> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Membedakan "Jam" dan "Pukul"
- URL: https://coba.narabahasa.id/membedakan-jam-dan-pukul/
- Published: 2020-11-25T16:20:34.000Z
- Updated: 2020-11-25T16:20:34.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Semantik, Jam, Pukul, Waktu, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kita tentu akrab dengan kata *jam* dan *pukul*. Biasanya, kita menggunakan dua kata ini saat sedang menunggu sesuatu, membuat janji, atau memenuhi target pengumpulan hasil kerja. Namun, secara tidak sadar, kita sering menganggap bahwa keduanya memiliki arti yang sama. 

*Jangan berakhir aku tak ingin berakhir*

*Satu jam saja kuingin diam berdua*

(Audy dalam “Satu Jam Saja”)

Nukilan [lirik](https://narabahasa.id/artikel/memaknai-apatah-dalam-lagu-efek-rumah-kaca/?ref=coba.narabahasa.id) lagu di atas menggunakan *jam* sebagai penanda durasi atau lamanya waktu. Sang Aku hanya ingin diam, berdua saja, selama satu jam. Kira-kira begitu. Lirik lagu lainnya yang menggunakan kata *jam* ialah “Saat Terakhir” oleh ST12: “Satu jam saja ‘ku telah bisa, cintai kamu di hatiku.” Pada lirik tersebut, dapat diartikan bahwa sang Aku sudah bisa mencintai si Kamu dalam waktu satu jam. Berangkat dari petikan lirik Audy dan ST12, *jam* menunjukkan makna ‘masa’ atau ‘jangka waktu’. 

Selain itu, penggunaan kata *jam* juga dapat merujuk pada benda penunjuk waktu, misalnya jam tangan dan jam dinding. Salah satu contoh lirik lagu yang menggambarkan *jam* sebagai alat pengukur waktu ialah “Pelangi di Matamu” yang dipopulerkan oleh Jamrud.

*Jam dinding pun tertawa* 

*Kar'na 'ku hanya diam*

Berbeda dengan *jam*, kata *pukul* tidak sesering itu tertera dalam sebuah lirik lagu. Penggunaan kata *pukul* dapat kita jumpai pada pengumuman resmi, seperti *Kita berangkat sekolah pukul 6.00* atau *Rapat pemegang saham akan dimulai pada pukul 13.30 WIB setelah makan siang*. *Pukul* menunjukkan satuan waktu secara spesifik, bukan durasi, masa, atau jangka waktu.

Kasus yang sering kali kita temui adalah penggunaan *jam* untuk menggantikan *pukul.* Misalnya, *jam 4 sore*. Barangkali *pukul* terasa terlalu formal dan kaku jika digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ditambah lagi, kita sudah terbiasa untuk menggunakan *jam* daripada *pukul.* 

Yang namanya kebiasaan memang sulit untuk diubah. Namun, kita dapat memulainya dengan menyadari bahwa *jam* dan *pukul* memiliki makna yang berbeda. Sebetulnya, kedua kata tersebut tidak saling bersinonim. Coba saja substitusikan kata *jam* pada tiga penggalan lirik lagu di atas dengan *pukul.* Aneh, ‘kan? 

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Harrits

**Rujukan**:

- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. “[Jam dan Pukul](http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk%5Fpraktis/393?ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 22 November 2020\.
- Kumala, Aprilia. 2018\. “[Apa, Sih, Bedanya Jam dan Pukul dalam Perkara Waktu?](https://mojok.co/apk/komen/versus/apa-sih-bedanya-jam-dan-pukul-dalam-perkara-waktu/?ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 22 November 2020\.
- Wening, Tyas. 2019\. “[Digunakan untuk Menunjukkan Waktu, Kata Jam dan Pukul Maknanya Beda Lo!](https://bobo.grid.id/read/081800751/digunakan-untuk-menunjukkan-waktu-kata-jam-dan-pukul-maknanya-berbeda-lo?page=all&ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 22 November 2020.