> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Mencari Panda dalam KBBI
- URL: https://coba.narabahasa.id/mencari-panda-dalam-kbbi/
- Published: 2021-09-21T11:00:08.000Z
- Updated: 2021-09-21T11:00:08.000Z
- Author: Harrits Rizqi Budiman
- Tags: Linguistik Terapan, Kata, KBBI, panda, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kamus kesayangan kita, KBBI, memuat berbagai kata yang merupakan nama hewan, seperti *harimau*, *kuda*, *cacing*, *platipus*, *tenggiling*, dan *tapir*. Ada pula *kuskus*, *okapi*, dan *browser*. Namun, di sana tidak ada *panda* meskipun nama dan wujud hewannya telah akrab bagi kita. Lalu, di manakah *panda*? Mengapa ia tidak tercatat dalam KBBI? Apakah ukurannya dianggap terlalu besar sehingga tidak termuat dalam kamus kebanggaan para pencinta kata baku itu? Rasanya tidak mungkin, ya, sebab *gajah* pun bisa masuk KBBI. 

Jadi, bagaimana sebuah kata dapat terdaftar dalam kamus tersebut? Syukurlah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa—yang biasa dikenal dengan Badan Bahasa saja—telah menyediakan jawabannya dalam sebuah artikel berjudul ["Bagaimana Sebuah Kata Masuk ke KBBI"](https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/2547/bagaimana-sebuah-kata-masuk-ke-kbbi/?ref=coba.narabahasa.id) di situs web mereka.

Menurut artikel itu, terdapat lima hal yang membuat sebuah kata bisa diterima menjadi bagian dari KBBI, yaitu unik, eufonik, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, tidak berkonotasi negatif, dan kerap dipakai. Berdasarkan ketentuan tersebut, mari kita cek apakah *panda* layak masuk atau tidak.

Untuk menyebut hewan yang berwarna hitam dan putih, memiliki lingkaran hitam di matanya, dan memakan bambu, kita memerlukan kata khusus. Kita tahu, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menyebutnya, kecuali *panda*. Jadi, dapat dikatakan bahwa *panda* itu unik.

Kata *panda* juga eufonik. Kita tidak merasa janggal atas bunyinya. Bunyi serupa pun dapat kita temukan pada kata lain, seperti *kanda*, *canda*, dan *janda*. Artinya, bunyi demikian sudah lazim bagi penutur bahasa Indonesia.

Selanjutnya, pada artikel Badan Bahasa yang saya sebut di atas, *sesuai dengan kaidah* diartikan sebagai kemungkinan sebuah kata dapat dibentuk dan membentuk kata lain. Selama ini, kita mengenal gabungan kata *mata panda* untuk menyebut lingkaran gelap di sekitar mata yang disebabkan keletihan. Oleh karena itu, *panda* memenuhi ketentuan nomor urut tiga itu. Lagi pula, ejaannya juga aman, ‘kan?

Lalu, untuk mengecek konotasi suatu kata, Badan Bahasa memanfaatkan [*Leipzig Corpora Collection*](https://corpora.uni-leipzig.de/en?corpusId=ind%5Fmixed%5F2013&ref=coba.narabahasa.id). Mereka mencontohkan kata *pelokalan* dan *lokalisasi*. Hasilnya, *pelokalan* berkaitan dengan *Firefox*, *Mozilla*, *bahasa*, *aplikasi*, *Jepang*, *OS*, *WordPress*, *proyek*, dan *tim*. Sementara itu, *lokalisasi* bersangkutan dengan kata, antara lain, *prostitusi*, *seks*, *pelacuran*, *pekerja*, *WTS*, dan *PSK*. Dapat kita lihat bahwa *lokalisasi* berkonotasi negatif, sedangkan *pelokalan* tidak. Meskipun begitu, *lokalisasi* tercatat dalam KBBI. 

Bagaimana dengan *panda*? Dengan cara pengecekan serupa, saya mendapati *panda* berkaitan dengan kata, antara lain, *hewan, binatang, mata, beruang*, dan *raksasa*. Tidak ada yang berkonotasi negatif di sana.

![](https://narabahasa.id/web/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-10-04-at-10.06.58.jpeg)

**Gambar 1** ***Panda*** **dan Kata yang Berkaitan**

Terakhir, apakah *panda* kerap dipakai? Kita sebenarnya dapat dengan yakin mengatakan *iya*. Namun, agar objektif, mari kita cek berdasarkan ukuran dan cara yang serupa dengan yang digunakan oleh Badan Bahasa.

Ukuran kekerapan pemakaian terdiri atas frekuensi dan julat (rentang). Frekuensi dapat diketahui melalui penelusuran di Google. Untuk kata *panda*, terdapat sekitar 706 juta hasil. Sementara, julatnya dianalisis dengan Google Trends. Hasilnya, *panda* muncul di berbagai kota di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, serta sedikit di Sulawesi dan Bali. Oleh karena itu, dapat disebut bahwa *panda* memiliki frekuensi yang tinggi dan ketersebaran yang luas. Singkatnya, *panda* kerap dipakai.

![](https://narabahasa.id/web/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-10-04-at-10.06.58-1.jpeg)

**Gambar 2 Frekuensi** ***Panda***

![](https://narabahasa.id/web/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-10-04-at-10.06.59.jpeg)

**Gambar 3 Julat** ***Panda***

Jadi, apa yang membuat *panda* tidak dimasukkan ke KBBI? Kita masih belum tahu. Yang jelas, *panda* memenuhi lima ketentuan yang disebutkan Badan Bahasa.

Namun, apa benar kata *panda* sama sekali tidak ada dalam KBBI? Setelah menelusurinya lebih lanjut, saya menemukan bahwa ia muncul dalam arti kata *monofag* sebagai bagian dari frasa nomina *beruang panda*. Lantas, apakah *beruang panda* masuk KBBI? Ternyata tidak.

![](https://narabahasa.id/web/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-10-04-at-10.06.59-1.jpeg)

**Gambar 4 Entri** ***Monofag*** **di KBBI**

Selain itu, *panda* juga muncul di KBBI sebagai gabungan kata dalam *mata panda* yang berarti ‘lingkaran berwarna gelap pada kulit di sekitar mata (biasanya di bagian bawah mata) karena kurang istirahat atau kurang sehat’.

Meskipun begitu, tetap saja, *panda* tidak tercatat sebagai kata tunggal. Ia perlu bergandeng dengan kata lain agar bisa masuk kamus itu. Mungkin ia malu untuk menjadi “warga” KBBI. Sebabnya, selain dicap sebagai hewan malas, ia juga tidak punya gandengan. Astagfirullah.

#panda #kata #KBBI

**Penulis** : Harrits Rizqi

**Penyunting** : Ivan Lanin