> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Oposisi dan Antonimi
- URL: https://coba.narabahasa.id/oposisi-dan-antonimi/
- Published: 2021-06-05T12:29:09.000Z
- Updated: 2021-06-05T12:29:09.000Z
- Author: Ivan Lanin
- Tags: Semantik, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Oposisi adalah hubungan pertentangan antara dua kata yang menunjukkan perbedaan makna, misalnya *hidup* dan *mati*, *panjang* dan *pendek*, serta *suami* dan *istri*. Dalam istilah sehari-hari, hubungan semacam itu kerap disebut *lawan kata* atau *antonimi*. Istilah *lawan kata* tampaknya merupakan pemendekan dari istilah *lawan *makna* kata*.

Menurut Cruse (1986), antonimi merupakan salah satu jenis oposisi. Ia membagi oposisi menjadi tiga, yaitu komplementari (*complementaries*), antonimi, dan oposisi direksional (*directional opposition*). Komplementari membedakan dua kata dengan sempurna, misalnya *hidup* dan *mati*. Sebaliknya, antonimi membedakan pasangan kata dengan bertaraf atau bergradasi, misalnya *panjang* dan *pendek*. Terakhir, oposisi direksional membedakan makna berdasarkan hubungan arah atau relasi, misalnya *atas* dan *bawah* serta *suami* dan *istri*.

Komplementari disebut juga oposisi takbergradasi atau oposisi biner (Subuki, 2012). Pada oposisi jenis ini, makna sebuah kata merupakan negasi kata yang beroposisi dengannya, dan sebaliknya. Misalnya, *hidup* berarti *tidak mati* dan *tidak mati* berarti *hidup*. Cruse membagi komplementari menjadi empat, yaitu (1) reversif, misalnya *hidup* dan *mati*; (2) interaktif, misalnya *mematuhi* dan *membangkang*; (3) satisfaktif, misalnya *berhasil* dan *gagal*; serta (4) konteraktif, misalnya *membela* dan *menyerah*. 

Antonimi disebut juga oposisi bergradasi atau oposisi berjenjang. Pada oposisi ini, ada tingkat yang dapat dinyatakan dengan, antara lain, *agak*, *lebih*, dan *sangat* (Rahyono, 2012: 160). Cruse membagi antonimi menjadi tiga, yaitu (1) antonimi kutub (*polar*), misalnya *panjang* dan *pendek*, (2) antonimi tumpang tindih (*overlapping*), misalnya *baik* dan *buruk*, serta (3) antonimi seimbang (*equipollent*), misalnya *panas* dan *dingin*.

Oposisi direksional (*directional opposition*) berhubungan dengan arah. Jenis oposisi ini dapat dibagi menjadi lima, yaitu (1) arah, misalnya *naik* dan *turun*; (2) antipoda, misalnya *atas* dan *bawah*; (3) pendamping (*counterpart*), misalnya *bukit* dan *lembah*; (4) reversi, misalnya *meningkat* dan *menurun*; serta (5) kosokbali (*converses*), misalnya *suami* dan *istri*.

Selain tiga jenis oposisi yang menghubungkan dua kata yang bertentangan itu, ada jenis pertentangan yang melibatkan perbedaan cakupan. Hubungan itu disebut hiponimi (Tarigan, 1985). Pada hubungan ini, kata yang satu (hipernim), misalnya *hewan*, bermakna lebih luas daripada yang lain (hiponim), misalnya *kucing*. Pertentangan makna juga dapat dilihat pada berbagai hiponim dalam sebuah domain, misalnya *anjing* dan *kucing*.

**Rujukan**

- Cruse, David Alan. 1986\. *Lexical Semantics*. Cambridge: Cambridge University Press.
- Rahyono, F.X. 2012\. *Studi Makna*. Jakarta: Penaku.
- Subuki, Makyun. 2011\. *Semantik: Pengantar Memahami Makna Bahasa*. Tangerang: Transpustaka.
- Tarigan, Henry Guntur. 1985\. *Pengajaran Semantik*. Bandung: Penerbit Angkasa.

**Penulis:** Ivan Lanin

**Penyunting:** Dessy Irawan