> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kena Mental
- URL: https://coba.narabahasa.id/kena-mental/
- Published: 2023-03-06T05:27:11.000Z
- Updated: 2023-03-06T05:27:11.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, Semantik, gim, kena mental, makna, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

*Kena mental*, barangkali, merupakan ujaran yang tidak asing lagi untuk kita temukan. Baik dalam percakapan sehari-hari maupun komentar atau cuitan di internet, *kena mental* kerap digunakan. Konon katanya, ujaran ini sering digunakan oleh pemain gim. “Duh, kena mental gue kalo lawannya dia.” Begitu contohnya. *Kena mental* lantas merambah dunia media sosial, bahkan media massa. Coba saja tik *kena mental* di Google, banyak berita yang memuat *kena mental* dalam judulnya.

Mari kita selidiki arti dari dua kata tersebut secara semantik. Dalam kamus kita, *kena* sebagai verba punya beberapa arti, yakni (1) ‘bersentuhan (dengan); terantuk (pada)’, (2) ‘tepat pada sasarannya; tidak luput’, (3) ‘tertimpa (oleh); mengalami; menderita (sesuatu); mendapat atau beroleh suatu perbuatan’, (4) ‘tidak bebas dari (aturan, pajak, dan sebagainya)’, dan (5) ‘tepat benar; sesuai benar; cocok; berpatutan (berpaduan); sedang dan patut (tentang pakaian dan sebagainya)’. Sementara itu, *mental* memaknai ‘bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga’ serta ‘batin dan watak’.

Kita tahu, setiap manusia memiliki batin dan wataknya masing-masing. Dengan kata lain, manusia memiliki mental. Saya rasa, kita pun sama-sama paham bahwa makna *kena* yang cocok dalam konteks ini adalah makna nomor tiga, yaitu ‘tertimpa (oleh); mengalami; menderita (sesuatu); mendapat atau beroleh suatu perbuatan’.

Makna *kena mental*, agaknya, dapat dikaitkan dengan *gentar*. Ada nuansa ketakutan di sana. Terlebih, di luar konteks gim, *kena mental* bisa pula bertalian dengan keletihan mental (*burnout*). Namun, apabila diartikan secara denotatif, *kena mental* adalah ujaran yang tidak masuk akal. Apakah ‘tertimpa (oleh) mental’; ‘mengalami mental’; dan ‘menderita mental’ dapat diterima?

Teman saya pernah berujar, “Duh mental gue kena, nih.” Saya tanya balik, “Kena apa?” *Kena serangan*, jawabnya. Nah, saya kira *kena serangan mental* dapat lebih diterima. Atau mungkin, memang itulah ujaran sebenarnya. Hanya saja, karena terlalu panjang, *serangan* lantas dilesapkan.

Buat saya, ini adalah salah satu fenomena yang menarik. Meskipun gagal memuaskan logika berbahasa kita dalam tataran denotasi, *kena mental* merupakan ujaran yang mengandung kiasan. Bisa diduga, *kena mental* adalah bentuk semiidiom.

Harimurti mendefinisikan semiidiom sebagai konstruksi yang salah satu komponennya mengandung makna khas yang ada dalam konstruksi itu saja. Contoh semiidiom adalah *jual tampang*. Apakah ia masuk akal? Tentu saja tidak karena tampang tidak bisa dibeli dan menjadi milik kita. Contoh lainnya adalah *mata kaki*. Apakah kaki dapat melihat? Tidak juga.

Tanpa perlu banyak bertanya pun, *kena mental* dapat dipahami, terlepas dari suka atau tidaknya kita terhadap ujaran tersebut. Barangkali, suatu saat, *kena mental* akan tercatat dalam KBBI.

**Rujukan**: Kridalaksana, Harimurti. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin