> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Menulis “jeruk bali” dan “batik Solo”
- URL: https://coba.narabahasa.id/menulis-jeruk-bali-dan-batik-solo/
- Published: 2021-03-30T11:00:49.000Z
- Updated: 2021-03-30T11:00:49.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Ejaan, kapitalisasi, nama diri, nama jenis, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

*Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia* (PUEBI) telah mengatur pemakaian huruf kapital. Sebagaimana kita tahu, huruf kapital digunakan untuk menuliskan nama orang, jabatan yang diikuti nama orang, peristiwa sejarah, nama bahasa, suku bangsa, dan sebagainya.

Contoh:

1. Andra Ramadhan
2. Presiden Joko Widodo
3. zaman Orde Baru
4. bahasa Indonesia
5. suku Madura
6. Pulau Bali
7. Danau Toba

Barangkali, Kerabat Nara masih bingung dengan contoh nomor 4–7\. Di situ, **b*ahasa* dan **s*uku* ditulis dengan awalan kecil. Hal ini berbeda dengan penulisan **P*ulau Bali* atau **D*anau Toba*. Tentu hal ini menarik dan perlu mendapatkan perhatian yang serius. Sriyanto (2015) mengemukakan bahwa *Pulau Bali* dan *Danau Toba* adalah satu kesatuan nama geografi sehingga kata *pulau* dan *danau* pun mesti ikut dikapitalisasikan. Sementara itu, *bahasa* dalam *bahasa Indonesia* dan *suku* dalam *suku Madura* bukanlah bagian dari nama geografi. Keduanya (*bahasa* dan *suku*) tergolong ke dalam benda takbernyawa. Bagaimana cara membedakannya?

Junaiyah (2006) telah melakukan pengklasifikasian yang cukup jelas mengenai nama diri. Menurutnya, nama diri mencakup nama Tuhan, diri persona, peristiwa penting, benda khas geografi, serta benda bernyawa dan takbernyawa. Simak pemaparan di bawah ini.

1. Nama diri Tuhan: *A*llah, *Y*esus *K*ristus, dan *W*idiwasa
2. Nama diri persona: *A*gus, *D*ewi *A*phrodite, dan *M*alaikat *I*srafil
3. Nama diri yang berhubungan dengan kalender: *R*evolusi *P*rancis, *F*ebruari, dan *O*rde *B*aru
4. Benda khas geografi: *P*ulau *B*ali, *D*anau *T*oba, dan *P*lanet *V*enus
5. Benda:

a. Bernyawa: si *J*angkung (orang), si *R*imbun (tumbuhan), dan si *B*elang (hewan)

b. Takbernyawa: *b*angsa Indonesia, *b*ahasa Jawa, dan *s*uku Madura

Dengan pengklasifikasian di atas, kini kita bisa mengetahui alasan di balik penulisan **b*ahasa Jawa* dan **P*ulau Jawa*.

Lalu, bagaimana dengan penulisan *jeruk bali*? Apakah kedua kata tersebut ditulis dengan awalan kapital, seperti **J*eruk *B*ali*, **j*eruk *B*ali*, atau justru **J*eruk *b*ali*? 

Menurut Sriyanto, nama geografi yang menjadi bagian dari nama jenis tidak perlu ditulis dengan awalan kapital. Iya. Jeruk bali tergolong ke dalam nama jenis, bukan nama diri. Nama jenis mewakili sembarang anggota dalam kelas maujud bernyawa dan takbernyawa. Dalam hal ini, *jeruk bali* mewakili jenis jeruk sebagai tumbuhan. Berarti, **j*eruk *b*ali* ditulis dengan awalan huruf kecil. 

Cara mudah lainnya untuk menentukan penggolongan nama jenis dalam tumbuhan adalah dengan mengecek nama Latin-nya. Apabila ia memiliki nama Latin, unsur geografisnya tidak perlu dikapitalkan. 

Contoh:

1. jeruk bali (*Citrus maxima*)
2. kacang bogor (*Voandzeia subterranean*)
3. terung belanda (*Cyphonandra betacea*)

Ingatlah pula bahwa *jeruk bali* bukan jeruk yang berasal dari Bali. Hal ini berbeda dengan **b*atik *S*olo* yang berarti ‘batik dari Solo’. Dengan demikian, **S*olo* ditulis dengan awalan kapital. 

**Rujukan**:

- Junaiyah, H.M. 2006\. “Penulisan Nama Diri dan Nama Jenis dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Majalah *Ekspresi* Edisi 8 Tahun IV, Desember. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Bahasa.
- Sriyanto. 2015\. *Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Ejaan.* Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin