> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Lisan #36: Relasi Kata hingga Fenomena Kesantunan Berbahasa
- URL: https://coba.narabahasa.id/lisan-36-relasi-kata-hingga-fenomena-kesantunan-berbahasa/
- Published: 2026-07-29T10:25:44.000Z
- Updated: 2026-07-29T10:25:44.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Berita, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Narabahasa kembali menggelar Selisik Kebahasaan (Lisan) ke-36 dengan mengangkat topik “Morfosintaksis: Relasi Bentuk Kata dan Struktur Kalimat” pada Selasa, 7 Juli 2026\. Dipandu langsung oleh Ivan Lanin dan menggaet dosen linguistik Universitas Indonesia Mohammad Umar Muslim, M.A., Ph.D. sebagai narasumber, forum Lisan kali ini membahas seluk-beluk bentuk kata dan penggunaannya dalam kalimat.

Dalam paparannya, Umar menyampaikan bahwa morfosintaksis adalah bidang yang mengkaji irisan antara bentuk kata (morfologi) dan struktur kalimat (sintaksis). "Prinsipnya, bentuk kata tertentu berhubungan dengan struktur kalimat tertentu. Bentuk tertentu itu muncul dalam kalimat dengan struktur tertentu pula," jelas Umar. Beliau mencontohkan bagaimana penambahan imbuhan seperti *\-kan* atau *\-i* dapat mengubah struktur kalimat yang awalnya intransitif (tidak butuh objek) menjadi transitif (membutuhkan objek).

Forum berdurasi 1,5 jam ini berlangsung meriah. Salah satu sorotan menarik adalah pertanyaan Ivan Lanin mengenai penggunaan “Kami/saya ucapkan terima kasih” dalam surat resmi. Umar mengonfirmasi bahwa bentuk tersebut merupakan kalimat pasif (pasif nol). Penggunaan ragam pasif dalam korespondensi resmi ternyata memiliki fungsi pragmatis.

"Kalimat pasif memang relatif tidak menyebutkan pelaku karena itu kadang \[membuat\] risi. Jadi, kalimat pasif banyak dipakai supaya \[kita\] tidak menyebut orang \[yang dimaksud\], dan hal ini berimplikasi pada kesopanan," papar Umar.

Diskusi juga menyoroti penggunaan kata *mungkin* yang kerap dipakai sebagai bentuk kesantunan dan kehati-hatian, mirip dengan fungsi *could* atau *would* dalam bahasa Inggris. Umar menjelaskan bahwa bahasa adalah sebuah konvensi masyarakat. Menggunakan kata *mungkin* menunjukkan kehati-hatian pembicara agar tidak terkesan arogan atau terlalu mengklaim sebuah kebenaran. 

Program Lisan episode ini ditutup oleh Ivan Lanin dengan harapan agar diskusi ini memberikan pencerahan bagi para peserta. "Walaupun pertanyaannya beragam, tidak semuanya morfosintaksis. Ada sintaksis, morfologi, bahkan sosiolinguistik. Mudah-mudahan ini memberikan pencerahan yang luas," pungkas Ivan.

Penulis: Muhammad Rauf

Penyunting: Rifka Az-zahra