan *Hikayat Hang Tuah* memuat sebanyak 3.100 dan 6.300 butir *pun*. Menariknya lagi, ditemukan konjungsi *hendakpun* yang punya fungsi serupa dengan *sungguhpun*, *sekalipun*, dan *walaupun*. Umumnya, konjungsi tersebut digunakan dalam sebuah kalimat yang memiliki dua klausa.

Menurut Chambert-Loir, penggunaan bahasa Melayu Klasik tidak hanya ditemukan pada catatan kronik, silsilah, kitab hukum, dan dongeng. Di luar itu, para bangsawan juga menggunakan bahasa Melayu Klasik dalam karya sastra yang mereka ciptakan, bahkan turut mendukung penyebarannya. Contohnya adalah “Syair Ken Tambuhan”, *Sejarah Melayu*, dan *Hikayat Hang Tuah*. Mengenai karya sastra berbahasa Melayu Klasik, Liaw Yock Fang telah menuliskannya dengan komprehensif dalam *A History of Classical Malay Literature*. Di situ, Fang mengulas pengaruh epos India, cerita panji Jawa, hikayat yang kental dengan ajaran Hindu-Buddha, dan ajaran Islam terhadap sastra Melayu Klasik.

Perlu diketahui juga, bahasa Melayu Klasik memiliki konvensi yang eksklusif. Penggunaannya dinilai begitu berbeda dengan bahasa Melayu dalam percakapan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, Melayu Klasik dilihat sebagai tonggak standardisasi bahasa Melayu pada era kolonialisme.

**Rujukan:**

- Adelaar, K. A. 2000\. “ Malay: A Short History”. Dalam *Oriente Moderno*, 19 (80) (2), hlm. 225–242.
- Chambert-Loir, Henri. 2018\. “On two uses of the particle pun in classical Malay”. Dalam *Indonesian and the Malay World*, Volume 46, *Issue* 135, hlm. 154–167.
- Fang, Liaw Yock. 2013\. *A History of Classical Malay Literature*. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- Kridalaksana, Harimurti. (Ed). 1991\. *Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai.* Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin