> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Ngapain?
- URL: https://coba.narabahasa.id/ngapain/
- Published: 2024-07-01T10:57:31.000Z
- Updated: 2024-07-01T10:57:31.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Umum, Morfologi, Kata, Ngapain, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

*Ngapain* adalah kata yang ajaib menurut saya. Coba, bagaimana kata ini bisa terbentuk? Dalam bahasa Indonesia, umum bagi kita untuk mengucapkan *ngopi*. Kata ini dipenggal dari bentuk utuhnya, yaitu *mengopi*. Kata *nyanyi* pun bertebaran di mana-mana. Frekuensi penggunaannya barangkali lebih marak ketimbang *menyanyi*. Namun, bagaimana dengan kata *ngapain*? 

Apakah pola pembentukannya berangkat dari *mengapa*, lalu menjadi *ngapa*, dan mendapatkan [imbuhan](https://medium.com/@ivanlanin/matriks-imbuhan-7886c04e5667?ref=coba.narabahasa.id) akhir *\-in* sehingga terbentuklah *ngapain*? Kemungkinan lainnya, *ngapain* dikonstruksi dari kata dasar *apa* yang mendapatkan simulfiks *ng-* dan sufiks *\-in* dalam ragam cakapan.

1.a Kamu *ngapain*, sih, lihat-lihat saya terus?

1.b Kamu cantik banget hari ini.

2.a Kamu lagi *ngapain*?

2.b Lagi *nonton* film, nih.

Perhatikan dua contoh di atas. *Ngapain* bisa menempati dua fungsi. Pada contoh pertama, *ngapain* mengartikan ‘Kamu *mengapa/kenapa*, sih, lihat-lihat saya terus?’. Dugaan pembentukan *ngapain* dari kata *mengapa* bisa terjawab di sini. Sementara itu, *ngapain* pada contoh kedua menggambarkan ‘Kamu lagi *apa*?’. Maka, *ngapain* pun bisa saja terbentuk pula dari formula dasar *apa*.

Saya kira tidak adil untuk membedah bentuk dasar *ngapain* lewat pola aktifnya saja. Kita tentu tidak pernah menggunakan *dimengapain* atau *dikenapain* sebagai wujud pasif. Sebaliknya, *diapain* terdengar lebih familier.

3.a Jangan takut. Bilang saja ke aku kalau kamu *diapa-apain* sama dia!

3.b Tadi AC-nya *diapain*? Kok, jadi panas banget?

Contoh di atas makin menegaskan bahwa *ngapain* terbentuk dari *apa*, bukan *mengapa*. Meskipun begitu, ia tetap dapat mengartikan *mengapa*, seperti yang terlihat pada contoh nomor 1\. Ajaib.

Rujukan: Kridalaksana, Harimurti. 2010\. [*Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*](https://narabahasa.id/artikel/resensi-kebahasaan/buku/bagaimana-kata-terbentuk-resensi-buku-pembentukan-kata-dalam-bahasa-indonesia/?ref=coba.narabahasa.id). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin