> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Saya dan Kamus Besar Bahasa Indonesia
- URL: https://coba.narabahasa.id/saya-dan-kamus-besar-bahasa-indonesia/
- Published: 2024-03-30T05:38:50.000Z
- Updated: 2024-03-30T05:38:50.000Z
- Author: Holy Adib
- Tags: keterampilan bahasa, Linguistik Interdisipliner, Membaca, Perkamusan, kamus, KBBI, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Perjumpaan pertama saya dengan *Kamus Besar Bahasa Indonesia* (*KBBI*) terjadi sewaktu saya kuliah sekitar 2008\. Saya melihat buku tebal berwarna merah di meja kerja bapak saya di rumah saya di kampung, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Di sampul depannya tertulis “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Saat itu saya tidak memperhatikan *KBBI* tersebut edisi keberapa dan belum tahu *KBBI* ada beberapa edisi. Kelak saya tahu bahwa kamus tersebut *KBBI III*.

Saya seperti mendapatkan mainan baru ketika menemukan *KBBI* tersebut. Di kosan saya di Padang, selama beberapa hari, saya sibuk membolak-balik halaman kamus itu dan merasa takjub karena ada begitu banyak kata dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak saya ketahui. Meski begitu, saya tidak menggunakan kamus itu untuk membantu saya menulis karena belum tahu manfaat kamus untuk membantu menulis. Lagi pula, sewaktu itu saya baru belajar menulis.

Setelah kurang lebih dua tahun bersama dengan kamus itu, saya kehilangannya ketika pindah kos karena lupa membawanya. Sejak saat itu, saya tidak pernah melihat *KBBI* lagi hingga 2015\. 

Pada 2015 saya mencari *KBBI IV* di Perpustakaan Balai Bahasa Sumatera Barat. Itulah perjumpaan kedua saya dengan *KBBI* cetak. Saya sengaja mencarinya untuk melihat beberapa kata yang saya butuhkan. Kata-kata tersebut tidak saya temukan di *kbbi.web.id.* Situs itu bukan milik Badan Bahasa, tetapi datanya berbasiskan *KBBI III* milik Badan Bahasa. Meskipun isinya jauh tertinggal dari *KBBI IV*, situs tersebut cukup membantu pekerjaan saya sebagai redaktur di koran *Haluan* dan penulis esai bahasa karena ia dapat diakses secara mudah dengan jaringan internet.

Karena membutuhkan *KBBI IV* sebagai *KBBI* termutakhir, sementara di kantor saya tak ada kamus tersebut dan saya tak mungkin mengunjungi perpustakaan tiap sebentar jika membutuhkan *KBBI IV*, saya memutuskan untuk membelinya*.* Saya membelinya di Gramedia Padang seharga Rp438 ribu pada Juli 2016\. Kamus itulah buku termahal yang pernah saya beli hingga kini.

Setelah saya membeli *KBBI IV*, muncul masalah lain: Saya kesulitan membawa kamus itu ke mana-mana karena berat (sekitar 3 kg) dan tebal (1.701 halaman). Saya tidak mungkin membawanya ke mana-mana, tetapi saya membutuhkannya di luar rumah sebab sering menulis di berbagai tempat, seperti di kantor, kafe, warung kopi pinggir jalan, dan kosan teman. Saat itu *KBBI IV* belum ada versi daringnya. Oleh sebab itu, lagi-lagi *kbbi.web.id* menjadi andalan saya jika sedang berada jauh dari *KBBI IV*, yang saya simpan di rumah.

Tak lama setelah saya membeli *KBBI IV*, Badan Bahasa menerbitkan situs *kbbi4.portalbahasa.com* alias *KBBI IV* versi daring. Karena munculnya situs tersebut, di satu sisi saya menyesal membeli *KBBI IV* cetak. Kalau tahu situs tersebut akan diterbitkan, saya tidak perlu mengeluarkan Rp438 ribu untuk membeli *KBBI IV*. Di sisi lain saya senang ada *kbbi4.portalbahasa.com* sebab dapat mengakses *KBBI* termutakhir, dapat dikatakan, di mana saja dan kapan saja dengan jaringan internet.

Namun, *kbbi4.portalbahasa.com* ternyata hanya situs sementara. Pada 28 Oktober 2016 Badan Bahasa menerbitkan *KBBI Daring* pada laman [*kbbi.kemdikbud.go.id*](https://kbbi.kemdikbud.go.id/?ref=coba.narabahasa.id). Beberapa waktu sebelum itu, situs *kbbi4.portalbahasa.com* ditutup. 

Sejak hadir di jagat maya, *KBBI Daring* menjadi primadona banyak orang. Pengaksesnya begitu tinggi. Dikutip dari “KBBI Daring Tembus 200 Juta Pencarian, Setara Kamus Oxford Online” (*Medcom.id*, 21 Maret 2023), dalam sepekan pertama terdapat 400 ribu pencarian di *KBBI*. Kemudian, dalam empat tahun tiga bulan sejak diluncurkan, tercatat 100 juta pencarian. Hingga 21 Maret 2023 angka pencarian di *KBBI* mencapai 200.400.000 pencarian. Saat saya menulis esai ini, 21 Maret 2024, di *kbbi.kemdikbud.go.id* (lihat submenu “Halaman Statistik” di menu “Seputar Laman”) tercatat bahwa total pencarian di *KBBI Daring* ialah 247.381.117 pencarian. Hal itu menandakan bahwa sebenarnya selama ini publik membutuhkan *KBBI*, tetapi terhalang untuk mengaksesnya sebab tidak semua orang mampu membeli *KBBI* cetak, dan kalaupun mampu membelinya, tidak praktis pula dibawa ke mana-mana.

Hal lain yang membuat *KBBI Daring* diminati banyak orang sebagai kamus bahasa Indonesia daring ialah datanya jauh lebih banyak daripada *kbbi.web.id*. Pengelola *kbbi.web.id* mengakui hal itu dengan mengatakan bahwa data situsnya mengacu kepada *KBBI III* dan merekomendasikan publik untuk merujuk ke *kbbi.kemdikbud.go.id* sebagai *KBBI* terbaru*.* Penyebab lain *KBBI* *Daring* diminati ialah bahwa *KBBI Daring* dapat diperkaya oleh masyarakat umum. Di laman depan *KBBI Daring* ditulis pemberitahuan: *Laman KBBI Daring mengakomodasi usulan pengayaan dan perbaikan isi kamus.* Siapa saja dapat berpartisipasi memperkaya khazanah kosakata *KBBI Daring* dan mengusulkan perbaikan entri *KBBI*. Namanya tercatat di situs tersebut apabila usulannya diterima oleh redaksi *KBBI Daring*. Hal seperti itu tidak ada pada kamus lain. 

Setelah meluncurkan *KBBI Daring*, Badan Bahasa meluncurkan aplikasi *KBBI Luring* (*offline*) pada November 2016\. Hanya dengan mengunduh aplikasi tersebut di *Play Store*, pengguna ponsel Android dapat mengakses *KBBI Luring* tanpa jaringan internet. Hal itu berarti bahwa publik makin mudah mengakses *KBBI*, bahkan tanpa biaya—mengakses *KBBI Daring* masih menggunakan biaya walaupun sedikit, yaitu kuota internet. Dengan demikian, keberadaan *KBBI Luring* melengkapi *KBBI Daring*. 

Perbedaan *KBBI Daring* dengan *KBBI Luring* terletak pada pemutakhirannya. *KBBI Daring* diperbarui sekali enam bulan, sedangkan pemutakhiran *KBBI Luring* terlambat beberapa bulan daripada pemutakhiran *KBBI Daring*. Untuk mendapatkan *KBBI Luring* termutakhir, pengguna ponsel Android harus mencabut *KBBI Luring* dari *Play Store*, lalu memasangnya kembali.

**Mengoleksi *KBBI*** 

Sebagai esais bahasa dan pengamat bahasa Indonesia, saya mengoleksi buku-buku yang berkaitan dengan linguistik dan bahasa Indonesia, termasuk kamus. Dalam beberapa tahun saya berhasil mengumpulkan semua edisi *KBBI*. *KBBI* *I*, *II*, dan *III* saya beli dari beberapa pelapak buku bekas di *Facebook*. *KBBI IV*, sebagaimana yang telah saya ceritakan, sudah saya beli lebih dulu. Sementara itu, *KBBI V* saya dapatkan dari Badan Bahasa sebagai pemberian. *KBBI V* terbit pada 2016\. *KBBI V* milik saya merupakan cetakan ketiga, yang terbit pada 2018\. Datanya diambil dari *KBBI Daring* per 30 Maret 2017\. 

Dari ketebalannya (1.964 halaman), *KBBI V* jelas *KBBI* yang paling tebal—*Kamus Bahasa Indonesia Kontempore*r (2002) terbitan *Modern English Press* tebalnya 1.749 halaman—dan yang paling banyak entrinya, yaitu sekitar 120.000 entri. Sementara itu, *KBBI IV* (2008) memuat sekitar 90.000 entri, *KBBI III* (2001) 78.000 entri, *KBBI II* (1991) 68.000 entri, dan *KBBI I* (1988) 62.100 entri. 

Terakhir, saya melengkapi koleksi *KBBI* saya dengan kamus cikal bakal *KBBI*, yaitu *Kamus Bahasa Indonesia* (*KBI*) (1983) terbitan Pusat Bahasa. *KBI*, menurut saya sebagai pemburu buku bekas, merupakan kamus langka. Sejak 2014 hingga kini berburu buku bekas di lapak-lapak buku bekas di *Facebook* dan di berbagai kota di Indonesia, saya hanya satu kali menemukan orang yang menjual *KBI—KBBI I* hingga *IV* sering saya temukan dijual di lapak buku bekas. Saya membelinya dengan harga murah dari pelapak buku bekas di *Facebook*, yaitu sekitar Rp30 ribu. Ia menjualnya dengan harga murah mungkin karena hanya ada satu jilid (jilid I dengan abjad A sampai J) atau karena tidak tahu bahwa kamus itu langka.

**Menjadi Editor *KBBI Daring***

Kepraktisan penggunaan *KBBI Daring* maupun *KBBI Luring* membuat saya akrab dengan kamus tersebut. Lewat situs dan aplikasi, *KBBI* yang berat dan tebal itu kini berada dalam genggaman. Saking praktisnya untuk digunakan, *KBBI* bahkan bisa diakses sebelah tangan; dapat dilihat sambil berdiri, berbaring, tertelungkup, dan duduk. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan *KBBI* cetak. 

Karena *KBBI* menjadi praktis untuk digunakan, saya tiap sebentar membuka *KBBI* demi mengetahui makna kata maupun frasa, memeriksa ada atau tidaknya suatu kata atau frasa dalam *KBBI*, dan memeriksa segala sesuatu yang ada di *KBBI*, seperti makna entri dan label entri. Apabila menemukan kesalahan atau kekurangan pada entri *KBBI*, saya langsung menangkap layar yang terdapat entri itu, lalu mengirimkan tangkapan layar tersebut ke *Klinik Bahasa*—grup *WhatsApp* yang isinya mayoritas orang Badan Bahasa, dosen bahasa, dan praktisi bahasa—untuk didiskusikan. Di grup itu saya sering terlibat diskusi dan perdebatan tentang persoalan bahasa Indonesia sejak 2016\. Di grup tersebut saya juga sering membagikan esai-esai bahasa yang saya tulis.

Mungkin karena dianggap kritis dan awas terhadap *KBBI* dan cermat mengamati bahasa Indonesia, saya diundang sebagai praktisi media massa untuk menjadi narasumber pada “Lokakarya II Pemutakhiran *KBBI* 2018” di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, 18 Oktober 2018\. Saat itu saya menjabat sebagai Redaktur Bahasa di *Haluan*. 

Mungkin karena itu pula, saya diajak bergabung dengan redaksi *KBBI Daring* sebagai [editor](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-terapan/bagaimana-editor-kbbi-daring-bekerja/?ref=coba.narabahasa.id). Ceritanya begini: Pada November 2021, sebulan sebelum saya wisuda S-2, saya ditawari oleh Kepala Badan Bahasa, Prof. Endang Aminudin Aziz, untuk menjadi editor *KBBI Daring.* Sebenarnya pada 2020 saya sudah ditawari oleh Pemimpin Redaksi *KBBI Daring*, Bu Dora Amelia, untuk menjadi editor *KBBI Daring*, tetapi saat itu saya tidak bisa karena sedang sakit asam lambung dan harus menyelesaikan tesis. Karena itu, ketika datang tawaran kedua untuk menjadi editor *KBBI Daring*, saya tidak menyia-nyiakannya. Saya langsung menyetujui tawaran Prof. Amin.

Pada Februari 2022 saya diberi pelatihan sebagai editor *KBBI Daring* selama tiga hari di Kantor Badan Bahasa yang di Sentul, Kabupaten Bogor. Setelah mengikuti pelatihan, saya mulai paham cara memasukkan usulan ke *KBBI* *Daring* dan tahu cara menyeleksi usulan dari masyarakat. Seiring dengan berjalannya waktu, saya makin mahir melakukan tugas sebagai editor *KBBI Daring*.

Begitulah kisah saya dan *KBBI*: berjumpa secara tidak sengaja, lantas menjadi editornya, hal yang tidak pernah saya bayangkan sebab saya bukan pegawai Badan Bahasa. Barangkali Anda juga punya kisah yang menarik dengan satu atau beberapa buku. Silakan ceritakan.

Penulis: Holy Adib  
Penyunting: Rifka Az-zahra