> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Nosisme: Ketika “Aku” Menjadi “Kita” dan “Kami”
- URL: https://coba.narabahasa.id/nosisme-ketika-aku-menjadi-kita-dan-kami/
- Published: 2021-11-24T11:00:31.000Z
- Updated: 2021-11-24T11:00:31.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Linguistik Umum, nosisme, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Apakah Kerabat Nara pernah melihat seseorang menggunakan kata *kami* atau *kita* (pronomina persona pertama jamak) untuk memaknai *aku* atau *saya* (pronomina persona pertama tunggal)? Biasanya dalam sebuah artikel atau esai, ada beberapa penulis yang memanfaatkan kata ganti *kita* supaya terkesan lebih dekat dengan pembaca. Saya pun sering menerapkan hal ini. Lebih lanjut, dalam sebuah editorial atau tajuk rencana, ada juga penulis yang memasukkan kata ganti *kami* guna mewakili awak redaksi suatu media.

Penggunaan pronomina persona pertama jamak untuk menggantikan kata ganti *saya* atau *aku* disebut *nosisme*. Pada Merriam-Webster, *nosism* memiliki dua arti: (1) ‘*the conceit or pride of a group of persons*’ dan (2) ‘*the practice of using *we* in giving one’s opinion*’. Memang, pembahasan mengenai nosisme cukup sulit untuk ditemukan di internet. Namun, setidaknya [Wikipedia](https://id.wikipedia.org/wiki/Nosisme?ref=coba.narabahasa.id) telah menyajikan artikel yang cukup jelas, khususnya tentang klasifikasi nosisme:

1. Pluralis *majestatis* (*royal we* atau plural keagungan) yang sering digunakan dalam lingkup kerajaan. Contohnya adalah ucapan terkenal dari Ratu Victoria, “*We are not amused.*”
2. Pluralis editorial (plural editorial) yang biasa dimanfaatkan oleh seorang redaktur dalam membuat pernyataan redaksi. Contohnya adalah *Edisi majalah ini *kami* buat dalam rangka memperingati perjuangan almarhum Munir Said Thalib.*
3. Pluralis *modestiae* (plural kesantunan) yang dapat kita gunakan untuk mengurangi kesan congkak. Misalnya, alih-alih memanfaatkan kata ganti *saya* atau *aku*, kata ganti *kita* dapat dipakai dalam potongan kalimat **Kita* sudah pernah dengar bahwa ….*
4. Pluralis *auctoris* (plura penulis) yang biasa dipakai untuk memangkas jarak antara penulis dan pembaca. Contohnya adalah *Pada bab selanjutnya, *kita* akan membahas isu ini secara detail.*

Saya rasa, beberapa dari kita yang berprofesi sebagai penulis atau sering berbicara di depan publik pernah menggunakan nosisme. Terkadang, nosisme dapat mencerminkan kerendahan diri dan mendekatkan kita dengan pendengar atau pembaca. Namun, jika digunakan secara berlebihan, nosisme mungkin saja menunjukkan kesoktahuan. Ingat, belum tentu apa yang *saya* rasakan dan ketahui dapat diterjemahkan menjadi pengalaman kolektif.

#nosisme

**Penulis:** Yudhistira 

**Penyunting:** Ivan Lanin