> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Morfem: Bahan Dasar Pembentuk Kata
- URL: https://coba.narabahasa.id/morfem-bahan-dasar-pembentuk-kata/
- Published: 2021-01-31T11:00:01.000Z
- Updated: 2021-01-31T11:00:01.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Morfologi, alomorf, morfem, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Kridalaksana dalam *Kamus Linguistik* menambahkan bahwa makna morfem tidak dapat dibagi lagi menjadi sesuatu yang lebih kecil. Cara termudah untuk mengidentifikasi sebuah morfem adalah dengan membandingkan bentuk tersebut (morfem) dengan bentuk-bentuk lain. 

Ada contoh yang menarik dari Abdul Chaer. Beliau mengidentifikasi morfem melalui kata *kedua, ketiga, kelima, kesembilan,* dan *kesebelas.* Chaer menuliskan bahwa apabila sebuah bentuk bisa berdampingan dengan bermacam-macam bentuk lainnya, berarti ia adalah morfem. Pada contoh tersebut, *ke*\- hadir secara terus-menerus dan mengartikan hal yang serupa, yakni tingkat atau derajat. *Ke-* juga tidak bisa dipecah lagi ke dalam bentuk yang lebih kecil. Maka dari itu, *ke-* merupakan morfem.

Sementara itu, kita sama-sama tahu bahwa *ke* dapat pula berdiri sebagai preposisi yang ditulis terpisah dari bentuk lain. Contohnya adalah *ke pasar, ke belakang,* dan *ke sekolah*. Pada tiga frasa tersebut, *ke* sama-sama menunjukkan arah, tempat, dan tujuan. *Ke* dalam tiga contoh itu pun tidak dapat dipecah lagi menjadi sesuatu yang lebih kecil. Berarti, *ke* sebagai preposisi juga merupakan morfem.

Apakah *ke-* dan *ke* merupakan morfem yang sama? Jawabannya: tidak. Karena memiliki makna gramatikal yang berbeda, *ke-* dan *ke* adalah morfem yang berbeda pula.

**Alomorf**

Perlu diketahui lebih lanjut bahwa sebuah morfem bisa memiliki variasi. Anggota-anggota suatu morfem ini disebut *alomorf*. Dalam bahasa Indonesia, *me-* merupakan morfem yang memiliki enam alomorf, yaitu *me-* itu sendiri, *men-, meny-, mem-, meng-,* dan *menge-.* Penggunaan kelima alomorf pertama harus disesuaikan dengan fonem yang mengikutinya. Perhatikan tabel berikut.

| **Alomorf** | **Fonem**                  | **Contoh**                                                                                              |
| ----------- | -------------------------- | ------------------------------------------------------------------------------------------------------- |
| me-         | l, r, w, y, m, n, ny, ng   | melarang, merawat, mewarnai, meyakinkan, memasak, menaiki, menyanyi, menganga                           |
| men-        | t, d                       | mentransfer, mendobrak                                                                                  |
| meny-       | s                          | menyikat                                                                                                |
| mem-        | b, p, f                    | membaca, mempunyai, memfasilitasi                                                                       |
| meng-       | a, i, u, e, o, k, g, h, kh | mengabdi, mengigau, mengumpat, mengentas, mengobral, mengaitkan, menggendong, menghadiri, mengkhususkan |

Pada alomorf *meny-*, fonem konsonan /s/ mengalami peluluhan sehingga *sikat* menjadi *menyikat*. Hal ini juga terjadi pada fonem konsonan /k/ ketika bertemu dengan alomorf *meng-* sehingga *kait* beralih *mengaitkan*.

Alomorf yang terakhir, *menge*\-, tidak saya sertakan dalam tabel karena alomorf tersebut tidak bergantung pada fonem yang mengikutinya. *Menge-* digunakan ketika kita bertemu dengan bentuk dasar yang hanya memiliki satu suku kata (ekasuku), seperti *menge*bom*, menge*cat*,* dan *menge*tik**.

Sebetulnya, terdapat tiga pandangan yang berbeda mengenai alomorf, khususnya dalam kasus *me*\-. Ada kalangan yang mengatakan bahwa *me-* hanyalah alomorf dari morfem *men-.* Ada pula yang menyebut bahwa morfem dari alomorf-alomorf di atas adalah *meng-.* Pada artikel ilmiah berjudul “Awalan Me-/Men-/Meng- + S- atau Meng-?” (Kentjono, 2017), *me-* dinyatakan sebagai morfem oleh linguis tradisional. Para penyusun *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia* memilih *meng-* sebagai morfem*.* Sebaliknya, *men-* dipilih sebagai morfem oleh para linguis di jenjang perguruan tinggi.

Perbedaan pendapat mengenai morfem dan alomorf membuktikan bahwa penelitian pada bidang morfologi masih terus berjalan. Penting bagi kita untuk terus mengikutinya sebab “morfem merupakan bahan dasar pembentukan kata” (Kentjono, 2017). Berkat proses morfologis atau morfemis, sebuah kata dapat mengalami afiksasi, reduplikasi, dan komposisi yang kemudian membentuk kalimat, paragraf, dan wacana.

**Rujukan**:

- Chaer, Abdul. 2007\. *Linguistik Umum.* Jakarta: Rineka Cipta.
- Kentjono, Djoko. 2017\. “Awalan Me-/Men-/Meng- + S- atau Meng-?”. Dalam Jurnal *Dialektika: Jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia,* 4(2) (hlm. 146--165). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
- Kridalaksana, Harimurti. 2009\. [*Kamus Linguistik: Edisi Keempat*](https://books.google.co.id/books?id=gKNLDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs%5Fvpt%5Fread#v=onepage&q&f=false). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Kushartanti, dkk. (ed). 2005\. [*Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik*](https://narabahasa.id/artikel/resensi-kebahasaan/buku/resensi-buku-pesona-bahasa-langkah-awal-memahami-linguistik/?ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin