> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Menuliskan Kisah Personal, Merangkainya agar Bermakna
- URL: https://coba.narabahasa.id/menuliskan-kisah-personal-merangkainya-agar-bermakna/
- Published: 2026-09-09T05:13:39.000Z
- Updated: 2026-09-23T10:11:06.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Berita, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

![](https://coba.narabahasa.id/content/images/2026/09/whatsapp-image-2026-09-08-at-15-35-42-1-jpeg.jpg)

Merabu pekan ini sudah memasuki episode ke-7 dengan menggandeng penulis cerita pendek (cerpen) Firnita Taufick sebagai narasumber pada Rabu, 26 Agustus 2026, pukul 19.00 s.d. 20.30 WIB di Omah Martimbang, Jakarta Selatan. Merabu episode ini bertajuk “Menyihir Pengalaman Personal Menjadi Cerita yang Utuh” yang terdiri atas dua sesi utama, yakni sesi pemantik, sesi praktik, dan sesi berbagi. Program ini dihadiri oleh tujuh peserta yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. 

Merabu dibuka oleh Muhammad Rauf Fauzy sebagai moderator yang menyambut Firnita sekaligus peserta dengan meriah. Berbeda dengan sebelumnya, Merabu kali ini dilaksanakan dengan mengusung konsep “meriung” di atas karpet. Firnita memulai diskusi dengan memantik peserta untuk memperkenalkan diri dan menyebutkan warna favorit beserta alasannya. Jawaban peserta cukup beragam. 

Lalu, Firnita menjelaskan bahwa pertanyaan itu mengantarkan peserta pada sesi praktik. Firnita memberikan pengantar singkat terlebih dahulu tentang makna personal dan kisah dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dianggap personal. Kemudian, Firnita memberikan tiga topik pemantik yang dapat menjadi inspirasi bagi peserta. Tiga topik tersebut terdiri atas liburan ke rumah nenek, peristiwa patah hati pertama kali, dan liburan sekolah. Ketiga kata kunci yang diberikan dinilai membantu peserta dalam menyusun pengalaman personal menjadi cerita yang utuh. 

Sesi menulis yang hening berlangsung selama 40 menit. Peserta diarahkan untuk menulis cerita menggunakan media kertas dan spidol. Berikutnya, cerita yang sudah utuh tersebut diapresiasi dengan cara dibacakan oleh peserta yang berkenan untuk membagikan kisahnya. Hampir semua peserta berani untuk melakukan pembacaan tersebut. Ada yang mengangkat kisah masa kecil yang kelam, makna kehilangan seorang nenek yang baru terasa ketika ia telah tiada, pengalaman patah hati lantaran dikhianati teman masa kecil, dan masih banyak lagi. 

Dalam sesi berbagi tersebut, Firnita menyampaikan pendapatnya tentang muatan cerita yang dimulai dari alur dan batasan sisi personal penulis. Selain itu, Firnita juga memberikan masukan apabila ada peserta yang masih kesulitan menumpahkan ide menariknya ke dalam tulisan. Salah satu peserta, Intan, mengaku bahwa ia kehilangan hobi menulisnya semenjak bekerja di sebuah perusahaan lantaran sudah sibuk dengan pekerjaan. “Sewaktu sekolah, saya produktif dalam menulis, entah itu esai ataupun cerita pendek. Namun, ketika sudah bekerja, rasanya seperti kehilangan ruang nyaman untuk dapat menulis dan membagikan hasil tulisan saya kepada pembaca,” ungkap Intan. 

Terakhir, Firnita memberikan satu strategi andalannya. “Satu kebiasaan yang kerap saya lakukan agar fokus tidak terganggu saat menulis, yakni dengan mengaktifkan fitur *white text colour* agar proses menulis tetap mengalir tanpa terganggu kebiasaan mengedit,” jelasnya. Melalui program Merabu ini, Firnita menitip pesan kepada peserta untuk terus menulis apapun kondisi atau keadaan yang menjadi keresahan dalam mengelola emosi agar lebih tenang.

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra