> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Relasi Makna
- URL: https://coba.narabahasa.id/relasi-makna/
- Published: 2021-01-30T11:00:35.000Z
- Updated: 2021-01-30T11:00:35.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Semantik, relasi makna. semantik, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Relasi makna adalah salah satu topik yang dibahas dalam bidang semantik. Di sini, hubungan kata, frasa, bahkan kalimat yang saling berhubungan dapat mencerminkan perluasan, persamaan, pertentangan, dan ketercakupan makna. Dalam *Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik* (2005: 116), Darmojuwono membagi relasi makna ke dalam lima jenis.

**Homonimi**

Terdapat tiga golongan homonimi, yakni [homograf, homofon](https://narabahasa.id/rubrik-gramatika/salah-paham?ref=coba.narabahasa.id), serta gabungan keduanya yang disebut homonim. 

Homograf adalah dua kata dengan ejaan yang sama, tetapi memiliki perbedaan pelafalan (bunyi) dan pemaknaan, misalnya *apèl* (upacara) dan *apêl* (buah). Sementara itu, homofon adalah dua kata yang sama dalam pelafalan, tetapi berbeda secara pengejaan dan pemaknaan, seperti *sanksi* dan *sangsi.* Ada pula gabungan homofon dan homograf seperti *tahu* sebagai verba ‘mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya)’ dan *tahu* sebagai nomina ‘makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus, dan dicetak’.

Dengan demikian, definisi homonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis sama, dilafalkan sama, atau ditulis dan dilafalkan sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.

**Polisemi**

Terkadang, suatu kata bisa memiliki lebih dari satu makna. Sebut saja kata *tangan* yang bisa bermakna ‘anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari’ dan ‘kekuasaan; pengaruh; perintah’. Meskipun kedua makna tersebut berbeda, arti yang pertama maupun kedua memiliki hubungan yang disebut polisemi. Chaer (2007: 301) menambahkan bahwa biasanya makna pertama yang tercantum di dalam kamus merupakan makna leksikal, denotatif, atau konseptual. Sementara itu, makna yang kedua adalah hasil dari pengembangan komponen makna. 

**Sinonimi dan Antonimi**

Tentu kita sudah familier dengan sinonim. Sinonim atau sinonimi adalah relasi makna dalam kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan arti. Perlu diketahui, bahwa relasi sinonim bersifat dua arah. Apabila A bersinonim dengan B, berarti B juga bersinonim dengan A. Contoh dua kata yang bersinonim adalah *betul* dan *benar*, *matahari* dan *surya*, serta *awan* dan *mega*.

Kebalikan dari sinonim adalah antonim yang relasi maknanya saling bertentangan. Contohnya adalah *panas* dan *dingin*, *suami* dan *istri*, serta *tajam* dan *tumpul*.

**Hiponimi**

Hiponimi adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik. Misalnya, *anjing*, *burung*, dan *belalang* yang berhiponim dengan *binatang* serta *mawar*, *melati*, dan *anggrek* yang berhiponim dengan *bunga*. Sebagai superordinat, *bunga* dan *binatang* disebut sebagai hiperonim. Sementara itu, *anjing, burung, belalang;* dan *mawar, melati, anggrek* adalah kohiponim.

**Meronimi**

Relasi makna jenis ini mirip dengan hiponimi, yakni sama-sama memiliki relasi makna yang bersifat hierarki. Namun, relasi makna dalam meronomi tidak menyiratkan pelibatan searah. Relasi makna di sini dapat dianalogikan seperti “A merupakan bagian dari B”. Contoh meronimi dapat kita temukan pada *atap* sebagai bagian dari *rumah*, *kantong* sebagai bagian dari *celana*, dan *roda* sebagai bagian dari *mobil*.

**Rujukan**:

- Chaer, Abdul. 2007\. [*Linguistik Umum*](https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=39316&ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: Rineka Cipta.
- Kushartanti, dkk. (ed). 2005\. *Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik.* Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin