> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kata Tugas
- URL: https://coba.narabahasa.id/kata-tugas/
- Published: 2021-01-26T11:00:37.000Z
- Updated: 2021-01-26T11:00:37.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Sintaksis, artikula, interjeksi, kata tugas, konjungsi, partikel, preposisi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Berbeda dengan kelas-kelas kata yang saya bahas [sebelumnya](https://narabahasa.id/rubrik-gramatika/kelas-kata-utama-dalam-bahasa-indonesia?ref=coba.narabahasa.id), kata tugas hanya memiliki arti gramatikal. Makna kata tugas baru bisa ditentukan ketika kata tugas tersebut bersanding dengan kelas kata yang lain. Berikut ini merupakan jenis-jenis kata tugas berdasarkan penjelasan Moeliono dkk. dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat* (2017).

**Preposisi**

Secara semantis, preposisi atau kata depan adalah kata tugas yang menandakan hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dan konstituen di belakangnya. Contoh: *ke belakang*. Preposisi *ke* menandakan makna arah menuju nomina *belakang*.

Lalu, apabila dilihat melalui perilaku sintaksis, preposisi terletak di depan nomina, adjektiva, atau adverbia demi membentuk frasa preposisional seperti *ke belakang*, *sampai puas,* dan *dengan segera*.

**Konjungsi**

Konjungsi atau kata hubung menaungi kata-kata yang dapat menghubungkan dua satuan bahasa yang setara ataupun tidak. Perhatikan dua kalimat di bawah ini.

- *Ali *dan* Mahmud berencana untuk makan siang bersama.*
- *Ali berjanji mentraktir Mahmud *karena* Ali sedang berulang tahun.*

Contoh konjungsi yang menghubungkan dua satuan bahasa yang setara adalah *dan* juga *atau*. Kemudian, *karena*, *sejak,* dan *setelah* merupakan tiga contoh konjungsi yang dapat menghubungkan dua satuan bahasa yang tidak setara.

**Interjeksi**

Kelas kata ini disebut juga sebagai kata seru. Interjeksi bertugas untuk menegaskan perasaan penulis atau pembicara. Contoh interjeksi adalah *aduhai, amboi*, dan *buset*. Kerabat Nara bisa menyelami interjeksi lebih dalam lewat artikel “[Menegaskan Perasaan lewat Interjeksi](https://narabahasa.id/rubrik-gramatika/menegaskan-perasaan-lewat-interjeksi?ref=coba.narabahasa.id)”. 

**Artikula**

Artikula merupakan kata tugas yang membatasi makna nomina. Ada tiga jenis artikula, yaitu artikula (a) yang bersifat gelar; (b) yang mengacu pada arti kelompok; dan (c) yang menominalkan. 

Artikula yang bersifat gelar lazimnya berkaitan dengan seseorang atau hal yang dianggap bermartabat. Contoh artikula pada jenis ini adalah *sang, sri, hang,* dan *dang*.

- *Sang:* Artikula yang menandakan manusia atau benda yang unik dalam rangka meninggikan martabatnya. Namun, terkadang, artikula ini digunakan juga dalam gurauan dan sindiran.
- *Sri*: Artikula yang menandakan manusia bermartabat tinggi dalam keagamaan dan kerajaan.
- *Hang*: Artikula yang menandakan laki-laki terhormat. Artikula ini sering ditemukan pada sastra lama.
- *Dang*: Artikula yang menandakan perempuan terhormat. Artikula ini sering ditemukan pada sastra lama.

Sementara itu, artikula yang mengacu pada makna kelompok atau kolektif adalah *para*. Perlu diingat, kata *kaum* dan *umat* juga mengacu pada makna kelompok. Akan tetapi, keduanya tergolong ke dalam nomina, bukan artikula. 

Kemudian, contoh artikula yang menominalkan adalah *si*. Artikula ini dapat membentuk nomina dengan mendahului nama orang, adjektiva, verba, dan pronomina *dia*.

- **Si Budi* baru saja potong rambut.*
- **Si jangkung* itu pandai bermain basket.*
- **Si terdakwa* kabur ke luar negeri.*
- **Si dia* lagi pulang kampung.*

Nyatanya, selain berperan sebagai konjungsi, *yang* pun dapat juga berfungsi sebagai artikula. *Yang* sebagai artikula dapat membentuk frasa nominal dari verba, adjektiva, atau kelas kata lain yang bersifat takrif. Contohnya adalah *yang terhormat, yang hadir, yang berkepentingan; yang kaya, yang miskin, yang putih;* dan *yang pertama, yang ini, yang lain.*

**Partikel Penegas**

Dalam bahasa Indonesia, ada empat partikel penegas, yakni *\-lah*, *\-kah*, *\-tah*, dan *pun*.

- *\-lah*: Partikel ini merupakan bentuk klitik yang sering digunakan dalam kalimat imperatif dan deklaratif.
- *\-kah*: Partikel *\-kah* adalah klitik yang umumnya digunakan dalam kalimat interogatif.
- *\-tah*: Partikel ini mungkin sudah jarang kita temukan. Partikel *\-tah*  sering digunakan dalam kalimat interogatif, tetapi sebetulnya sang penanya tidak menuntut sebuah jawaban.
- *pun:* Berbeda dengan tiga partikel sebelumnya, *pun* bukanlah klitik. Silakan baca artikel tentang partikel *pun* [di sini](https://narabahasa.id/rubrik-gramatika/pun-bisa-bebas-bisa-terikat?ref=coba.narabahasa.id).

 Kata tugas memang tidak memiliki makna leksikal seperti kata-kata di dalam kategori nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Namun, saya rasa, tanpa adanya kata tugas, kelas kata utama dalam bahasa Indonesia akan terasa hambar.

**Rujukan**:

Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. [*Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat*](https://repositori.kemdikbud.go.id/16351/1/Tata%20Bahasa%20Baku%20Bahasa%20Indonesia%20edisi%20keempat.pdf?ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin