> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Pagar Rumahku Berubah Warna: Menyimpan Kehilangan dalam Antologi
- URL: https://coba.narabahasa.id/pagar-rumahku-berubah-warna-menyimpan-kehilangan-dalam-antologi/
- Published: 2026-09-23T06:06:34.000Z
- Updated: 2026-09-23T10:11:01.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Berita, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

September ini, Kicauan Narabahasa (Kinara) memasuki episode ke-75 dengan mengundang Ama Gaspar, penulis antologi puisi *Pagar Rumahku Berubah Warna* yang berhasil masuk ke daftar pendek kumpulan puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2026\. Program ini digelar pada Sabtu, 19 September 2026 pukul 19.00 s.d. 20.00 WIB di Spaces X. Diskusi Kinara episode ini berfokus pada proses kreatif penulisan antologi puisi Ama yang memuat beberapa pengalaman, mulai dari cerita duka hingga kisah perjalanannya ketika mengunjungi beberapa tempat di Indonesia. 

*Pagar Rumahku Berubah Warna* ditulis oleh Ama selama kurang lebih empat bulan. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 21 Mei 2025\. Proses pembuatan buku ini sebenarnya telah berlangsung sejak Ama masih duduk di bangku SMP. “Saya menulis puisi sejak SMP, tetapi puisi yang saya buat masih terinspirasi dari kegelisahan dan hanya termuat di mading,” ungkapnya. 

Ama mengungkapkan bahwa dalam proses kreatifnya, ia terbantu oleh kebiasaannya yang gemar mengumpulkan kata unik dan tulisan. “Saya suka bepergian. Dari sana, saya jadi gemar menabung kata lalu mencatatnya di telepon genggam, lalu mengembangkan kata-kata tersebut menjadi karya utuh,” jelas Ama.

Kemudian, pembahasan dilanjutkan dengan penjelasan di balik penggunaan tipografi penomoran dalam puisi yang termuat dalam buku ini. “Bagi saya, angka tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda urutan, tetapi juga agar pembaca dapat seolah-olah berjalan mengikuti puisi sepanjang mereka membaca. Tipografi penomoran ini kemudian saya kembangkan melalui ide tiap puisinya agar menggambarkan tingkat kesulitan hidup yang nyata, seperti tangga yang berjalan naik dan turun. Ide ini terinspirasi dari puisi lama karya Sutardji, tetapi saya coba kembangkan menjadi bentuk penomoran,” tuturnya.

Beberapa puisi dalam buku antologi ini bahkan lahir dari perjalanan, seperti puisi “Bertemu Heribertus Rais di Sikka” yang terinspirasi dari kisah Pria di sebuah gereja tua di Sikka. “Saat itu, saya melihat Heribertus menunduk dengan dua rosario yang menggantung di lehernya. Ia bercerita tentang tempat asalnya—Sulawesi, tetapi telah terdampar di Sikka dan tidak dapat kembali ke kampung halamannya,” ujar Ama. Bagi Ama, menuliskan kisah orang lain merupakan salah satu upaya mengingat mereka dalam sebuah momen yang berkesan. 

Dalam proses kreatifnya, sebelum sampai di meja editor, Ama menulis puisi secara mengalir tanpa mengelompokkannya terlebih dahulu. “Tidak ada pengategorian sebelum naskah buku ini tuntas. Itu baru dilakukan setelah diskusi dengan editor,” ucap Ama. Proses tersebut menjadi bagian penting, terutama karena di tengah pengerjaan buku ini, Ama masih berada dalam fase berduka setelah kehilangan ibunya. “Buku ini yang mengantar saya untuk berdamai dengan masa kehilangan karena ibu saya meninggal pada Februari, sementara naskah buku ini masih harus dituntaskan hingga peluncurannya pada Mei, bertepatan dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025,” jelasnya. 

Selain itu, Ama juga mengungkap bahwa sebagian puisi lahir dalam waktu yang relatif singkat, tetapi ada sebagian lainnya yang melalui proses pengendapan untuk mencari keseimbangan bunyi dan suasana.

Melalui diskusi Kinara episode ke-75, Ama mengajak peserta mengumpulkan kata dari setiap perjalanan, pengalaman, perjumpaan, hingga kehilangan, untuk kemudian diolah menjadi karya.

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra