> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Mencat atau Mengecat?
- URL: https://coba.narabahasa.id/mencat-atau-mengecat/
- Published: 2021-10-20T11:00:19.000Z
- Updated: 2021-10-20T11:00:19.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Ejaan, Linguistik Umum, afiks, imbuhan, Morfologi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Afiksasi atau pengimbuhan merupakan salah satu proses pembentukan kata. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang tercipta berkat pengimbuhan. Coba saja lihat, berapa banyak kata yang sudah mengalami imbuhan hingga kalimat ini ditulis?

Kerabat Nara mungkin sudah tahu bahwa dalam afiksasi terdapat kaidah KTSP, yakni peluluhan fonem ketika imbuhan *me-* atau *pe-* bertemu fonem /k/, /t/, /s/, dan /p/. Contohnya adalah *mengudeta* yang terbentuk dari *me-* \+ *kudeta*, *menelepon* dari *me-* \+ *telepon*, *menyalin* dari *me-* \+ *salin*, dan *memengaruhi* dari *me-* \+ *pengaruh*; *pengasih* dari *pe-* \+ *kasih*, *peninjau* dari *pe-* \+ *tinjau*, *penyakit* dari *pe-* \+ *sakit*, dan *pemandu* dari *pe-* \+ *pandu*.

Selain itu, dalam afiks *me-* dan *pe-* juga terdapat kasus lain yang menarik, yakni ketika dua imbuhan tersebut bersentuhan dengan sebuah kata yang memiliki ekasuku atau bersuku kata tunggal. *Cat*, *bom*, *tik*, *lap*, dan *bor* adalah contoh kata dengan satu suku. Ketika diawali dengan imbuhan *me-*, lima kata tersebut tidak berubah menjadi *mencat*, *membom*, *mentik*, *melap*, dan *membor*, tetapi menjadi *me*nge*cat*, *me*nge*bom*, *me*nge*tik*, *me*nge*lap*, dan *me*nge*bor*. Hal yang sama terjadi ketika mereka mendapatkan afiks *pe*\-. Kata-kata tersebut berubah menjadi *pe*nge*bom*, *pe*nge*cat*, *pe*nge*tik*, *pe*nge*lap*, dan *pe*nge*bor*. Bunyi /ŋ/ muncul ketika kata dengan ekasuku bertemu imbuhan *me-* dan *pe-*. Bahkan, dalam imbuhan *pe-an* pun, bunyi tersebut turut hadir: *pe*nge*catan*, *pe*nge*boman*, *pe*nge*tikan*, *pe*nge*lapan*, dan *pe*nge*boran*.

Hadirnya bunyi /ŋ/ sering kali membuat kita keliru menentukan sebuah kata dasar. Misalnya, pada kata *mengetik*, saya rasa banyak Kerabat Nara yang mengartikan bahwa bentuk dasar kata tersebut adalah *ketik*. Sebagaimana kita tahu, *me-* yang bertemu awalan /k/ akan mengalami peluluhan. Namun, dalam kasus ini, *mengetik* tidak terbentuk karena peluluhan fonem, tetapi berkat awalan *me-* yang bertemu kata *tik*.

Perlu diingat, bunyi /ŋ/ tidak muncul ketika kita hendak memasifkan kata-kata tersebut. Maka dari itu, bentuk pasif *mengecat*, *mengebom*, *mengetik*, *mengelap*, dan *mengebor* adalah *dicat*, *dibom*, *ditik*, *dilap*, dan *dibor*.

#afiks #imbuhan #morfologi

**Rujukan:**

- Kridalaksana, Harimurti. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Mustakim. 2015\. *Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Bentuk dan Pilihan Kata. Jakarta:* Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin