> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Minggir!
- URL: https://coba.narabahasa.id/minggir/
- Published: 2024-02-08T03:20:37.000Z
- Updated: 2026-09-23T11:18:18.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, Morfologi, minggir, simulfiks, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bagaimana *minggir* bisa terbentuk? Kata dasarnya adalah *pinggir* yang memaknai ‘tepi’ atau ‘sisi’. Melalui [afiksasi](https://coba.narabahasa.id/content/files/2026/09/afiks-dalam-bahasa-indonesia.html) berupa [prefiks](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/fonologi/morfofonemik-prefiks-per-dari-masa-ke-masa/?ref=coba.narabahasa.id), terciptalah *meminggir* yang artinya ‘menepi’. Dalam ragam cakapan, kata *pinggir* juga bisa mengalami afiksasi lain, yakni simulfiks. Simulfiks merupakan afiksasi yang berfokus pada penekanan ciri segmental, seperti *kebut* menjadi *ngebut* atau *kopi* menjadi *ngopi*. Kata *pinggir* yang mengalami simulfiks beralih menjadi *minggir*. Sebagaimana afiksasi yang dapat mengubah kategori kelas kata, *pinggir* yang merupakan nomina pun bertransformasi menjadi verba dalam kata *minggir*.

Namun, yang saya rasa menarik untuk dibicarakan adalah konotasi yang menyertai kata *minggir*. Kita mungkin sering mendengar seseorang berkata, “Minggir!” Selain umumnya kata itu diucapkan dalam konteks bercanda, tidak jarang juga ia diutarakan dengan nada tinggi. Bisa dibilang, "Minggir!" pun terkadang berdiri sebagai bentuk makian. Moeliono dkk. (2017) dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat* bahkan menuliskan bahwa *minggir* dapat berdiri sebagai kalimat imperatif permintaan. 

Makin singkat kalimat imperatif permintaan, makin kentara tingkat ketegasan atau kekasarannya. Saya jarang mendengar seseorang mengatakan “Meminggir!” atau “Meminggir kau!” Di jalanan, pengemudi yang emosi lebih sering mengutarakan “Minggir!” Bahkan, tanpa kata seru, *minggir* mampu menggambarkan ketegasan. Hal ini sukar kita temukan pada simulfiks *ngopi*. Coba kita simak contoh yang berbeda.

a. Ayo, *ngopi*!  
b. Ayo, *minggir*!

a. Lebih baik kamu *ngopi* dulu.  
b. Lebih baik kamu *minggir* dulu.

Terasa, kan, perbedaannya? Pada kalimat 1a, mudah untuk menemukan suasana yang hangat, seperti sudah tidak lama bertemu dengan kerabat atau saudara. Dengan secangkir kopi yang memantik obrolan, kerinduan bisa dilampiaskan. Namun, suasana yang mencekam lebih bisa kita temukan pada kalimat 1b. Hal serupa dapat kita temukan pada contoh kalimat 2\. Meskipun sama-sama anjuran, contoh a dan b mengangkat suasana yang berbeda. 

Pertanyaannya, kalau begitu, apakah simulfiks bisa turut mengubah konotasi sebuah kata? Atau perubahan konotasi tersebut hanya dapat ditemui pada kata *minggir*?

Rujukan:

- Kridalaksana, Harimurti. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Moeliono, Anton. M dkk. 2017\. [*Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat*](https://repositori.kemdikbud.go.id/16351/1/Tata%20Bahasa%20Baku%20Bahasa%20Indonesia%20edisi%20keempat.pdf?ref=coba.narabahasa.id). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin