> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Peluluhan Fonem: Memraktikkan?
- URL: https://coba.narabahasa.id/peluluhan-fonem-memraktikkan/
- Published: 2021-06-17T01:42:43.000Z
- Updated: 2021-06-17T01:42:43.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Fonologi, Morfologi, Morfofonemik, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kridalaksana dalam *Kamus Linguistik Edisi Keempat* (2008) mendefinisikan morfofonemik sebagai morfofonologi, yaitu ‘analisis dan klasifikasi pelbagai ujud atau realisasi yang menggambarkan morfem’. Selain itu, morfofonologi juga mengartikan ‘struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari morfem; termasuk di dalamnya penambahan, pengurangan, penggantian fonem, atau perubahan tekanan yang menentukan bangun morfem’. Dapat dikatakan pula, morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem.

Peristiwa fonologis tersebut mencakup perubahan fonem yang tergolong ke dalam sepuluh proses. Namun, menurut Kridalaksana, peristiwa fonologis atau proses morfofonemik yang sering terjadi di dalam bahasa Indonesia adalah pemunculan fonem.

Pada kata *ketinggian*, misalnya, kita secara tidak sadar memunculkan bunyi luncuran /y/. Pelafalan kata ini dapat dilambangkan dengan /ketiŋgi**y**an/. Contoh luncuran lain yang bisa kita temukan adalah bunyi /w/ pada kata *kepulauan*. Kata tersebut dapat dilafalkan dengan lambang /kəpulau**w**an/.

Sementara itu, bertemunya morfem *diri* dengan *se*\- juga memunculkan konsonan /n/ sehingga membentuk *sendiri*. Ada pula kemunculan konsonan /m/ ketika *se-* bergabung dengan *barang* yang kemudian menghasilkan *sembarang*. Selain itu, fonem /m/ juga hadir ketika afiks *me*\-, *pe-*, dan *pe-an* berhadapan dengan morfem dasar yang memiliki awalan /b/, /f/, dan /p/. Contohnya adalah *me*m*beli*, *pe*m*beli*, dan *pe*m*belian*; *me*m*fasilitasi*, *pe*m*fitnah,* dan *pe*m*fosilan*; serta *me*m*engaruhi*, *pe*m*acu*, dan *pe*m*adaman*. Kemudian, bunyi /ŋ/ muncul saat morfem dasar yang terdiri dari satu suku kata bergabung dengan afiks *me-*, *pe-*, dan *pe*\-*an*. Contohnya adalah *me*ng*ecat*, *pe*ng*ecat*, dan *pe*ng*ecatan*.

Menurut saya, dalam bahasa Indonesia, pemunculan fonem sama produktifnya dengan peluluhan fonem yang menekankan kaidah KTSP. Pada contoh di atas, kita bisa melihat kata *memengaruhi*. Kata dasarnya adalah *pengaruh*. Namun, ketika prefiks *me-* bertemu awalan /k/, /t/, /s/, dan /p/, terjadilah peluluhan fonem. Maka, *mempengaruhi* berubah menjadi *memengaruhi*. Contoh lainnya adalah *mengkoordinasi*, *mentolak*, dan *mensakiti* yang berubah menjadi *mengoordinasi*, *menolak*, dan *menyakiti*.

Akan tetapi, kita tidak akan menemukan kata *mengreasi* dalam KBBI V. Padahal, kata dasarnya adalah *kreasi*. Bukankah seharusnya awalan /k/ dalam kata tersebut mengalami peluluhan? Perlu diingat, peluluhan fonem tidak berlaku apabila bentuk dasar memiliki gugus konsonan, seperti /kr/ dalam *kreasi*, *kristal*, atau *kremasi*. Hal yang sama juga terjadi pada awalan /t/, /s/, dan /p/. Bentuk yang baku adalah *mentransfer*, bukan *menransfer*; *menstabilkan*, bukan *menytabilkan*; dan *mempraktikkan*, bukan *memraktikkan*. 

**Rujukan:**

- Kridalaksana, Harimurti. 2008\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat.* Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin