> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Mufakat, Pakat, dan Sepakat
- URL: https://coba.narabahasa.id/mufakat-pakat-dan-sepakat/
- Published: 2021-03-13T11:00:34.000Z
- Updated: 2021-03-13T11:00:34.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Morfologi, metanalisis, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Sebuah kata dapat terbentuk melalui [pemadanan](https://coba.narabahasa.id/transliterasi-penyerapan-dan-urgensi-pemadanan/), afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, abreviasi, dan derivasi balik. Selain itu, ada pula metanalisis yang saya rasa jarang dibahas oleh peneliti linguistik di Indonesia. Berdasarkan *Kamus Linguistik Edisi Keempat* (2009), metanalisis adalah proses terjadinya bentuk karena pemenggalan yang tidak dapat dijelaskan secara historis. 

Salah satu contoh yang dapat menggambarkan metanalisis adalah kata *sepakat*. Dalam KBBI V, *sepakat* berarti ‘setuju; semufakat; sependapat atau seia sekata’. Menurut Kridalaksana (2010), *sepakat* merupakan peleburan *se-* dengan kata *pakat* yang diambil dari *mupakat*\--bentuk tidak baku dari *mufakat*. Padahal, *mufakat* itu sendiri diserap dari bahasa Arab dan bukan peleburan *mu-* dengan -*fakat*. Perhatikan penjelasan Kridalaksana di bawah ini.

“Misalnya munculnya bentuk *pakat* dalam *sepakat*, karena kata *mufakat* (yang berasal dari kata Arab *mufakat*) secara ‘salah’ disegmentasikan atas *mu + pakat* (yang tidak ada dalam bahasa aslinya).”

Kridalaksana secara terang-terangan menuliskan bahwa metanalisis adalah kesalahan segmentasi atau pemenggalan sebuah kata dasar. Itu berarti, dapat dibilang, ada kata-kata yang terbentuk berkat laku penyimpangan, entah disengaja atau berlandaskan pada ketidaktahuan. Oleh karena itu, barangkali, metanalisis tidak dapat dijelaskan secara historis. 

*Sepakat* bukanlah satu-satunya kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk melalui metanalisis. Contoh lainnya adalah kata *niaga* yang sebetulnya diserap dari kata Sanskerta, *vanijya.* Kata *vanijya* kemudian disesuaikan ke dalam bentuk *berniaga*. Barulah, setelah itu, kata *niaga* lahir. Lebih dari itu, metanalisis dapat pula kita lihat pada tingkat proleksem *pramu*\-. Berangkat dari kata *pramugari*, muncullah bentuk lain, seperti *pramuwisata, pramuniaga, pramuwisata,* dan *pramuria*. Padahal, *pramugari*, pada bahasa aslinya, yaitu Jawa, merupakan satu kata yang utuh, bukan peleburan antara *pramu-* dengan *\-gari*. Proleksem *pramu*\- mengalami pergeseran makna dan kini diartikan sebagai ‘yang melayani’ atau ‘yang bergerak dalam bidang jasa’.

**Rujukan**:

- Kridalaksana, Harimurti. 2009\. *Kamus Linguistik: Edisi Keempat*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Sepakat. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil pada 12 Maret 2021 dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sepakat](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sepakat?ref=coba.narabahasa.id).

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin