> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Jenis-Jenis Perubahan Bunyi
- URL: https://coba.narabahasa.id/jenis-jenis-perubahan-bunyi/
- Published: 2021-01-28T11:00:24.000Z
- Updated: 2021-01-28T11:00:24.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Fonologi, bunyi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Saya sudah pernah menyinggung sedikit mengenai metatesis. Pada artikel “[Bahasa Jaksel](https://narabahasa.id/rubrik-bahasa/bahasa-jaksel?ref=coba.narabahasa.id)”, kata-kata seperti *kuy*, *alig*, dan *sabeb* mengalami metatesis, yakni perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam kata (Kridalaksana, 1984: 123). Tiga contoh di atas mengalami metatesis tanpa perubahan makna. *Kuy* tetap mengartikan *yuk* sebagaimana *alig* dan *sabeb* hanya membalikkan struktur kata *gila* dan *bebas* tanpa mengubah artinya.

Sementara itu, ada pula kata-kata lain yang mengalami metatesis dan perubahan makna. Contohnya adalah *jalur* dan *lajur*, *royal* dan *loyar*, *berantas* dan *banteras*, *ulur* dan *urul*, *kerikil* dan *kelikir*, serta *sapu* dan *usap*. Kridalaksana pun menambahkan contoh kata *rontal* yang sekarang lebih umum disebut sebagai *lontar*.

Perlu diketahui bahwa metatesis hanyalah salah satu jenis perubahan bunyi. Di luar metatesis, ada empat jenis perubahan bunyi lainnya yang dipaparkan Chaer dalam *Fonologi Bahasa Indonesia* (2013). 

**Kontraksi**

Jenis yang pertama disebut sebagai kontraksi atau penyingkatan atau penghilangan. Kontraksi pada awal kata disebut aferesis. Contohnya adalah perubahan kata *upawasa* menjadi *puasa*. Kemudian, kontraksi pada akhir kata disebut apokope seperti kata *pelangit* yang berubah menjadi *pelangi.* Lalu, kontraksi pada tengah kata disebut sebagai sinkope. Contohnya adalah *baharu* yang beralih menjadi *baru.* 

**Diftongisasi**

Diftongisasi adalah proses perubahan vokal tunggal menjadi vokal rangkap secara berurutan (diftong). Contohnya adalah kata *sentosa*. Meskipun bentuk tersebut sudah dibakukan, kita masih sering mengucapkan *sentausa*. Contoh lainnya adalah kata *teladan* yang dilafalkan dengan *tauladan*.

**Monoftongisasi**

Selanjutnya, jenis ketiga, adalah monoftongisasi yang merupakan kebalikan dari diftongisasi. Monoftongisasi adalah perubahan dua buah vokal atau gugus vokal menjadi sebuah vokal. Contohnya adalah *ramai*, *kalau*, dan *satai* yang diucapkan *rame*, *kalo*, dan *sate*. 

**Anaptiksis**

Anaptiksis adalah jenis perubahan bunyi yang terakhir. Di sini, terdapat penambahan bunyi vokal di antara dua konsonan atau penambahan konsonan pada kata tertentu. Terdapat tiga model anaptiksis, yakni protesis, epentesis, dan paragog.

Protesis adalah penambahan bunyi pada awal kata. Contoh:

*mas* \-> *emas*

*mpu -> empu*

*lang -> elang*

Epentesis adalah penambahan bunyi pada tengah kata. Contoh:

*kapak* \-> *kampak*

*sajak* \-> *sanjak*

*upama -> umpama*

Paragog adalah penambahan bunyi pada akhir kata. Contoh:

*hulubala -> hulubalang*

*ina -> inang*

*adi -> adik*

**Rujukan**:

- Chaer, Abdul. 2013\. *Fonologi Bahasa Indonesia*. Jakarta: Rineka Cipta.
- Kridalaksana, Harimurti. 1984\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat.* Jakarta: Gramedia.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin