> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Salep Sambat: Pertarafan Adjektiva
- URL: https://coba.narabahasa.id/salep-sambat-pertarafan-adjektiva/
- Published: 2021-07-14T11:00:49.000Z
- Updated: 2021-07-14T11:00:49.000Z
- Author: Ivan Lanin
- Tags: Kata, adjektiva, pertarafan, tata bahasa baku bahasa Indonesia, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Berdasarkan ciri semantisnya, adjektiva dapat digolongkan menjadi bertaraf dan takbertaraf. Adjektiva bertaraf—misalnya *cinta* dan *benci*—memiliki tingkat kualitas dan tingkat pembandingan yang dapat diberi pewatas tingkat, seperti *agak*, *makin*, dan *paling*. Sebaliknya, adjektiva takbertaraf, seperti *abadi* dan *sah*, memiliki taraf yang mutlak meski penutur kadang tetap membubuhkan pewatas tingkat pada adjektiva jenis ini. Pemberian taraf atau tingkat itu khas dimiliki adjektiva dan menjadi pembeda dengan kelas kata lain.

# Kualitas

Adjektiva dapat dibagi menjadi enam berdasarkan kualitasnya, yaitu (1) tingkat positif, (2) tingkat atenuatif, (3) tingkat augmentatif, (4) tingkat intensif, (5) tingkat elatif, dan (6) tingkat eksesif.

Tingkat positif merupakan tingkat kualitas standar adjektiva. Pemakaian pewatas *tidak* atau *tak* menunjukkan ketiadaan kualitas yang dinyatakan adjektiva itu. Contoh:

1. Hatiku *tenang* ketika berada di sampingmu.
2. Objek wisata itu *ramai* dikunjungi wisatawan.
3. Mobil itu *tidak cepat*.

Tingkat atenuatif menggambarkan penurunan kualitas atau pelemahan intensitas dengan pewatas *agak* atau *sedikit*. Untuk warna, tingkat atenuatif dinyatakan dengan pemberian imbuhan *ke--an* pada reduplikasi adjektiva. Contoh:

1. Meski *agak sedih*, aku tetap tersenyum.
2. Ia *sedikit kecewa* mendengar penjelasan sahabatnya.
3. Langit senja berwarna *kemerah-merahan*.

Tingkat augmentatif menggambarkan peningkatan kualitas dengan pewatas *makin* atau *kian*. Kedua pewatas itu dapat dipakai berpasangan dalam bentuk *makin … makin …* atau *kian … kian …*. Contoh:

1. Aku *makin percaya* kepadamu.
2. Lalu lintas di Jakarta (*kian hari*) *kian padat*.
3. Gadis itu *makin besar makin cantik*.

Pada bentuk berpasangan, seperti pada contoh nomor 2 di atas, frasa adjektival pertama (*kian hari*) dapat dihilangkan jika frasa itu menyatakan waktu.

Tingkat intensif menegaskan kualitas dengan pewatas *benar*, *betul*, atau *sungguh*. Pewatas *benar* dan *betul* dipakai sebelum adjektiva yang diwatasi, sedangkan *sungguh* sebelumnya. Contoh:

1. Dia *gemar benar* bermain media sosial.
2. Pencuri itu *kencang betul* larinya.
3. Penampilannya *sungguh mengagumkan*.

Tingkat elatif menunjukkan kualitas yang tinggi dengan pewatas *amat*, *sangat*, dan *sekali*. Pewatas *amat* dan *sangat* terletak sebelum adjektiva, sedangkan *sekali* terletak setelah adjektiva. Contoh:

1. Petugas memeriksa pengunjung dengan *amat cermat*.
2. Pengusaha itu *sangat kaya*.
3. Ibu *senang sekali* menerima kedatangan kami.

Tingkat eksesif menggambarkan kualitas yang berlebihan dengan pewatas *terlalu* dan *terlampau*. Imbuhan *ke--an* juga dapat dipakai untuk menunjukkan tingkat eksesif. Contoh:

1. Kamu *terlalu baik* untukku.
2. Masalah hidupnya *terlampau sulit* untuk diselesaikan.
3. Bajuku sudah *kekecilan* sehingga kuberikan kepada adikku.

Keenam tingkat kualitas adjektiva tersebut dapat diingat dengan jembatan keledai *sambat* (standar, *agak*, *makin*, *benar*, *amat*, *terlalu*).

# Pembandingan

Tingkat pembandingan diterapkan ketika membandingkan kualitas dua atau lebih hal. Pembandingan itu dapat setara atau taksetara. Tingkat yang setara disebut tingkat ekuatif, sedangkan yang taksetara dapat berupa tingkat komparatif dan tingkat superlatif.

Tingkat ekuatif menggambarkan kualitas yang sama atau hampir sama. Tingkat ini diwujudkan dengan empat bentuk, yaitu (1) *se-*, (2) *sama + -nya + dengan*, (2) *sama + -nya*, dan (4) *sama-sama*. Dua bentuk yang pertama dipakai di antara hal yang dibandingkan, sedangkan dua bentuk yang terakhir dipakai setelah hal yang dibandingkan. Contoh:

1. Aku berlari *secepat* Amir.
2. Aku berlari *sama cepatnya dengan* Amir.
3. Aku dan Amir berlari *sama cepatnya*.
4. Aku dan Amir berlari *sama-sama cepat*.

Tingkat komparatif menunjukkan kadar kualitas yang *lebih* atau yang *kurang*. Kedua pewatas itu dilengkapi oleh *daripada* atau *jika dibandingkan dengan*. Pembanding *kurang* dapat disulih dengan *kalah*. Contoh:

1. Mobil *lebih cepat daripada* sepeda.
2. Mobil *lebih cepat jika dibandingkan dengan* sepeda.
3. Aku *kurang/kalah cepat daripada* sepeda.
4. Aku *kurang/kalah cepat jika dibandingkan dengan* sepeda.

Tingkat superlatif menunjukkan yang paling tinggi di antara semua hal yang dibandingkan dengan memakai *ter-* atau *paling* sebelum adjektiva. Adjektiva itu kemudian dapat diikuti *dari* atau *di antara*. Contoh:

1. Dia *paling* rajin (*dari*/*di antara* semua siswa).
2. Mesin ini yang *termurah* (*dari*/*di antara* semua barang di toko itu).

Untuk adjektiva yang berawalan, pemberian awalan *ter-* umumnya terasa aneh, misalnya *\*terberbahaya* atau *\*termengharukan*. Untuk kasus itu, gunakan saja *paling*.

\*\*\*

Kalau tingkat kualitas adjektiva dapat diingat dengan jembatan keledai *sambat*, tingkat pembandingan dapat dihafal dengan akronim *salep* (*sama*, *lebih*, *paling*). Ingat *salep sambat* untuk tingkat pertarafan adjektiva, ya.

# Rujukan

Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia*. Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis:** Ivan Lanin

**Penyunting:** Harrits Rizqi