> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Iya Banget Lagi
- URL: https://coba.narabahasa.id/iya-banget-lagi/
- Published: 2023-10-11T05:08:06.000Z
- Updated: 2026-09-23T12:32:59.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, Sintaksis, kelas kata, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Saya lupa tentang kapan persisnya ungkapan *iya banget lagi* muncul. Namun, saya ingat ungkapan tersebut pertama kali saya dapatkan dari internet. *Iya banget lagi* biasanya muncul untuk menjawab atau merespons sesuatu yang disepakati atau *relate*. Misalnya, seseorang mengirim status, “Secanggih-canggihnya *e-book*, buku fisik tetap di hati. Apalagi kalau buku itu langka.” Kita bisa menggunakan *iya banget lagi* untuk mewakili makna 'setuju' dalam menanggapi cuitan tersebut.

Lambat laun, kata *lagi* makin sering bermunculan, bahkan dalam konteks yang tambah luas. Contohnya adalah *Gue laper banget *lagi**, *Udah telat banget *lagi**, atau *Lagunya enak banget *lagi**. Agaknya, (*banget*) *lagi* menjadi sesuatu yang menjalar dan lumrah untuk diutarakan, terutama oleh anak-anak muda di Jakarta.

Mari kita tengok makna kata *lagi* dalam kamus. [Menurut KBBI](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/lagi?ref=coba.narabahasa.id), *lagi* dapat berperan sebagai adverbia atau partikel. Dalam KBBI, yang dimaksud dengan *partikel* adalah kata tugas.

Sebagai adverbia, kata *lagi* memiliki tiga makna, yakni (1) ‘sedang; masih’; (2) ‘tambah sekian (atau sedemikian) pula’; dan (3) ‘kembali (berbuat dan sebagainya) seperti semula; berulang seperti semula; pula’.

Sementara itu, sebagai partikel, *lagi* mengartikan dua hal. Yang pertama adalah [konjungsi](https://coba.narabahasa.id/content/files/2026/09/preposisi-sekaligus-konjungsi-hingga-sampai-karena-dan-dengan.html) ‘dan; serta; juga’. Sementara itu, yang kedua, *lagi* merupakan ‘partikel yang dipakai untuk menekankan kata atau kalimat yang mendahuluinya’. Untuk yang terakhir ini, *lagi* mengandung arti ‘betul-betul’ dan ‘amat sangat’, seperti pada contoh kalimat *Kemarahan rakyat sudah tidak terbendung lagi*. Dalam contoh tersebut, *lagi* berdiri sebagai penegas.

*Lagi* sebagai partikel yang menegaskan kata sebelumnya, saya lihat, adalah peran yang sering digunakan hari ini. *Iya banget lagi*, *laper banget lagi*, *udah telat banget lagi*, dan berbagai ungkapan sejenis memanfaatkan *lagi* sebagai penegas. Namun, pembubuhan *lagi* pada ungkapan semacam itu membuatnya lewah. Makna ‘amat sangat’ sudah terkandung dalam kata *banget*. Maka, sebetulnya, kata *lagi* tidak dibutuhkan. Apabila *banget* dan *lagi* dipertahankan, sebuah kalimat dapat berbunyi *Gue laper banget amat sangat*. Mubazir, bukan?

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin