> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Nilai Religius Ungkapan Kematian
- URL: https://coba.narabahasa.id/nilai-religius-ungkapan-kematian/
- Published: 2024-08-08T04:27:08.000Z
- Updated: 2024-08-08T04:27:08.000Z
- Author: Holy Adib
- Tags: kalimat, Linguistik Umum, Semantik, kematian, nilai religius, ungkapan, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bahasa merepresentasikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat penuturnya, termasuk nilai religius. Dalam bahasa Indonesia hal itu terlihat dari [ungkapan](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kata/membedah-ungkapan-sependek-pengetahuan-saya/?ref=coba.narabahasa.id) yang berhubungan dengan kematian. 

Ada sejumlah ungkapan bermakna ‘mati’ yang memuat nilai religius, misalnya *berpulang* (*ke rahmatullah*), *meninggal dunia*, *dipanggil Tuhan*, *memenuhi panggilan Tuhan*, *kembali kepada Tuhan*/*pencipta*, dan *kembali ke haribaan-Nya*. Dalam agama Abrahamik diyakini bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan berasal dari surga. Bisa jadi bahwa ungkapan *berpulang* (*ke rahmatullah*) dan *kembali* *kepada Tuhan*/*pencipta* berasal dari penganut agama Abrahamik. Mereka yakin bahwa dunia merupakan tempat merantau dan suatu saat mereka akan pulang ke kampung halaman dan kembali kepada Tuhan. Oleh sebab itu pula, mereka menyebut “mati” dengan *meninggal(kan) dunia*, pergi dari dunia menuju tempat asal untuk *memenuhi panggilan Tuhan*. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir lantaran mereka percaya bahwa mereka akan *dipanggil Tuhan* setelah beberapa lama hidup di dunia. Hal itu sesuai dengan ucapan *inna lillahi wa inna ilaihi rajiun* dalam Islam, yang biasa diucapkan oleh muslim sewaktu mendengar kabar kematian. Ucapan yang dinukil dari Surah Al-Baqarah ayat 156 itu berarti ‘Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan hanya kepada Allah kami kembali’. 

Ungkapan-ungkapan itu berhubungan dengan ungkapan-ungkapan lain yang menyertai peristiwa kematian, misalnya *semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya*. Orang yang mengucapkan *semoga mendapat tempat yang layak di sisi-Nya* sepertinya percaya bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke sisi Tuhan. Ada ungkapan lain yang senapas dengan ungkapan tersebut, yaitu *kembali ke hadirat ilahi*/*Tuhan* dan *kembali ke haribaan Tuhan*. *Hadirat* berarti ‘hadapan’, biasanya digunakan berdampingan dengan kata *Tuhan* dan sebagainya, sedangkan *haribaan* artinya ‘pangkuan’, juga sering digunakan berdampingan dengan kata *Tuhan*. Ketika mendengar ungkapan itu, kita bisa membayangkan betapa dekatnya ciptaan dengan penciptanya. Kedua ungkapan tersebut memiliki hakikat bahwa manusia yang disebut mati di dunia sebenarnya pulang ke hadapan atau ke pangkuan penciptanya. Jika menghayati ungkapan itu, kita seharusnya tidak menangisi orang yang meninggal dunia sebab sejatinya ia bahagia: dipangku Sang Pencipta dengan kasih sayang. Adakah kebahagiaan melebihi dipangku Tuhan yang Maha Penyayang? 

Selain itu, ada ungkapan *selamat jalan* dan *semoga dilapangkan jalannya.* Ungkapan tersebut memiliki implikasi adanya roh yang tidak ikut mati bersama tubuh yang mati secara biologis. Dalam ungkapan itu terkandung keyakinan bahwa roh akan menempuh perjalanan yang agaknya tidak mudah (sehingga perlu didoakan agar jalan yang dilalui roh itu lapang). Oleh sebab itu, diucapkan *selamat jalan* oleh orang yang ditinggalkan kepada roh yang akan menempuh perjalanan tersebut. Karena yakin bahwa suatu saat juga akan berpulang, orang yang ditinggalkan mengucapkan *sampai jumpa lagi*. Ungkapan itu agaknya menyimpan keyakinan, juga harapan, bahwa mereka akan berjumpa kelak di kehidupan lain. 

Semua ungkapan itu bermuara pada keyakinan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kematian yang tampak sebagai akhir kehidupan ternyata awal kehidupan lain. Penganut agama Abrahamik memang memercayai hal itu sebab dalam kitab suci masing-masing ada kabar tentang surga dan neraka. 

Ungkapan-ungkapan bermakna ‘mati’ milik orang beriman itu jelas berbeda dengan ungkapan *mati* dalam ilmu kedokteran, yang bermakna tidak berfungsinya secara permanen organ-organ vital dan matinya miliaran sel sebab tidak ada lagi regenerasi sel-sel tersebut. Ungkapan *mati* sama dengan ungkapan *mengembuskan napas terakhir* karena manusia tidak lagi mengonsumsi oksigen sebagai akibat tidak berfungsinya organ-organ vital (jantung, paru-paru, otak). 

Di samping *mati* ada ungkapan *tutup usia*, yang hanya menyiratkan arti bahwa usia seseorang telah usai. Keduanya merupakan ungkapan yang tidak mengandung nilai religius. Oleh karena itu, ungkapan *mati* dan *tutup usia* dapat dikatakan bersifat netral. Orang yang tidak percaya Tuhan pun dapat menggunakan ungkapan tersebut tanpa gengsi akan keyakinannya. Jika ateis memakai ungkapan *berpulang* (*ke rahmatullah*), *dipanggil Tuhan*, *memenuhi panggilan Tuhan*, *kembali kepada Tuhan*, atau *kembali ke haribaan-Nya*, tentu teis bisa meledeknya dengan pertanyaan retoris, “Tidak percaya Tuhan, *kok*, menggunakan ungkapan yang menyiratkan adanya Tuhan?”

Penulis: Holy Adib  
Penyunting: Rifka Az-zahra