> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Monolog dan Solilokui, Samakah?
- URL: https://coba.narabahasa.id/monolog-dan-solilokui-samakah/
- Published: 2023-01-14T01:01:08.000Z
- Updated: 2023-01-14T01:01:08.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, aside, monolog, solilokui, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kerabat Nara mungkin pernah menonton film atau membaca buku dan menemukan seorang tokoh yang berbicara sendirian. Iya, saya rasa, sebagian dari kita menyebutnya begitu: berbicara sendiri. Selain itu, beberapa dari kita menggunakan terminologi yang lebih keren, yakni monolog.

Memang, tokoh yang kita saksikan atau kita baca ketika berbicara sendiri dapat dibilang sedang bermonolog. Panuti Sudjiman (1990) dalam *Kamus Istilah Sastra* mendefinisikan *monolog* sebagai cakapan tunggal, yakni ‘cakapan panjang yang diucapkan oleh seorang tokoh saja dalam sebuah karya sastra, baik yang ditujukan kepada dirinya sendiri maupun yang ditujukan kepada pembaca atau pendengarnya’. Istilah lain dari monolog adalah *ekacakap*. Bagus sekali, ya?

Sementara itu, dalam buku yang sama, Sudjiman menjelaskan bahwa *solilokui* dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari si tokoh, untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar’. Sinonim solilokui adalah *senandika*.

Dalam buku Sudjiman itu, definisi *monolog* dan *solilokui* bertumpang tindih. Coba lihat, monolog dapat juga ditujukan kepada diri sendiri, sama seperti solilokui. Hal ini pun turut tercatat dalam KBBI V. *Monolog* diartikan sebagai ‘pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri’ dan *solilokui* adalah ‘cara aktor menyampaikan curahan hati dan keluhan dari tokoh yang diperankan dengan berbicara seorang diri’. Apakah keduanya betul-betul sama?

Saya menemukan satu tulisan yang mungkin bisa sedikit mencerahkan. Pada 2018, Robert Longley menyatakan bahwa *monolog* tidak ditujukan untuk diri sendiri. Pidato, misalnya, adalah laku monolog. Presentasi tunggal dalam rapat di zaman ini juga barangkali dapat dianggap sebagai monolog.

Di lain sisi, *solilokui* adalah pernyataan panjang yang khusus dialamatkan kepada diri sendiri. “*In simple terms, if other characters can hear and possibly respond to what a character is saying, the speech cannot be a soliloquy*,” tulis Longley. Dari penjelasan Longley, bisa dikatakan bahwa *monolog* dan *solilokui* memang sama-sama laku berbicara sendiri, tetapi dengan sasaran yang berbeda.

Di luar *monolog* dan *solilokui*, ada pula istilah *aside*. Saya belum menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, *aside* cenderung lebih pendek ketimbang solilokui dan monolog. Panjangnya kira-kira satu hingga dua kalimat saja. 

*Aside* dilakukan oleh seorang tokoh yang sedang beradegan dengan tokoh lain. Hanya saja, dia tidak berkata kepada mereka, tetapi kepada penonton. Tokoh lain yang berada dalam adegan tersebut tidak mendengar sebuah *aside*. Kerabat Nara pernah menonton sebuah film lalu seorang tokoh berpaling dan berbicara kepada kita (penonton) melalui kamera? Itu adalah laku *aside*.

**Rujukan:**

- Longley, Robert. 2018\. “[What Is a Soliloquy? Literary Definition and Examples](https://www.thoughtco.com/soliloquy-literary-definition-4169546?ref=coba.narabahasa.id)”. ThoughtCo. Diakses pada 12 Januari 2023.
- Sudjiman, Panuti. 1990\. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin