> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Menyelisik Pasca
- URL: https://coba.narabahasa.id/menyelisik-pasca/
- Published: 2020-10-17T15:13:24.000Z
- Updated: 2020-10-17T15:13:24.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Ejaan, Kata, Morfologi, bentuk terikat, pasca, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

*Pasca* merupakan salah satu kata yang cukup sering digunakan pada artikel-artikel media massa. Coba tik *pasca* di peramban Anda dan pilih kategori “Berita”. Muncullah judul-judul yang menggunakan kata *pasca* seperti *pascaoperasi*, *pasca demo*, *pasca-pengesahan*, dan sebagainya. Pertanyaannya, apakah kita perlu membubuhkan spasi atau tanda hubung (-) setelah *pasca*? Bisakah kita menulis *pasca* [tanpa tanda](https://coba.narabahasa.id/empat-fungsi-tanda-hubung-dalam-bahasa-indonesia/) hubung dan merangkainya dengan kata berikutnya?

*Pasca* tergolong ke dalam proleksem, yakni bentuk bahasa yang memiliki makna leksikal, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Contoh lain proleksem ialah *awa-, adi-,* dan *catur*\-. Berarti, *pasca* merupakan bentuk terikat yang ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Dari segi pelafalan, *pasca* diucapkan dengan /c/, bukan /k/.

Banyaknya kebingungan atau kekeliruan penggunaan kata terkadang diakibatkan oleh tidak tahunya kita tentang asal-usul dan sejarah penggunaan kata itu sendiri. Kurnia J.R. dalam artikelnya yang berjudul “Pasca” menuliskan bahwa ada pihak yang menyangka bahwa *pasca* merupakan serapan dari bahasa Yunani. Padahal, *Kamus Dewan* terbitan Kuala Lumpur pada 1991 mengatakan bahwa *pasca* berasal dari bahasa Indonesia. Keterangan mengenai kata *pasca* kemudian diperjelas dalam *Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia* (2003) yang disusun oleh J.S. Badudu. Ternyata, *pasca* diserap dari bahasa Sanskerta. Badudu bersama Sutan Mohammad Zain juga telah memerikan peringatan pada lema *pasca* dalam *Kamus Umum Bahasa Indonesia* (1996). “Awas: bukan paska”, begitu tulis mereka.

*Pascasarjana, pascademo,* dan *pascakonser* merupakan contoh penulisan *pasca* yang tepat. Ia terikat. Akan tetapi, apabila kata berikutnya menggunakan awalan kapital karena mencirikan nama atau merk, kita perlu membubuhkan tanda hubung sehingga menjadi *pasca-Demo Omnibus Law* atau *pasca-Konser Ulang Tahun Indonesia.* Kurnia J.R. juga mengingatkan, sebagai bentuk terikat, *pasca* tidak semestinya digunakan dalam komposisi frasa, seperti *pasca meletusnya* dan *pasca terjadinya kekerasan.* Alih-alih menggunakan tanda hubung (*pasca-meletusnya*) atau ditulis serangkai (*pascameletusnya*), akan lebih baik apabila kita mengganti *pasca* dengan *setelah* atau *sesudah*.

**Rujukan**:

- [PUEBI](https://puebi.readthedocs.io/en/latest/kata/kata-berimbuhan/?ref=coba.narabahasa.id)
- J.R., Kurnia. 2006\. “Pasca”. Dalam *Koran Tempo*. Diakses pada 13 Oktober 2020.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin