> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Menegaskan Perasaan lewat Interjeksi
- URL: https://coba.narabahasa.id/menegaskan-perasaan-lewat-interjeksi/
- Published: 2020-11-13T10:28:34.000Z
- Updated: 2020-11-13T10:28:34.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Sintaksis, Ejaan, interjeksi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Interjeksi merupakan salah satu kategori dalam kelas kata tugas. Sebagai kata seru, interjeksi berfungsi untuk mengungkapkan atau menegaskan perasaan penulis dan pembicara, seperti *ah*, *duh*, atau *wow*.

Secara [etimologi](https://coba.narabahasa.id/memahami-sejarah-kata-melalui-kajian-etimologi/), *interjeksi* berasal dari kata bahasa Latin *interjicere* yang berarti ‘melempar di antara’. Interjeksi dianggap sebagai kata yang berada di dalam satu kalimat, tetapi tidak memiliki keterikatan secara sintaksis. Dalam bahasa Inggris, interjeksi terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, interjeksi primer, seperti *ouch, ugh, argh*. Kedua, interjeksi sekunder, yakni kata yang berevolusi menjadi interjeksi tanpa menghilangkan makna aslinya, misalnya *shit* atau *Jesus*. Ungkapan seperti *oh my God* juga dapat digolongkan ke dalam interjeksi sekunder.

Sementara itu, dalam bahasa Indonesia, *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia* (2017) mengklasifikasikan interjeksi berdasarkan perasaan yang umumnya diutarakan oleh penulis dan penutur. Berikut pembagiannya.

1. **Kejijikan**

*Bah, cih, cis, ih,* dan *idih* adalah interjeksi yang dapat menyatakan kejijikan. Setiap kata tersebut dapat mengartikan perasaan-perasaan sebagai berikut:

- *bah:* penolakan, rasa muak (jijik, jemu, dan sebagainya)
- *cih:* tidak suka, mengejek, dan sebagainya
- *cis:* untuk mencemoohkan
- *ih:* rasa heran, kecewa, jijik, dan takut
- *idih*: rasa jijik dan tidak percaya
1. **Kekesalan**

Untuk meluapkan kekesalan, umumnya interjeksi yang digunakan adalah *berengsek, sialan, buset*, dan *keparat*. Berikut definisi kata-kata itu:

- *berengsek:* kacau sekali, tidak beres, tidak becus
- *sialan*: bentuk makian
- *buset*: bentuk makian lembut untuk menyatakan umpatan dan kekesalan
- *keparat*: bangsat, jahanam, terkutuk
1. **Kekaguman atau Kepuasan**

Berikut ini adalah contoh-contoh interjeksi yang dapat digunakan dalam mengungkapkan kekaguman atau kepuasan:

- *aduhai*: hebat dan luar biasa
- *amboi*: kagum
- *asyik*: menyenangkan
1. **Kesyukuran**

Kita bisa menggunakan *syukur* dan *alhamdulillah* untuk mengungkapkan rasa terima kasih atau kelegaan.

1. **Harapan**

Dalam interjeksi untuk mengungkapkan perasaan yang mengandung harapan, kita bisa menggunakan kata seru *insyaallah*. Jangan salah gunakan *insyaallah* sebagai eufemisme untuk memberi penolakan dan janji palsu. Selain itu, kita juga dapat memanfaatkan *semoga* atau *amin*.

1. **Keheranan**

Barangkali, keheranan adalah salah satu perasaan yang sering muncul, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kata seru yang biasa mewakili keheranan ialah *aduh, aih*, *ai, lo/lho*, *duilah*, *eh*, *oh,* dan *ah.* Berikut ini penjelasan tiap kata itu:

- *aduh*: rasa heran, sakit, dan sebagainya
- *aih*/*ai*: kata seru untuk menyatakan heran dan sebagainya
- *lo*/*lho*/*loh*: kata seru menyatakan heran, terperanjat, dan sebagainya
- *duilah*: pernyataan terkejut atau kagum
- *eh*: kata seru untuk menyatakan heran, kaget, dan sebagainya
- *oh*: kata seru untuk menyatakan rasa kecewa, haru, yakin, dan sebagainya
- *ah*: kata seru yang menyatakan perasaan kecewa, menyesal, heran, tidak setuju
1. **Kekagetan**

*Astaga, astagfirullah,* dan *masyaallah* adalah tiga contoh kata seru yang dapat mengekspresikan kekagetan.

1. **Ajakan**

Kita pun dapat menyampaikan ajakan lewat perasaan. Dalam hal ini, interjeksi yang mampu mencerminkan ajakan adalah *ayo* dan *mari*.

1. **Panggilan**

Ada pula kata seru yang menunjukkan sapaan atau panggilan, seperti *hai, hei*, *oi,* dan *halo.* 

1. **Simpulan**

*Nah* dan *jadi* mampu menandakan perasaan yang bertujuan untuk menyimpulkan.

Sepuluh kategori di atas mengandung arti dan fungsi interjeksi berdasarkan perasaan penulis dan penutur. Kita dapat menggunakannya saat sedang berbicara juga menulis. Tidak dapat dimungkiri, interjeksi sangat lekat dengan fenomena bahasa, khususnya percakapan atau ujaran lisan. Oleh karena itu, interjeksi akan terus berkembang seiring berjalannya waktu, mungkin lebih pesat dibanding kelas kata lainnya.

**Rujukan:**

- Libert, Alan. 2019\. “[Interjection](https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780199772810/obo-9780199772810-0230.xml?ref=coba.narabahasa.id#:~:text=The%20word%20interjection%20comes%20from,%2C%20ugh!%2C%20and%20ouch!)”. Diakses pada 11 November 2020.
- Moeliono, Anton M. dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin