> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Pola Frasa dalam Bahasa Kita
- URL: https://coba.narabahasa.id/pola-frasa-dalam-bahasa-kita/
- Published: 2023-08-24T09:52:32.000Z
- Updated: 2023-08-24T09:52:32.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: kalimat, Linguistik Umum, bahasa Indonesia, frasa, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Selama ini, saya mengetahui bahwa bahasa Indonesia memiliki dua pola pembentukan frasa, yaitu pola diterangkan-menerangkan (D-M) dan menerangkan-diterangkan (M-D). Mari, kita segarkan kembali ingatan kita mengenai dua pola tersebut.

Pertama-tama, frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih. Di dalam frasa, terdapat unsur inti dan unsur pewatas. *Mobil merah*, misalnya, adalah frasa dengan *mobil* sebagai unsur inti dan *merah* selaku unsur pewatas. Frasa tersebut berpola diterangkan-menerangkan sebab *mobil* merupakan unsur inti yang diterangkan, sedangkan *merah* adalah unsur yang menerangkan. Saya berikan contoh lain supaya kita tidak bingung, ya.1\. *buku baru*

2*. orang tampan*

3*. rumah mewah*

Tiga contoh itu pun merupakan frasa yang berpola diterangkan-menerangkan. *Buku*, *orang*, dan *rumah* berdiri sebagai unsur inti yang diterangkan. Ketiganya masing-masing dilengkapi dengan pewatas *baru*, *tampan*, serta *mewah* yang bertugas menerangkan. Pada umumnya, frasa berpola D-M merupakan frasa nominal seperti tiga contoh di atas. Selain itu, frasa numeral pun berbentuk D-M, misalnya *enam sentimeter*, *sepuluh* *kilometer*, dan *sembilan gram*.

Kemudian, pola pembentukan frasa lainnya adalah menerangkan-diterangkan (M-D). Pola ini lazim kita temukan pada bentuk frasa adjektival, seperti *sangat cantik, kurang bagus,* dan *agak lama*. Di situ, *cantik*, *bagus*, dan *lama* adalah unsur inti. Selain itu, frasa verbal juga kerap kita temukan berpola M-D, contohnya *belum tidur*, *tidak pulang*, dan *sudah jalan*.

Pembahasan di atas saya cerna dari buku [*Kalimat: Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia* ](https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/resource/doc/files/Buku%5FSeri%5FPenyuluhan%5F2019%5FKalimat.pdf?ref=coba.narabahasa.id)(2019). Saya kira pola frasa kita hanyalah D-M dan M-D. Saya tidak menemukan potensi adanya pola frasa lain sebelum membaca tulisan Anton Moeliono dalam “Suatu Reorientasi dalam Tata Bahasa Indonesia” pada buku *Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar* (1989).

Beliau menulis bahwa pola menerangkan-diterangkan-menerangkan (M-D-M) bisa saja terbentuk. Contohnya adalah *tiga orang mahasiswa Indonesia*. Pada contoh tersebut, *mahasiswa* berdiri sebagai unsur inti yang diapit oleh *tiga orang* dan *Indonesia* sebagai pewatasnya.

Mungkin Kerabat Nara bertanya-tanya, “Apa pentingnya pembahasan mengenai pola frasa D-M, M-D, bahkan M-D-M dalam kehidupan sehari-hari?”

Harrits Rizqi dalam [tulisannya](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kalimat/ambiguitas/?ref=coba.narabahasa.id) pernah memberikan contoh yang menarik. Coba bandingkan, apakah *wanita pengusaha* dan *pengusaha wanita* memiliki makna yang berbeda? Apabila tidak diselisik dengan saksama, kita bisa-bisa keliru dalam mengartikan ‘wanita yang menjadi pengusaha’ dan ‘pengusaha yang mendagangkan wanita’. Jika yang kita maksudkan adalah ‘wanita yang menjadi pengusaha’, berarti *wanita pengusaha* merupakan frasa yang tepat. *Wanita* menjadi unsur inti, sedangkan *pengusaha* bertugas sebagai pewatas.

Rujukan:

- Budiman, Harrits Rizqi. 2021\. “[Ambiguitas](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kalimat/ambiguitas/?ref=coba.narabahasa.id)”. *Narabahasa*. Diakses pada 21 Agustus 2023.
- Moeliono, Anton. 1989\. *Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar.* Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
- Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2019\. *Kalimat: Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia*. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin