> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Lisan #1: Kata Serapan sebagai Bahan Bakar dalam Perkembangan Bahasa Indonesia
- URL: https://coba.narabahasa.id/lisan-1-kata-serapan-sebagai-bahan-bakar-dalam-perkembangan-bahasa-indonesia/
- Published: 2021-01-21T11:00:07.000Z
- Updated: 2021-01-21T11:00:07.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Acara, lisan, serapan, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Pada 17 Desember 2020, Narabahasa menggelar program baru berupa siaran langsung di YouTube. Program ini bernama Lisan (Selisik Kebahasaan), diadakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahasa Indonesia. Pada episode perdana ini, Dessy Irawan dan Pak Nazarudin (Nazar)--dosen linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia--berbincang-bincang mengenai perkembangan bahasa Indonesia. 

Oleh karena banyak hal yang dibahas oleh Dessy dan Pak Nazar, saya hanya akan menyorot satu topik menarik dalam Lisan #1: Perkembangan Bahasa Indonesia, yaitu perihal kata serapan.

Ibarat manusia, bahasa Indonesia tidak dapat hidup tanpa bahasa lain. Bahasa kita banyak belajar dari bahasa lain dan menyerap kata-kata asing. Kata-kata serapan ini sudah tercatat sejak dahulu kala. Contohnya, pada prasasti berbahasa Melayu tertua (abad ke-7) yang bertuliskan huruf Palawa, terdapat kosakata serapan dari bahasa Sanskerta, seperti *kepala*, *kerja,* dan *semua*.

Bahasa Hindi-Urdu juga berkontribusi terhadap kata serapan dalam bahasa Indonesia, misalnya kata *roti*, *celana*, *topi,* dan *kunci*. Selain itu, bahasa Dravida atau bahasa Tamil dari bagian selatan India juga meninggalkan jejak kosakata, seperti *kapal*, *teman*, *nelayan*, dan *kedai*. Lebih dari itu, ada pula bahasa Arab dan Persia yang turut menyumbang kata *dunia*; *badan*; *kuat;* dan *domba*; *anggur*; *gandum*. Tidak ketinggalan, bahasa dari negara barat, seperti Portugis--yang masuk pada awal abad ke-16, juga ikut memberikan sumbangsih. Contohnya adalah kata *lampu* dan *buku*.

Selain dari bahasa asing, kata serapan dari bahasa daerah, seperti Jawa, Sunda, dan Bali juga berkontribusi pada perkembangan bahasa Indonesia. Contohnya kata *bebek*, *mulus*, *sabuk*, *keponakan*, *ajak*, dan sebagainya.

Menurut Uri Tadmor (2009) dalam penelitiannya mengenai kata serapan dalam bahasa Indonesia, 34 persen kata dalam bahasa Indonesia merupakan hasil penyerapan dari bahasa asing dan daerah. Perhatikan tabel yang berisi jumlah persentase kata-kata serapan dalam bahasa Indonesia berikut.

| **Sumber**                            | **Jumlah (dalam persentase)** |
| ------------------------------------- | ----------------------------- |
| Bahasa Jawa                           | 8,9                           |
| Bahasa India                          | 8,4                           |
| Bahasa Belanda                        | 6,4                           |
| Bahasa Arab/Persia                    | 5,7                           |
| Bahasa Portugis (termasuk Kreol)      | 1,4                           |
| Bahasa Inggris                        | 1,2                           |
| Bahasa Tiongkok                       | 0,7                           |
| Bahasa Daerah Sumatera                | 0,4                           |
| Bahasa yang Tidak Diketahui Sumbernya | 0,5                           |
| Bahasa Lainnya                        | 0,4                           |
| **Total**                             | **34,0**                      |

Selain digolongkan menurut asal daerahnya, Tadmor juga mengklasifikasikan kata-kata serapan berdasarkan kategori kelas kata.

| **Kelas Kata** | **Bahasa (dalam persentase)** |         |             |                           |         |          |          |                           |           |     |
| -------------- | ----------------------------- | ------- | ----------- | ------------------------- | ------- | -------- | -------- | ------------------------- | --------- | --- |
| Jawa           | India                         | Belanda | Arab/Persia | Portugis (termasuk Kreol) | Inggris | Tiongkok | Sumatera | Tidak Diketahui Sumbernya | Lain-lain |     |
| Nomina         | 10                            | 10,1    | 9,6         | 7,4                       | 2,1     | 2        | 1        | 0,3                       | 0,8       | 0,6 |
| Verba          | 6,8                           | 3,8     | 1,9         | 3,2                       | 0,4     | 0,2      | 0,4      | 0,2                       | 0,2       | \-  |
| Adjektiva      | 10,9                          | 6,8     | 0,6         | 5,3                       | \-      | \-       | \-       | 1,2                       | \-        | \-  |
| Adverbia       | \-                            | 15,4    | \-          | \-                        | \-      | \-       | \-       | \-                        | \-        | \-  |
| Kata Tugas     | 4                             | 11,3    | 2,4         | 1,2                       | \-      | \-       | \-       | 0,8                       | \-        | \-  |
| Seluruh kata   | 8,9                           | 8,4     | 6,4         | 5,7                       | 1,4     | 1,2      | 0,7      | 0,4                       | 0,5       | 0,4 |

Pada sesi ini, Pak Nazar mengatakan, “Bahasa itu ibarat mobil, kalau mau tetap jalan, perlu bahan bakar. Nah, bahan bakar itu adalah kata-kata.” Bisa disimpulkan bahwa kata-kata serapan merupakan salah satu bahan bakar bagi perkembangan bahasa Indonesia. Buktinya, sampai hari ini, kita masih mengandalkan kata-kata tersebut untuk berbahasa.

Kerabat Nara bisa menyaksikan ulang Lisan #1: Perkembangan Bahasa Indonesia pada tautan [ini](https://www.youtube.com/watch?v=8RMBaFi718c&ref=coba.narabahasa.id).

**Rujukan**: 

Irawan, Dessy & Nazarudin. 2020\. [Lisan #1: Perkembangan Bahasa Indonesia.](https://www.youtube.com/watch?v=8RMBaFi718c&ref=coba.narabahasa.id) Jakarta: Narabahasa. Ditayangkan pada 17 Desember 2020.

Penulis: YudhistiraPenyunting: Harrits Rizqi