> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Majas Perbandingan: Simile dan Metafora
- URL: https://coba.narabahasa.id/majas-perbandingan-simile-dan-metafora/
- Published: 2021-03-05T11:00:15.000Z
- Updated: 2021-03-05T11:00:15.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Stilistika, majas, metafora, simile, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Majas adalah salah satu konsep yang sukar untuk didefinisikan. Bahkan, *Kamus Linguistik Edisi Keempat* (2008) tidak menyertakan entri [*majas* ](https://coba.narabahasa.id/apakah-majas-sama-dengan-gaya-bahasa/)di dalamnya. Sementara itu, KBBI V daring hanya menyamakan *majas* dengan ‘kiasan’.

Namun, saya menemukan satu artikel yang ditulis oleh Profesor Okke Zaimar. Dalam tulisannya yang berjudul “Majas dan Pembentukannya”, Zaimar menjelaskan bahwa pada 1972, Ducrot dan Todorov mengemukakan tiga tataran bahasa:

1. Tataran Bunyi dan Grafis
2. Tataran Sintaksis
3. Tataran Semantik

Tataran semantik itulah yang memicu kehadiran majas. Lebih lanjut, Moeliono (1979) dalam Zaimar (2002) menuliskan bahwa majas terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu majas perbandingan, pertentangan, dan pertautan. Pada tulisan ini, kita akan mengupas majas perbandingan.

## Simile

Simile termasuk ke dalam majas perbandingan. Majas ini sering juga disebut sebagai perbandingan atau perumpamaan. Gorys Keraf menambahkan bahwa simile kerap disandingkan dengan persamaan. Ciri majas ini ditandai dengan kata-kata *seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana,* dan sebagainya. Contohnya adalah sebagai berikut.

1. Matanya *seperti* rembulan di tengah malam.
2. Usahamu *bagaikan* menguras air laut.

## Metafora

Metafora dibedakan menjadi dua jenis, yakni metafora *in praesetia* dan metafora *in absentia*. Jenis yang pertama memiliki sifat eksplisit. Contohnya, *Robi adalah hidung belang!* Sementara itu, jenis yang kedua bersifat implisit, seperti pada contoh *Robi telah mempermainkan perasaan sang kembang desa*. 

Secara umum, metafora menampilkan dua unsur (kata atau bentuk lain) yang dibandingkan. Pada metafora *in praesetia*, kedua unsur tersebut tertulis secara eksplisit, yakni *Robi* dan *hidung belang*. Sebaliknya, pada contoh kedua, *sang kembang desa* berdiri sebagai metafora *in absentia* karena tidak disandingkan dan dibandingkan dengan unsur lain.

Lebih dari itu, metafora ternyata memiliki subklasifikasi lagi. Personifikasi, depersonifikasi, dan perbandingan unsur konkret-abstrak adalah tiga majas yang termasuk ke dalam metafora.

### *Personifikasi*

Dalam majas ini, binatang, tanaman, atau benda ditampilkan sebagai manusia. Sementara itu, menurut Kridalaksana, personifikasi adalah penggambaran benda mati yang seolah-olah hidup. Perhatikan contoh berikut.

1. Aku bermain sepak bola saat langit begitu gelap. Tak lama kemudian, tubuhku *dimandikan* oleh hujan.
2. Pagi ini, angin *membawa* kabar buruk.
3. Gonggongan anjing galak itu *mengusir* kedatanganku.

Pada contoh-contoh di atas, *dimandikan*, *membawa*, dan *mengusir* adalah tiga kata kunci yang menandakan personifikasi. Hujan, angin, dan gonggongan anjing ditampilkan sebagai manusia.

### *Depersonifikasi*

Majas ini adalah kebalikan dari personifikasi. Berarti, manusia ditampilkan sebagai binatang, tanaman, atau benda. Misalnya, *Aku *mematung* melihat paras cantiknya*.

### *Perbandingan Unsur Konkret-Abstrak*

Di sini, konkret berarti sesuatu yang dapat ditangkap dengan pancaindra, sedangkan abstrak adalah sesuatu yang berada di luar pancaindra. Majas ini menggolongkan dua unsur yang dibandingkan berdasarkan sifat konkret dan abstraknya.

**a.** Perbandingan unsur konkret dengan unsur konkret lain.

**Contoh**: “*Rini* merupakan *tulang punggung* keluarga.”

**b.** Perbandingan unsur konkret dengan unsur abstrak.

**Contoh**: “*Kuman* di seberang lautan tampak, *gajah* di pelupuk mata tidak tampak.” *Kuman* dan *gajah* adalah dua unsur konkret yang dibandingkan secara implisit dengan unsur abstrak *kesalahan*.

**c.** Perbandingan unsur abstrak dengan unsur konkret.

**Contoh**: “*Cinta* tidak selalu bertemu di *pelaminan*.” *Cinta* adalah sesuatu yang abstrak, sedangkan *pelaminan* merupakan tempat yang konkret.

**d.** Perbandingan unsur abstrak dengan unsur abstrak lainnya.

**Contoh**: “*Harapan* bisa menjadi *semangat hidup* manusia.”

Zaimar menuliskan bahwa perbandingan yang ditinjau berdasarkan sifat konkret dan abstrak dari dua unsur dapat bertumpang tindih dengan metafora personifikasi dan depersonifikasi. Bahkan, menurut saya, banyaknya klasifikasi pada majas metafora bisa membuat kita kebingungan dalam melakukan penggolongan. Akan tetapi, jika saya cermati lebih jauh, klasifikasi-klasifikasi tersebut bisa membantu kita dalam mengupas sesuatu.

Ambillah satu contoh di atas, yaitu *Robi telah mempermainkan perasaan sang kembang desa.* *Sang kembang desa* merupakan metafora *in absentia* karena tidak dibandingkan dengan unsur lain secara eksplisit. Kita pun sama-sama tahu bahwa *kembang desa* merujuk pada perempuan cantik. Dengan demikian, ia pun tergolong ke dalam depersonifikasi. Kemudian, dengan menganggap *kembang desa* sebagai *perempuan cantik*, berarti ia merupakan perbandingan antara unsur konkret dengan unsur konkret. Maka, dalam kalimat tersebut, *sang kembang desa* adalah majas metafora, khususnya depersonifikasi *in absentia* yang membandingkan unsur konkret dengan unsur konkret.

**Rujukan**:

- Keraf, Gorys. 2006\. *Diksi dan Gaya Bahasa*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Kridalaksana, Harimurti. 2008\. [*Kamus Linguistik Edisi Keempat*](https://books.google.co.id/books?id=gKNLDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs%5Fvpt%5Fread#v=onepage&q&f=false)*.* Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Zaimar, Okke. 2002\. “Majas dan Pembentukannya”. Dalam Jurnal *Makara, Sosial Humaniora* Vol. 6, No. 2, Desember. Depok: Universitas Indonesia.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin