> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Membaca Zaman
- URL: https://coba.narabahasa.id/membaca-zaman/
- Published: 2021-10-02T08:00:31.000Z
- Updated: 2021-10-02T08:00:31.000Z
- Author: Harrits Rizqi Budiman
- Tags: Nawala Narabahasa, Narabahasa, Nawala, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bagai tubuh yang membutuhkan makanan bergizi agar terus dapat menjalani aktivitas sehari-hari, pikiran pun memerlukan asupan berupa bacaan penuh pengetahuan supaya wawasan selalu terluaskan. Apabila lama tidak diisi, ia berpotensi menjadi zombi, berkeliaran tanpa arti. Maka dari itu, saya ambil sebuah buku. Ia lawas dan berdebu. Namun, saya tidak memedulikan rupa begitu karena ilmu tetaplah ilmu.

Judulnya ialah *Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia* (1988). Buku itu berisi 35 esai yang ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana, seorang tokoh bahasa Indonesia, pada rentang tahun 1932 sampai dengan 1957.

Apa saja isinya? Jujur saja, saya belum dapat menjawab pertanyaan itu secara mendetail. Sebabnya, saya baru membaca sampai pada halaman ke-32\. Namun, dalam jumlah sesedikit itu, saya menjumpai pola-pola penulisan yang bisa jadi merupakan penanda zaman. Contohnya adalah penggunaan tanda hubung di antara awalan dan kata berulang, seperti *se-banyak2nya*, *se-lama2nya*, *se-olah2*, *se-mata2*, *ber-hari2*, *ter-kira2*, *se-jauh2nya*, *meng-amat2i*, *ber-api2*, *ber-nyanyi2*, *me-nari2*, dan *per-lahan2*. Di lain sisi, kata dasar—yang tidak diulang—melekat seperti biasa dengan awalannya, misalnya *terlepas*, *tertinggal*, *memegang*, dan *berkurang*. Berdasarkan itu, dapat kita lihat bahwa ada dua cara untuk menulis awalan. 

Pembedaan juga terdapat pada penulisan *di* yang diikuti tempat atau posisi. Alisjahbana menulis *di* yang demikian dengan cara dipisah dari kata yang mengikutinya, seperti *di sekolah*, *di tempat, di bibir*, dan *di kepulauan*. Namun, menariknya, ia juga menulis *disini*, *diantara*, *didalam*, dan *disisi*. Jadi, apakah pada zaman dahulu belum ada peraturan yang jelas tentang penulisan *di* sebagai kata depan? Mungkin.

Kita dapat mengajukan pertanyaan serupa untuk kasus berikut. Dalam buku tersebut, gugus konsonan /pr/ hampir tidak ditemukan. Saya justru menjumpai *memerotes*, *peraktek*, dan *Perancis*, alih-alih *memprotes*, *praktek*—yang sekarang berkata baku *praktik*, dan *Prancis*. Akan tetapi, pada suatu halaman, Alisjahbana menggunakan kata *mempropagandakan* yang jelas bergugus konsonan /pr/.

Hal-hal seperti di atas membuat saya berkesimpulan sementara bahwa pada zaman itu, penulisan belum setertib sekarang. Artinya, terdapat perubahan atau perkembangan ke arah kekonsistenan. Tata bahasa tulis didisiplinkan dari waktu ke waktu.

Meskipun begitu, untuk menentukan simpulan yang lebih pasti, saya tentu tidak dapat hanya berdasar pada satu buku. Saya mesti mencari tulisan yang sezaman atau menggali informasi secara langsung dari para tokoh bahasa masa dahulu. Akan tetapi, yang terakhir itu cukup susah karena sebagian besar dari mereka telah berpulang. Sementara, waktu tidak bisa diputar balik. Mesin waktu belum tercipta. Segala yang terjadi tidak mungkin kembali.

Ah, benarkah segalanya tidak mungkin kembali?

Tidak, tidak segalanya. Buktinya, Kelas Daring Praktis (KDP) Narabahasa akan datang kembali untuk kesekian kalinya. Keseruan dan kebermanfaatan siap dihadirkan lagi. Kerabat Nara dapat mulai bersiap-siap dari sekarang untuk menambah pengetahuan supaya wawasan selalu terluaskan. Cek [sinara.narabahasa.id](http://sinara.narabahasa.id/?ref=coba.narabahasa.id) untuk mendapatkan informasi mengenai kelas-kelas yang dibuka. Mari, Kerabat Nara, kita belajar bersama.