> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Menemukan Subjek dan Predikat dalam Kalimat Inversi
- URL: https://coba.narabahasa.id/menemukan-subjek-dan-predikat-dalam-kalimat-inversi/
- Published: 2025-02-21T08:39:10.000Z
- Updated: 2025-02-21T08:39:10.000Z
- Author: Oktarina Widarsih
- Tags: kalimat, Linguistik Umum, Sintaksis, inversi, linguistik, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Subjek dan predikat di dalam kalimat menjadi unsur terpenting. Bayangkan, jika [subjek](https://narabahasa.id/artikel/resensi-kebahasaan/buku/memahami-pelesapan-subjek/?ref=coba.narabahasa.id) dan predikat tidak ada, informasi pada kalimat tentu tidak akan jelas. Bukan hanya penulis, pembaca pun perlu memahami kehadiran subjek dan predikat untuk mengetahui inti dari kalimat tersebut.

Subjek dan predikat selalu berdekatan karena predikat berfungsi untuk menjelaskan subjek. Secara umum, subjek selalu berada sebelum predikat, kecuali pada kalimat inversi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pembaca dapat mengetahui bahwa kalimat tersebut adalah kalimat inversi?

Inversi (dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia*/TBBBI, 2017 adalah pembalikan urutan antara subjek dan predikat. Jadi, inversi dalam bahasa Indonesia akan menghasilkan konstruksi kalimat dengan predikat mendahului subjek. Namun, ada kemungkinan pembaca mengira bahwa kalimat tersebut seperti tidak memiliki subjek atau predikat, tetapi tetap terterima. Selain itu, pembaca juga bisa salah menentukan subjek atau predikatnya, misalnya pada kalimat berikut.

- *Di dalam pesawat itu, banyak anak SD.*
- *Budi yang mencurinya.*

Subjek dapat dicari dengan pertanyaan *apa/siapa yang dibicarakan*. Jika *apa/siapa yang dibicarakan* ditanyakan pada kalimat (1) di atas, kemungkinan jawabannya *di dalam pesawat.* Namun, apakah benar *di dalam pesawat* merupakan subjek? Pada frasa *di dalam pesawat* terdapat preposisi *di*. Dalam TBBBI, preposisi tersebut menjadi penanda hubungan tempat sehingga berfungsi sebagai keterangan yang menerangkan fungsi lainnya. Oleh karena itu, *di dalam pesawat* tidak menjadi subjek utama, tetapi bisa menjadi keterangan subjek. Hal itu juga diperkuat oleh penjelasan dalam buku *Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat (2014)* bahwa subjek tidak dapat didahului kata depan atau preposisi.

Kemudian, kita dapat menanyakan kembali, *siapa (yang ada) di dalam pesawat*? Jawabannya *anak SD* sehingga frasa *anak SD* menduduki subjek. Lalu, apakah kata *banyak* tidak menjadi perluasan subjek? 

Salah satu ciri frasa adalah kata-kata yang tergabung di dalamnya tidak bisa dibolak-balik karena maknanya akan berbeda. Selain itu, di dalam *Kamus Besar Bahasa Indonesia* (KBBI), frasa adalah satuan gramatikal yang nonpredikatif. Jika kita selisik lagi, kata *banyak* pada kalimat tersebut predikatif karena menandai subjek. Selain itu, kata *banyak* dan frasa *anak SD* dapat di bolak-balik sehingga *banyak* dan *anak SD* bukanlah satu frasa.

Dari penjelasan di atas, kata *banyak* berpotensi menjadi predikat karena kata tersebut membantu menjelaskan situasi subjek. Selain itu, kata *banyak* dapat dinegasikan oleh kata *tidak* menjadi *tidak banyak.* Dengan begitu, dapat disimpulkan, kata *banyak* pada teks di atas berfungsi sebagai predikat.

Pada kalimat (2), jika dianalisis dengan menanyakan *apa/siapa yang dibicarakan*, kemungkinan ada yang menjawab *Budi*. Namun, apakah benar *Budi* subjek kalimat (2)? Selain itu, sekilas kalimat ini seperti tidak memiliki predikat karena Budi yang diduga sebagai subjek mengalami perluasan oleh partikel *yang*. Namun, di sisi lain, jika kalimat (2) hanya memiliki subjek, mengapa kalimat tersebut terasa terterima maknanya? Maka, apakah kalimat ini kalimat inversi atau kalimat tidak lengkap?

Jika diselisik, klitik *\-nya* merujuk pada suatu hal yang hilang. Misalkan yang hilang adalah emas, lalu diberikan pertanyaan *apa/siapa yang dibahas*, jawabannya adalah *yang mencuri emas.* Jadi, frasa *yang mencurinya* adalah subjek, sedangkan *Budi* merupakan predikat karena menyatakan jati diri subjek. Namun, cara paling mudah bagi saya untuk melihat apakah kalimat ini merupakan kalimat inversi adalah dengan membolak-baliknya tanpa mengubah makna dan fungsinya, yaitu *Yang mencurinya (adalah) Budi*. Kalimat tersebut sama dengan *Dia (adalah) seorang guru*. Kedua kalimat tersebut dapat disisipi kata *adalah* sebagai verba kopula dan bermakna ‘termasuk dalam kelompok atau golongan’ sehingga berpotensi sebagai predikat.  

Rujukan:

- *KBBI Daring*. (2016). Entri “kamus”. Diakses pada 9 November 2024\. *kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kamus*
- Moeliono, Anton M., dkk. (2017). *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia*. Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. (2014). *Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat*. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Penyunting: Rifka Az-zahra