> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Mengalah dan Mengalahkan
- URL: https://coba.narabahasa.id/mengalah-dan-mengalahkan/
- Published: 2022-04-15T11:00:08.000Z
- Updated: 2022-04-15T11:00:08.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, mengalah, mengalahkan, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kemarin, saya dan seorang kolega memesan taksi daring. Kami hendak menghadiri acara buka puasa bersama dengan teman-teman kantor. Setelah kami menunggu sedikit lama, sopir sampai di lobi.

Pada pukul 17.30 WIB, kami mengarungi jalanan Jakarta yang sedang padat-padatnya. Lalu, sang sopir mengeluh, “Wah, pengendara di Jakarta tuh sama aja semuanya ….” Kami menunggu lanjutan kalimatnya. Tidak lama berselang, dia menegaskan, “Nggak ada yang mau ngalah!”

Rekan kerja saya menanggapi keluhan sang pengemudi. Keduanya jadi berbincang. Namun, saya justru terganggu dengan kata *ngalah* yang diucapkan oleh Mas Sopir. Tentu kita tahu, *ngalah* adalah versi takbaku dari *mengalah*. Bentuk dasar kata ini, yaitu *kalah*, bermakna (1) ‘tidak menang atau dalam keadaan tidak menang’, (2) ‘kehilangan atau merugi karena tidak menang’, (3) ‘tidak lulus (dalam ujian)’, dan (4) ‘tidak menyamai; kurang dari; tidak sebesar; tidak sekuat’. Turunannya, *mengalah*, dapat berarti ‘dengan sengaja kalah; pura-pura kalah’ atau ‘mengaku kalah; dengan sengaja kalah (menyerah); tidak mempertahankan pendapat (tuntutan dan sebagainya)’.

*Mengalah* berbeda dengan *mengalahkan*. Kata yang terakhir saya sebutkan ini mempunyai makna ‘melawan’, ‘menaklukkan’, atau ‘mengungguli’. Makna tersebut sungguh kontras dibanding makna kata *mengalah*. Sementara itu, dengan adanya sufiks *\-kan*, *mengalahkan* tergolong sebagai verba transitif. Sebaliknya, *mengalah* merupakan verba intransitif.

Saya mencoba mencari-cari lagi kategori verba yang cocok ditempati oleh *mengalah*. Selain sebagai verba intransitif, *mengalah*—saya duga—adalah verba konstatatif, yaitu ‘verba yang dalam pertuturan dipergunakan untuk menggambarkan perbuatan, keadaan, atau proses’. Penjelasan mengenai verba konstatatif kemudian saya dapatkan dalam sebuah tesis berjudul “Afiksasi Pembentuk Verba dalam Bahasa Indonesia: Afiks Meng- dan Afiks Ber-” karya Arawinda Dinakaramani (2011). Penulis menjelaskan bahwa gambaran perbuatan, keadaan, dan proses dalam verba konstatatif mencerminkan jawaban atas apa yang dilakukan serta yang terjadi oleh subjek.

Meskipun begitu, ada pertanyaan yang belum bisa saya temukan jawabannya. Bentuk dasar *kalah* dan *menang* dikategorikan sebagai verba. Bentuk turunannya, yakni *mengalahkan* dan *memenangkan*, juga merupakan verba, tepatnya verba transitif. Namun, mengapa ada verba *mengalah*, sedangkan *memenang* tidak ada? Bagaimana sejarah terbentuknya kata *mengalah* ini?

#mengalah #mengalahkan

**Rujukan:**

- Dinakaramani, Arawinda. 2011\. “Afiksasi Pembentuk Verba dalam Bahasa Indonesia: Afiks Meng- dan Afiks Ber-”. Tesis, Program Studi Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Diakses dari [https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20271267-T%2029570-Arawinda%20Dinakarawani-full%20text.pdf](https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20271267-T%2029570-Arawinda%20Dinakarawani-full%20text.pdf&ref=coba.narabahasa.id) pada 15 April 2022.
- Kridalaksana, Harimurti. 2009\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat*. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin