> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Perkara “di-” yang Dirangkai dan “di” yang Dipisah
- URL: https://coba.narabahasa.id/perkara-di-yang-dirangkai-dan-di-yang-dipisah/
- Published: 2020-07-13T04:05:56.000Z
- Updated: 2020-07-13T04:05:56.000Z
- Author: Dessy Irawan
- Tags: Nawala Narabahasa, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Pagi hari, pukul 06.00 WIB. Saat sinar surya belum terlalu menyengat, saya membuka laptop dan mulai mengetik surat ini. Entah mengapa, saya malah mengingat ulang percakapan beberapa waktu silam dengan wikipediawan pencinta bahasa Indonesia, Ivan Lanin. Laki-laki hebat, yang pemikiran dan sikapnya, berhasil memberi pengaruh baik bagi diri saya. Saya nyaris lupa kapan tepatnya percakapan itu terjadi. 

Bagi yang mengenal sosok Ivan Lanin, pasti tahu bahwa beliau aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan kebahasaan di Twitter sejak 2010\. Saat itu, saya bertanya, “Kapan Bapak pensiun dari Twitter?” Beliau terdiam sebentar sambil tersenyum simpul. “Saat semua orang Indonesia bisa membedakan *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah,” jawabnya kemudian dengan nada enteng. Entah hanya gurauan atau sungguhan, jawaban itu membuat saya terdiam. Pada akhirnya, jawaban itu terus bertahan dalam ingatan, menemani masa-masa saya mengemban tugas sebagai rekan kerja beliau. Jawaban itu juga yang menjadi sumber kriteria pemilihan jodoh saya kelak: bisa membedakan *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah.

Perkara *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah memang tidak menjadi keresahan semua orang Indonesia. Atas alasan itu juga, Narabahasa hadir. Meski sudah lima bulan Narabahasa aktif sebagai penyedia layanan edukasi kebahasaan, tetap saja belum semua orang Indonesia memiliki kegemasan yang sama saat melihat kata yang seharusnya ditulis *di mana* menjadi *dimana* atau *disayang* menjadi *di sayang*. Hal itu membuat saya menyadari bahwa salah satu misi Narabahasa yang berbunyi meningkatkan keterampilan berbahasa orang Indonesia merupakan pekerjaan sepanjang masa. Selaras dengan apa yang diingini oleh Ivan Lanin, *bagai sang surya menyinari dunia*, garis perjalanan Narabahasa bisa jadi tiada berujung. 

Tanpa sadar, mulut saya mengucap kata “amin” ketika selesai berkontemplasi mengenai hal-hal di atas. Lima menit setelahnya, saya kembali mengetik, meneguk sedikit kopi pahit yang sudah dingin, dan membayangkan semoga Kerabat Nara yang membaca surat ini pun turut mengamini semua niat baik Narabahasa. 

# Belajar dari Kesalahan

Aroma pagi yang masih kental kembali mengantarkan saya kepada ingatan semasa saya kuliah di Program Studi Indonesia. Saat itu semester dua dan saya sedang mendapat mata kuliah Kemahiran Berbahasa Indonesia. Suara dosen bernada tinggi memecah keheningan. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan. Satu nama mahasiswa disebut olehnya. Ruang kelas ikut bergetar. Bahkan mungkin, dinding kelas pun ikut bertanya-tanya: ada apa? Ternyata, salah seorang teman saya, yang namanya disebut oleh dosen saya itu, dianggap membuat kesalahan “fatal” dalam lembar esainya. Teman saya salah menuliskan kata “*di mana*” menjadi “*dimana*” tanpa spasi. Seisi kelas turut ketakutan. Bagaimana tidak? Tersebab hukuman yang didapat oleh teman saya setelahnya adalah menulis ulang kata *di mana* dalam 10 lembar penuh kertas berukuran A4\. 

Saat itu, meski raut wajah seisi kelas begitu tegang, kuliah tetap berlanjut. Dosen saya tidak hanya memberi hukuman, tetapi juga memberi penjelasan tentang pentingnya memahami perbedaan *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah. *Di-* yang dirangkai adalah awalan pembentuk verba pasif sehingga ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, misalnya *dilarang*. Sedangkan, *di* yang dipisah adalah kata depan yang berfungsi sebagai penunjuk tempat sehingga ditulis terpisah, misalnya *di rumah*. 

Ada dua cara menguji penggunaan *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah agar tidak tertukar. Cara pertama adalah dengan mengganti awalan *di-* yang dirangkai dengan *me-*. Sama halnya dengan manusia, verba pasif juga tercipta untuk berpasang-pasangan. Keberadaannya bisa digantikan dengan verba aktif. Kata *dilarang* memiliki bentuk aktif *melarang*, sedangkan *di sana* tidak memiliki bentuk *menyana*. Cara kedua adalah dengan mengganti kata depan *di* dengan *ke* atau *dari* yang juga menunjukkan tempat. Misalnya, *di rumah*, *ke rumah*, atau *dari rumah*. Beda halnya dengan *di tulis*, *ke tulis*, atau *dari tulis*. 

Barangkali kesalahan memang diciptakan sebagai jembatan untuk kita menemukan kebenaran. Kalau saja saat itu teman saya tidak salah menulis kata *di mana*, mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang yang selalu berhati-hati saat menulis. Saya pun berharap semoga kisah *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah di atas tidak hanya menjadi pelajaran bagi saya dan teman-teman saya, tetapi juga bagi Kerabat Nara yang sedang membaca surat ini. 

# Kabar Baik

Kabar baiknya, hal-hal mengenai *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah tersebut akan dibahas dalam kelas daring Narabahasa yang bertopik Ejaan pada 22 Juli 2020\. Topik Ejaan merupakan salah satu dari empat topik lainnya yang tergabung dalam Seri Gramatika Bahasa Indonesia. Tiga topik lainnya ialah Wacana dan Paragraf, Kalimat, serta Kata. 

Sebagai bentuk penularan virus berbahasa yang baik dan benar, Narabahasa juga merilis hasil daya cipta yang bisa Kerabat Nara gunakan kapan pun dan di mana pun. Salah satu wara dalam produk kreasi tersebut bertuliskan “bisa membedakan *di*\- yang dirangkai dan *di* yang dipisah”. 

Lagi-lagi saya bermimpi. Saya membayangkan banyak orang yang dengan bangganya mengenakan kaus di atas, meski itu bukan berarti tugas Narabahasa selesai. Setidaknya dengan adanya produk kreasi ini, Kerabat Nara bisa selalu mengingat eksistensi Narabahasa dan slogannya yang berbunyi *Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia.* 

Salam takzim,

Dessy Irawan