> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Ragam Repetisi
- URL: https://coba.narabahasa.id/ragam-repetisi/
- Published: 2021-03-07T11:00:29.000Z
- Updated: 2021-03-07T11:00:29.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Stilistika, majas, repetisi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Menurut Zaimar (2002), repetisi termasuk ke dalam majas penegasan. Repetisi adalah pengulangan kata atau frasa, klausa, bahkan kalimat. Dalam *Kamus Linguistik Edisi Keempat* (2008)*,* Kridalaksana mengartikan *pengulangan* sebagai ‘penggunaan unsur bahasa beberapa kali berturut-turut sebagai alat stilistis atau untuk tujuan ekspresif’. Sementara itu, menurut [Keraf](https://coba.narabahasa.id/gorys-keraf-menjiwai-dan-meragai-bahasa-indonesia/) (2006), repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. 

Ternyata, repetisi terdiri atas beberapa ragam. Setiap jenis repetisi memiliki nama dan ciri khas yang berbeda-beda. Mari kita bedah satu per satu.

**Epizeuksis**

Repetisi ini melakukan pengulangan kata-kata yang dianggap penting. Contohnya: 

“Supaya bisa maju dan diakui oleh dunia, kita harus *bekerja*, *bekerja*, dan *bekerja*. 

**Tautotes**

Tautotes adalah repetisi atas sebuah kata dalam satu konstruksi. Biasanya, pengulangan ini dilakukan untuk menegaskan makna kesalingan. Contohnya: 

“*Aku menuduh kamu*, *kamu menuduh aku*, *aku* dan *kamu* saling *menuduh*.”

**Anafora**

Anafora merupakan pengulangan kata atau frasa pertama pada setiap baris atau kalimat. Contohnya: 

“*Bolehkah aku* berkunjung ke rumahmu dan mengetuk pintu kayu itu? *Bolehkah aku* membawakan buah-buahan untuk kita santap bersama-sama di bawah terang rembulan? Bahkan, *bolehkah aku* memilikimu sekali lagi?

**Epifora**

Repetisi yang disebut juga epistrofa ini merupakan kebalikan dari anafora, yakni pengulangan kata atau frasa terakhir pada setiap baris atau kalimat. Contohnya: 

“Demi kehidupan yang mapan, pejabat negeri *korupsi*. Pegawai-pegawai swasta pun merasa gajinya tidak cukup sehingga melakukan *korupsi*. Demi perut yang lebih aman, semuanya *korupsi*. Memang, persoalan kita tidak akan jauh-jauh dari kasus *korupsi*.

**Simploke**

Simploke adalah majas repetisi yang menggabungkan konsep anafora dan epistrofa. Contohnya:

“*Kamu bilang* tidak akan pergi, *nyatanya hilang juga*. *Kamu bilang* akan selalu menemani, *nyatanya hilang juga*. *Kamu bilang* perasaan itu akan selalu sama, *nyatanya hilang juga*. *Kamu bilang* cinta ini abadi, *nyatanya hilang juga*.”

**Mesodiplosis**

Berbeda dengan anafora dan epistrofa, repetisi ini melakukan pengulangan kata atau frasa di tengah baris atau kalimat. Contohnya:

“Ibu bilang, *jangan jadi* orang yang suka menyakiti hati manusia lain. Ayah juga berpesan, *jangan jadi* pembenci, meski dunia begitu kejam. Nenek berkata, *jangan jadi* aib buat keluarga sendiri.

**Epanalepsis**

Epanalepsis adalah pengulangan kata pada awal baris atau kalimat dan pada akhir baris atau kalimat. Contohnya:

1. “*Kita* gunakan akal dan perasaan *kita*.”
2. “*Kami* akan berusaha semampu *kami*.”
3. “*Menangislah* di pelukanku, tak apa, *menangislah*.”

**Anadiplosis**

Repetisi ini mengulang kata atau frasa terakhir menjadi kata atau frasa pertama pada baris atau kalimat berikutnya. Contohnya:

“Di dalam hatiku, ada *dirimu*. Di dalam *dirimu*, ada *kita*. Di dalam *kita*, ada *cinta*. Di dalam *cinta*, ada *kebersamaan*. Di dalam *kebersamaan*, ada *keabadian*.”

Itulah delapan ragam repetisi berdasarkan struktur kalimat yang dipaparkan oleh Gorys Keraf. Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, majas adalah perihal yang sukar untuk didefinisikan secara pasti. Oleh karena itu, pakar lain mungkin saja memiliki pengklasifikasian repetisi yang berbeda dari Keraf.

**Rujukan**:

- Keraf, Gorys. 2006\. *Diksi dan Gaya Bahasa*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Kridalaksana, Harimurti. 2008\. [*Kamus Linguistik Edisi Keempat*](https://books.google.co.id/books?id=gKNLDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs%5Fvpt%5Fread#v=onepage&q&f=false)*.* Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Zaimar, Okke. 2002\. “Majas dan Pembentukannya”. Dalam Jurnal *Makara, Sosial Humaniora* Vol. 6, No. 2, Desember. Depok: Universitas Indonesia.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin