> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Perbedaan Akan Tetapi, Namun, dan Tetapi
- URL: https://coba.narabahasa.id/perbedaan-akan-tetapi-namun-dan-tetapi/
- Published: 2021-09-16T11:00:11.000Z
- Updated: 2021-09-16T11:00:11.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Umum, akan tetapi, konjungsi, namun, tapi, tetapi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Saya pernah berpikir, apakah bisa manusia hidup tanpa kata *tetapi*? Dalam bertutur sehari-hari, kita sering betul menggunakan kata tersebut. Dengan kata lain, banyak sekali gagasan pertentangan yang kita ujarkan. Sementara itu, dalam ragam tulisan, kata *akan tetapi*, *namun*, dan *tetapi* tidak hanya berfungsi sebagai penanda pertentangan, tetapi juga sebagai pengatur irama.

Sebetulnya, ketiga konjungsi itu memiliki makna yang sama. Yang perlu dibedakan ialah posisi penggunaannya. *Akan tetapi*, misalnya, menurut Moeliono dkk. dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat* (2017), tergolong dalam konjungsi antarkalimat. Berarti, konjungsi *akan tetapi* harus diletakkan di awal kalimat. Perhatikan contoh berikut.

1. Aku mencintaimu. *Akan tetapi*, aku harus melepaskanmu.
2. Hujan turun dengan deras. *Akan tetapi*, saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Konjungsi *namun* juga tergolong dalam kata hubung antarkalimat sehingga bisa menggantikan *akan tetapi*. Berikut contohnya.

1. Aku mencintaimu. *Namun*, aku harus melepaskanmu.
2. Hujan turun dengan deras. *Namun*, saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Apabila kita ingin menggunakan konjungsi *tetapi*, struktur kalimat di atas harus diubah. Kata hubung *tetapi* merupakan konjungsi intrakalimat. KBBI sudah merumuskan definisi ‘kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras’ pada lema *tetapi*. Terlebih, dalam buku yang sama, Moeliono dkk. memasukkan kata *tetapi* dalam kategori konjungsi koordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur atau lebih yang sama penting atau memiliki status sintaksis yang sama.

1. Aku mencintaimu, *tetapi* aku harus melepaskanmu.
2. Hujan turun dengan deras, *tetapi* saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Penggunaan konjungsi *tetapi* dapat dilihat pada contoh di atas. Kita bisa lihat, terdapat tanda baca koma sebelum *tetapi* sebagai pembatas klausa.

Lalu bagaimana dengan konjungsi *tapi*? Kata ini adalah bentuk takbaku dari *tetapi*. Dengan makna yang serupa sebagaimana *akan tetapi* dan *namun*, penggunaan *tapi* lebih sering kita temukan pada ragam informal.

#konjungsi #tetapi #namun #tapi #akantetapi

**Rujukan:**

- Lanin, Ivan. 2016\. “[Namun, tetapi, dan tapi](https://beritagar.id/artikel/tabik/namun-tetapi-dan-tapi?ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 17 September 2021.
- Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin