> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Lewah
- URL: https://coba.narabahasa.id/lewah/
- Published: 2020-11-16T11:36:51.000Z
- Updated: 2020-11-16T11:36:51.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Sintaksis, lewah, mubazir, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Kelewahan adalah kelebihan atau kemubaziran. Baik dalam lisan maupun tulisan, kita kadang secara tidak sadar menerapkan kelewahan dalam berbahasa. Tidak jarang, kata-kata dan kalimat kita menjadi mubazir atau tidak ekonomis karena dirundung repetisi yang tidak perlu.

Sebelumnya, saya sudah menulis [lewah konjungsi](https://narabahasa.id/rubrik-gramatika/tabah-episode-ke-23-apa-itu-lewah-konjungsi?ref=coba.narabahasa.id) yang berfokus pada kasus *jika*\-*maka* dan *meskipun-tetapi*. Penggunaan konjungsi *jika*, *maka*, dan *meskipun* mencirikan klausa subordinatif atau anak kalimat. Ketika kedua bagian kalimat diberi konjungsi-konjungsi itu, keduanya menjadi anak kalimat dan kalimat pun kehilangan induk kalimat. Ingat, syarat berdirinya sebuah kalimat bergantung pada keberadaan induk kalimat. Selain itu, lewah konjungsi juga dapat kita temui pada penggunaan *agar supaya* yang sebetulnya saling bersinonim. 

Perlu diketahui, kelewahan dalam berbahasa tidak hanya terjadi pada tataran konjungsi. *Sangat besar sekali*, misalnya. Sebagai adverbia, *sangat* dan *sekali* merupakan pewatas atau pemarkah kualitas besaran. Sebaiknya, pilihlah salah satu. Kita bisa menggunakan *sangat besar* atau *besar sekali*. Kita pun juga harus memperhatikan penggunaan *hanya* … *saja*. Dalam kalimat *Saya hanya ingin melihatmu saja*, pilihlah *hanya* atau *saja*. Gunakan keduanya sesuai dengan konteks dan maksud. Tentu, *Saya hanya ingin melihatmu* memiliki kesan yang berbeda dengan *Saya ingin melihatmu saja*.

Contoh lainnya adalah *banyak orang-orang*. Hati-hati. *Orang-orang* sudah menandakan entitas yang *banyak*. Kita juga bisa menggunakan *banyak orang*. Pola kelewahan juga tampak pada *beberapa hal-hal*, *semua perkara-perkara*, dan *sejumlah pakaian-pakaian.*

Kemudian, sebetulnya, *saling tukar-menukar* juga menunjukkan kelewahan sebab *tukar-menukar* sudah menandakan kesalingan. Kita juga bisa pakai *saling tukar*.

Lantas, bagaimana cara menghindari kelewahan berbahasa? Mudah saja. Kita hanya perlu memilih salah satu: *jika* atau *maka*, *meskipun* atau *tetapi*, *agar* atau *supaya*, dan seterusnya. Untuk mengatasi sesuatu yang berlebihan atau mubazir, toh, kita harus membuang yang tidak perlu dan memanfaatkan sisanya sebaik mungkin.

**Rujukan:** Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. [*Tata Bahasa Baku Indonesia Edisi Keempat*](https://repositori.kemdikbud.go.id/16351/1/Tata%20Bahasa%20Baku%20Bahasa%20Indonesia%20edisi%20keempat.pdf?ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin