> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Memaknai “Dan/Atau”
- URL: https://coba.narabahasa.id/memaknai-dan-atau/
- Published: 2021-11-15T11:00:39.000Z
- Updated: 2021-11-15T11:00:39.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Linguistik Umum, danatau, konjungsi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Saya yakin, beberapa dari kita pasti pernah berhadapan dengan *dan/atau*. Namun, saya belum tahu pasti apakah *dan/atau* dikategorikan sebagai konjungsi atau ungkapan. Yang jelas, *dan/atau* sering kali membuat kita sebagai pembaca merasa bingung.

*Dan/atau* kerap kita temukan pada naskah hukum, entah itu perjanjian dagang atau kontrak pekerjaan. Dalam *Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2* (2007), disebutkan bahwa *dan/atau* dapat diperlakukan sebagai *dan* serta *atau*. Misalnya, *A dan/atau B* berarti ‘A dan B atau A atau B’. Coba perhatikan contoh berikut.

*Barangsiapa menyalin dan/atau memperbanyak dokumen ini akan mendapatkan sanksi seberat-beratnya*.

Kalimat di atas dapat kita artikan menjadi ‘Barangsiapa menyalin dan memperbanyak …’ atau ‘Barangsiapa menyalin atau memperbanyak …’. Dengan kata lain, siapa pun yang menyalin atau memperbanyak atau melakukan keduanya sekaligus (menyalin dan memperbanyak dokumen tersebut) akan mendapatkan sanksi. Untuk memahami kalimat seperti itu, salah satu cara yang bisa dimanfaatkan adalah memerinci makna. Berdasarkan kalimat di atas, daftarkanlah makna seperti berikut.

1. Siapa pun tidak boleh menyalin dan memperbanyak dokumen tersebut.
2. Siapa pun tidak boleh menyalin dokumen tersebut.
3. Siapa pun tidak boleh memperbanyak dokumen tersebut.

Meskipun telah lazim digunakan, kita tidak bisa memungkiri bahwa *dan/atau* memang kerap menimbulkan kebingungan. Lihat contoh di bawah ini.

*Ayah, ibu, dan/atau wali wajib menghadiri rapat*.

Jika dijabarkan, kalimat tersebut mengandung makna berikut.

1. Ayah, ibu, dan wali wajib hadir dalam rapat.
2. Ayah dan ibu wajib hadir dalam rapat.
3. Wali saja wajib hadir dalam rapat.

Contoh tersebut saya kutip dari Pam Peters–seorang ahli bahasa asal Australia–dalam Efendi dan Susanti (2020). Menurut Peters, *dan/atau* akan makin sulit dipahami jika terdapat dalam kalimat yang memiliki tiga koordinat, seperti *ayah*, *ibu*, dan *wali* pada contoh di atas. Tiga koordinat sangat mungkin memicu ambiguitas, apalagi kalimat tersebut dibaca oleh awam. Bahkan, menurut seorang leksikografer, pengacara, dan guru bernama Bryan A. Garner, sebaiknya kita sepenuhnya menghindari penggunaan *dan/atau*. Beliau menulis, “*I’ve drafted court rules, jury instructions, model contracts, car warranties and many other documents. Never once have I needed and/or. You won’t either. Kill it.*”

#danatau #konjungsi

**Rujukan:**

- Efendi, A’an & Susanti, Dyah Ochtorina. 2020\. “Makna dan Problematik Penggunaan Term ‘Dan’, ‘Atau’, ‘Dan/Atau’, ‘Kecuali’, dan ‘Selain’ dalam Undang-Undang”. Dalam *Jurnal Legislasi Indonesia: Indonesian Journal of Legislation*, Vol. 17, No. 4, Desember, hlm. 380–390\. Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
- Garner, Bryan. A. 2014\. “[Ax these terms from your legal writing](https://www.abajournal.com/magazine/article/ax%5Fthese%5Fterms%5Ffrom%5Fyour%5Flegal%5Fwriting?ref=coba.narabahasa.id)”. ABA Journal. Diakses pada 15 November 2021.
- Sugono, Dendy. (ed). 2007\. *Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2*. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin